Geger Plastik Bening, Pemilik Usaha Makanan Diancam Bintang 1
Ramai pembahasan di Threads menyoal penggunaan plastik bening untuk membungkus makanan. Pemilik usaha ini sampai diancam dapat bintang 1 lewat aplikasi ojol.

Daftar isi: [Hide]
Viral di Media Sosial, Pemilik Usaha Makanan di Surabaya Diancam Pelanggan Gara-gara Kemasan Plastik Bening
Sebuah peristiwa yang melibatkan pemilik usaha kuliner di Surabaya menjadi perbincangan hangat di media sosial. Pemilik usaha yang menjual sate dan nasi di kawasan sentra kuliner Tidar, Surabaya, mengaku mendapat ancaman dari seorang pelanggan hanya karena persoalan kemasan plastik bening. Peristiwa ini pertama kali dibagikan oleh akun Instagram @undercover.id pada Kamis (26/6/2025) dan langsung menuai beragam respons dari warganet.
Kronologi: Pesan Sate dan Nasi, Minta Dibungkus Plastik Bening
Berdasarkan keterangan yang diunggah akun @undercover.id dan dikutip pada Jumat (27/6/2025), peristiwa tersebut terjadi di salah satu sentra kuliner di daerah Tidar, Surabaya. Kejadian bermula ketika seorang pembeli datang ke kedai tersebut dan memesan satu porsi nasi beserta sate. Saat melakukan transaksi, pembeli secara khusus meminta agar makanan yang dibelinya dibungkus menggunakan plastik bening.
Masalah muncul ketika pembeli melihat makanan yang telah dibungkus ternyata menggunakan plastik hitam, bukan plastik bening seperti yang diminta. Pembeli tersebut lantas merasa tidak terima dan meminta agar kemasannya segera diganti. Tidak hanya itu, ia juga mengancam akan memviralkan pedagang apabila permintaannya tidak segera dipenuhi.
“Pelanggan minta diganti pakai plastik bening, tapi penjual menjelaskan kalau plastik hitam yang dia pakai sebenarnya food grade dan aman untuk makanan. Pelanggan tetap ngotot dan minta diganti,” demikian keterangan yang ditulis oleh akun @undercover.id dalam unggahannya.
Penjual Memilih Mengalah Demi Kelancaran Usaha
Menghadapi situasi yang semakin memanas, pemilik usaha makanan itu akhirnya memilih untuk mengalah dan mengganti kemasan plastik hitam dengan plastik bening sesuai permintaan pelanggan. Meski demikian, ia mengaku kapok dan tidak ingin lagi menggunakan plastik hitam untuk membungkus dagangannya, kendati plastik yang selama ini dipakainya sudah berlabel food grade dan terbilang aman untuk makanan.
“Daripada berurusan sama pelanggan yang ribet, penjual memilih mengganti pakai plastik bening. Tapi, dia kapok dan nggak mau lagi pakai plastik hitam, walaupun sebenarnya plastiknya food grade,” ujar akun tersebut dalam keterangannya.
Penjelasan Pemilik Usaha: Plastik yang Dipakai Sudah Food Grade
Pemilik usaha makanan yang menjadi pusat perhatian tersebut enggan disebutkan namanya saat dikonfirmasi secara terpisah oleh media. Namun, ia menegaskan bahwa plastik yang digunakan selama ini merupakan plastik food grade dan aman untuk mengemas makanan. Ia menduga pelanggannya kurang memahami perbedaan antara plastik food grade dengan plastik daur ulang atau plastik bekas yang kerap dianggap tidak layak untuk mengemas makanan.
“Saya pakai plastik food grade, cuma warnanya hitam. Mungkin pelanggan kurang paham, jadi mengira plastik hitam itu bekas atau tidak aman. Padahal ini khusus buat makanan,” ujarnya saat ditemui di lokasi pada Jumat (27/6/2025).
Ia juga menjelaskan bahwa insiden tersebut sebenarnya terjadi pada Rabu (25/6/2025) sekitar pukul 19.30 WIB. Meski sempat menjadi sorotan publik, ia memilih untuk tidak memperpanjang persoalan karena menilai kejadian itu hanyalah sebuah kesalahpahaman.
