Camilan Berbentuk Tugas Sekolah Viral, Pelajar China Justru Stres

Pelajar di China mengonsumsi camilan berbentuk tugas sekolah untuk meredakan stres. Namun, keamanan konsumsi camilan ini mulai dipertanyakan.

Camilan Berbentuk Tugas Sekolah Viral, Pelajar China Justru Stres

Di China, sebuah tugas sekolah berubah menjadi fenomena bisnis kuliner yang menarik perhatian publik. Tugas tersebut adalah membuat video memasak, yang awalnya diberikan guru sebagai bagian dari pembelajaran keterampilan praktis. Namun, bagi sejumlah pelajar, tugas ini justru berkembang menjadi peluang usaha yang menguntungkan sekaligus memicu tekanan baru di kalangan siswa.

Dilansir dari South China Morning Post (SCMP), seorang siswa yang dikenal dengan nama Zhang menjadi salah satu contoh paling menonjol dari fenomena ini. Zhang awalnya hanya menjalankan kewajiban sekolah dengan merekam dirinya sedang memasak. Video yang ia unggah kemudian viral di media sosial, dan permintaan pun mengalir dari teman-teman sekolahnya yang ingin mencicipi masakannya. Dari situ, Zhang mulai menerima pesanan makanan secara rutin.

Bisnis katering rumahan Zhang berkembang pesat dalam waktu singkat. Ia kini melayani puluhan pesanan setiap hari dengan menu yang bervariasi, mulai dari ayam goreng, nasi goreng, hingga mie instan. Zhang mengaku dapat menghasilkan sekitar 1.000 yuan atau setara Rp 2,2 juta per hari dari usaha kateringnya. Ia memanfaatkan waktu luang setelah pulang sekolah untuk memasak dan mengantar pesanan ke pelanggannya.

Fenomena ini tidak hanya dialami Zhang. Banyak pelajar lain di China juga memanfaatkan tugas memasak untuk menghasilkan uang. Mereka menawarkan jasa memasak kepada teman-teman sekolah dengan harga yang terjangkau, sehingga terbentuk semacam pasar kuliner kecil di lingkungan sekolah. Tren ini muncul karena para pelajar menginginkan makanan rumahan yang lebih sehat dan murah dibandingkan makanan kantin atau restoran cepat saji. Selain itu, tugas memasak yang diberikan guru menjadi motivasi tambahan untuk mengasah kemampuan kuliner mereka.

Meski demikian, fenomena ini menuai kritik dari sejumlah pihak. Kekhawatiran utama adalah bahwa bisnis ini berpotensi mengganggu waktu belajar para pelajar. Ada pula yang menilai bahwa tugas sekolah seharusnya menjadi sarana pembelajaran, bukan ajang mencari keuntungan. Namun, bagi Zhang dan pelajar lainnya, bisnis ini justru menjadi pelajaran berharga tentang kewirausahaan dan manajemen waktu. Mereka belajar mengatur jadwal antara sekolah, memasak, dan mengantar pesanan, sekaligus memahami dasar-dasar bisnis seperti penetapan harga, pelayanan pelanggan, dan pengelolaan keuangan.

Fenomena ini juga mencerminkan dinamika pendidikan di China yang semakin mendorong praktik keterampilan hidup. Tugas membuat video memasak, yang semula bertujuan melatih kemandirian dan kreativitas, ternyata membuka ruang bagi siswa untuk mengembangkan jiwa wirausaha sejak dini. Di sisi lain, muncul pertanyaan tentang batas antara pembelajaran dan komersialisasi, serta bagaimana sekolah dan orang tua menyikapi perkembangan ini.

Dengan viralnya kisah Zhang dan pelajar lain, publik di China mulai berdiskusi tentang potensi dan risiko dari tren serupa. Sebagian melihatnya sebagai inovasi positif yang membekali siswa dengan keterampilan praktis dan pengalaman nyata. Sebagian lain mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan agar tugas sekolah tidak berubah menjadi beban tambahan yang justru meningkatkan stres di kalangan pelajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

A+ A-
Kuliner Jawa

Live Search