Intip Serunya Rina Nose Makan Cantik hingga Masak Jengkol!

Artis Rina Nose sering membagikan keseruannya saat kulineran hingga masak-masak. Mulai dari makan-makan cantik di restoran hingga masak jengkol di dapur.

Intip Serunya Rina Nose Makan Cantik hingga Masak Jengkol!

JAKARTA, 6 AGUSTUS 2026 – Dunia hiburan Tanah Air tidak hanya diwarnai oleh aksi panggung dan penampilan seni dari para selebriti, tetapi juga kisah keseharian mereka yang sering memikat perhatian publik. Salah satu sosok publik figur yang senantiasa mencuri perhatian lewat gaya hidupnya yang unik dan menghibur adalah Nurina Permata Putri, atau yang lebih dikenal luas dengan nama panggung Rina Nose. Artis serba bisa yang dikenal sebagai presenter, komedian, dan penyanyi ini secara konsisten membagikan ragam aktivitas kulinernya melalui saluran media sosial pribadi. Dari sesi santap elegan atau “makan cantik” di berbagai restoran papan atas hingga momen turun langsung ke dapur untuk mengolah bahan makanan tradisional beraroma tajam seperti jengkol, aktivitas kuliner Rina Nose selalu berhasil menyedot perhatian netizen dan penggemarnya.

Kehadiran Rina Nose di jagat hiburan Indonesia memang dikenal dengan fleksibilitas dan keterbukaannya. Kemampuannya dalam melakukan impersonasi berbagai tokoh serta selera humornya yang spontan berbanding lurus dengan pendekatan gaya hidupnya yang tidak kaku. Dalam hal selera makanan, Rina menunjukkan spektrum pilihan yang sangat luas. Ia tidak ragu untuk menikmati hidangan berkelas di tempat-tempat bernuansa estetis, namun di saat yang sama tetap bangga dan mahir mengolah makanan khas nusantara yang sering kali dianggap merakyat. Keseimbangan antara gaya hidup modern dan kecintaannya pada kuliner lokal inilah yang membuat konten kulinernya terasa sangat autentik dan relevan bagi berbagai kalangan penikmat kuliner di Indonesia.

Aktivitas “makan cantik” yang kerap ditampilkan oleh Rina Nose merujuk pada pengalaman bersantap di tempat-tempat kuliner yang menawarkan suasana estetis, keindahan penyajian hidangan (plating), serta konsep kafe atau restoran yang modern. Fenomena “makan cantik” telah menjadi bagian dari gaya hidup perkotaan masa kini, di mana pengalaman kuliner tidak lagi sekadar mengenai pemenuhan kebutuhan nutrisi, melainkan juga menyangkut rekreasi visual, apresiasi seni tata boga, serta sarana bersosialisasi.

Saat melakukan eksplorasi tempat makan bernuansa elegan, Rina kerap membagikan sudut pandangnya mengenai cita rasa makanan modern, gaya dekorasi interior restoran, hingga atmosfer yang ditawarkan. Hidangan yang dinikmati dalam momen “makan cantik” ini bervariasi, mulai dari menu khas Barat seperti steak dan pasta, sajian ala Jepang, hingga hidangan fusion yang memadukan teknik memasak modern dengan bahan-bahan lokal. Penampilan busana yang rapi dan serasi dengan suasana restoran menambah kesan anggun, menciptakan narasi visual yang kontras namun menarik apabila dibandingkan dengan aktivitas kulinernya di ruang dapur rumah.

Berbeda secara dramatis dari momen “makan cantik”, aksi Rina Nose saat berada di dapur rumah menunjukkan sisi lain yang sangat membumi. Salah satu hidangan yang menarik perhatian adalah kemampuannya dalam mengolah jengkol (Archidendron pauciflorum). Jengkol merupakan salah satu bahan makanan khas Indonesia yang dikenal memiliki posisi unik dalam lanskap kuliner nasional. Bahan pangan ini kerap memicu polarisasi di kalangan masyarakat; sebagian orang sangat menggemarinya karena teksturnya yang empuk dan rasanya yang gurih, sementara sebagian lainnya menghindarinya akibat aroma menyengat yang ditimbulkan.