“Saya sudah ganti pakai plastik bening, biar pelanggan nyaman. Yang penting dagangan laku, tidak perlu diperpanjang,” pungkasnya.
Reaksi Warganet Terbelah
Unggahan tentang peristiwa ini pun memicu perdebatan di kalangan warganet. Sebagian besar menyayangkan sikap pelanggan yang dinilai memaksakan kehendak dan kurang memahami karakteristik kemasan makanan. Sebagian lainnya justru membenarkan kekhawatiran pelanggan, dengan alasan plastik hitam kerap diasosiasikan dengan bahan daur ulang yang berisiko jika digunakan untuk makanan panas.
“Padahal plastik hitam itu kalau buat makanan panas bisa berbahaya kalau bukan food grade. Tapi kalau sudah food grade, ya seharusnya aman,” tulis seorang warganet di kolom komentar.
“Yang penting food grade sebenarnya. Tapi banyak yang belum paham, makanya pada takut. Padahal sudah ada label food grade-nya,” tulis warganet lainnya.
Memahami Istilah Food Grade pada Kemasan Plastik
Perdebatan yang muncul di media sosial menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami secara utuh konsep plastik food grade. Padahal, pemahaman ini cukup penting, baik bagi pelaku usaha kuliner maupun konsumen pada umumnya.
Plastik food grade adalah plastik yang telah memenuhi standar keamanan untuk kontak langsung dengan makanan. Di Indonesia, kemasan makanan seharusnya memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Standar Nasional Indonesia (SNI). Plastik food grade tidak mengandung bahan berbahaya seperti logam berat, zat pewarna non-pangan, atau bahan kimia yang dapat bermigrasi ke dalam makanan, terutama ketika bersentuhan dengan makanan panas atau berlemak.
Warna plastik sebenarnya bukanlah indikator utama keamanannya. Plastik hitam bisa saja berstatus food grade jika diproduksi secara khusus dengan pigmen yang diizinkan untuk kemasan pangan. Sebaliknya, plastik bening belum tentu aman jika tidak memenuhi standar food grade. Yang membedakan adalah komposisi bahan baku, proses produksi, serta izin edar dari otoritas terkait.
Meski demikian, kekhawatiran konsumen terhadap plastik hitam tidak sepenuhnya tanpa dasar. Di lapangan, banyak plastik hitam yang beredar merupakan hasil daur ulang dari limbah plastik yang tidak diketahui asal-usulnya. Plastik daur ulang semacam ini sering kali mengandung kontaminan dan zat berbahaya, sehingga tidak layak digunakan sebagai kemasan makanan, terutama untuk makanan bersuhu tinggi.
Dampak bagi Pelaku Usaha Kecil
Peristiwa di Surabaya ini menjadi pengingat bahwa tekanan dari konsumen dapat berdampak langsung pada keputusan operasional pelaku usaha, khususnya usaha mikro dan kecil. Ancaman untuk memviralkan perbuatan pedagang atau memberikan penilaian buruk seperti bintang satu kini menjadi kekhawatiran tersendiri di kalangan pedagang. Dalam ekosistem bisnis yang sangat bergantung pada reputasi daring, satu ulasan negatif dapat memengaruhi pendapatan secara signifikan.
Di sisi lain, insiden seperti ini juga menunjukkan pentingnya edukasi berkelanjutan kepada masyarakat tentang keamanan pangan. Konsumen berhak meminta kemasan yang aman, tetapi pemahaman yang keliru justru bisa memicu konflik yang tidak perlu. Komunikasi yang baik antara penjual dan pembeli, disertai dengan transparansi mengenai jenis kemasan yang digunakan, dapat menjadi kunci untuk mencegah kesalahpahaman serupa di masa mendatang.
Hingga berita ini ditulis, unggahan @undercover.id masih menjadi perbincangan dan terus mendapatkan komentar baru dari warganet. Sementara itu, pemilik usaha makanan di kawasan Tidar tersebut memilih untuk melanjutkan usahanya dengan menggunakan plastik bening demi kenyamanan pelanggannya, sembari berharap kejadian serupa tidak kembali terulang.