Proses Rina Nose mengolah jengkol di dapur diwarnai dengan interaksi yang santai dan sesekali diselingi humor khasnya. Menyiapkan jengkol membutuhkan keterampilan teknis tersendiri agar menghasilkan tekstur empuk dan meminimalkan aroma yang terlalu tajam. Langkah-langkah tradisional seperti merendam jengkol dalam air bersih atau air beras selama beberapa waktu, merebusnya bersama dedaunan aromatik seperti daun salam, daun jeruk, serta serai, hingga proses merebus berulang kali merupakan bagian dari teknik yang umum diterapkan untuk menetralisir bau khas bahan tersebut.

Jengkol memiliki sejarah panjang dalam tradisi memasak di berbagai wilayah Indonesia, khususnya di kalangan masyarakat Sunda, Betawi, dan Minangkabau. Bahan makanan ini dapat diolah menjadi berbagai macam variasi masakan tradisional yang kaya akan bumbu dan rempah-rempah:

Semur Jengkol: Olahan khas Betawi dan Sunda ini memadukan jengkol yang telah dimemarkan (digeplak) dengan kuah kecap manis bertabur rempah-rempah seperti cengkeh, kayu manis, pala, dan kemiri. Hasilnya adalah hidangan dengan cita rasa manis, gurih, dan bumbu yang meresap hingga ke bagian dalam.

Rendang Jengkol: Mengadaptasi teknik memasak rendang khas Minangkabau, jengkol dimasak dalam santan kelapa pekat bersama bumbu rempah komplit selama berjam-jam hingga minyak kelapa keluar dan bumbu menjadi karamel berwarna cokelat tua. Tekstur jengkol dalam rendang menjadi sangat empuk dan kaya rasa.

Balado Jengkol: Menggunakan bumbu balado khas Sumatra Barat yang didominasi oleh cabai merah, bawang merah, dan tomat. Jengkol digoreng terlebih dahulu sebelum ditumis bersama sambal balado, menghasilkan perpaduan rasa pedas, gurih, dan sedikit asam segar.

Gulai Jengkol: Variasi olahan bersantan lainnya yang kaya akan bumbu kuning seperti kunyit, jahe, lengkuas, dan serai. Gulai jengkol sering ditemui dalam warung makan Padang dan menjadi salah satu menu favorit pengunjung.

Secara ilmiah, jengkol mengandung berbagai zat gizi yang bermanfaat bagi tubuh apabila dikonsumsi dalam jumlah yang tepat dan diolah dengan benar. Jengkol kaya akan protein, serat makanan, zat besi, kalsium, fosfor, serta vitamin A dan vitamin B. Kandungan zat besi yang tinggi menjadikan jengkol baik untuk membantu pembentukan sel darah merah dan mencegah anemia. Selain itu, kandungan seratnya yang tinggi berkontribusi positif terhadap kesehatan sistem pencernaan.

Namun demikian, konsumsi jengkol juga memerlukan pemahaman mengenai bahaya asam jengkolat (jengkolic acid). Asam jengkolat adalah jenis asam amino yang mengandung belerang dan dapat mengristal di dalam ginjal atau saluran kemih jika dikonsumsi secara berlebihan atau dalam kondisi tubuh kekurangan cairan. Kondisi ini secara medis dikenal sebagai kejengkolan atau jengkolic acid nephropathy, yang ditandai dengan gejala nyeri pinggang, kesulitan buang air kecil, hingga hematuria (darah dalam urine). Oleh karena itu, pengolahan yang tepat melalui perendaman dan perebusan matang, serta konsumsi air putih yang cukup, sangat dianjurkan untuk menekan risiko kristalisasi asam jengkolat.

Fenomena membagikan momen kuliner oleh tokoh publik seperti Rina Nose memberikan dampak signifikan terhadap cara masyarakat memandang makanan lokal dan modern. Pembawaan Rina yang jujur dan apa adanya memperlihatkan bahwa apresiasi terhadap kebudayaan makanan tidak harus dibatasi oleh status sosial atau gengsi semata. Kemampuannya menikmati makanan kelas atas di restoran mewah sekaligus menikmati olahan jengkol tradisional mencerminkan keterbukaan kuliner yang makin berkembang di era digital.

Konten-konten semacam ini juga turut mendongkrak popularitas bahan pangan lokal yang terkadang dipandang sebelah mata. Dengan memperlihatkan proses memasak secara transparan dan menyenangkan, artis seperti Rina Nose secara tidak langsung melestarikan warisan resep tradisional dan mendorong generasi muda untuk tetap mencintai makanan khas nusantara tanpa ragu mengolahnya sendiri di rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

A+ A-
Kuliner Jawa

Live Search