5 Coto Makassar Legendaris di Jakarta, Gurih dan Autentik!
Coto Makassar berkuah gurih hangat dengan paduan daging dan jeroan menjadi salah satu jenis soto populer. Di Jakarta ada beberapa tempat makan legendaris lho!

Daftar isi: [Hide]
Coto Makassar merupakan salah satu kuliner tradisional kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan yang telah lama memperkaya khazanah boga di berbagai penjuru nusantara, termasuk di ibu kota. Hidangan berkuah kaya rempah ini menyajikan potongan daging sapi serta aneka jeroan yang direbus perlahan bersama puluhan macam bumbu aromatik. Ciri pembeda paling nyata dari hidangan ini terletak pada penggunaan kacang tanah sangrai yang dihaluskan ke dalam kuah kaldu, menciptakan perpaduan rasa gurih pekat, tekstur kental yang lembut, serta aroma rempah yang harum.
Bagi warga Jakarta maupun penikmat kuliner tradisional per Jumat, 25 September 2026, mencari semangkuk coto Makassar bercita rasa orisinal bukanlah perkara sulit. Di tengah pesatnya perkembangan industri kuliner modern, sejumlah kedai coto Makassar legendaris di Jakarta tetap konsisten melestarikan resep warisan leluhur. Kedai-kedai ini menggunakan teknik perebusan tradisional dan racikan bahan baku bermutu tinggi, menjadikannya rujukan utama bagi siapa pun yang merindukan cita rasa otentik khas Makassar.
1. Coto Makassar Senen Syamsul Daeng Ngawing
Berlokasi di kawasan sentral Pasar Senen, Jakarta Pusat, Coto Makassar Syamsul Daeng Ngawing telah lama menempati posisi istimewa di hati para pemburu kuliner malam dan perantau asal Indonesia Timur. Warung makan yang telah melayani pelanggan selama puluhan tahun ini menjadi salah satu representasi paling autentik dari hidangan khas tanah Daeng di Jakarta.
Kuah coto di tempat ini terkenal dengan tingkat kekentalan yang pas, warna kuah kecokelatan yang pekat, serta konsistensi kaldu yang sarat akan sari pati daging sapi dan kacang tanah sangrai. Keunggulan aromanya berakar pada teknik menumis bumbu rempah seperti serai, kayu manis, ketumbar, dan lengkuas yang diolah secara presisi sehingga tidak meninggalkan rasa getir.
Pilihan isiannya tergolong sangat komprehensif. Pengunjung dapat meminta porsi yang hanya berisi daging has dalam tanpa lemak, maupun mencampurnya dengan beragam potongan jeroan seperti lidah, jantung, babat handuk, babat putih, usus, serta paru. Salah satu sajian pelengkap yang paling diminati di warung ini adalah paru goreng yang memiliki tekstur renyah di luar namun tetap lembut di dalam. Seporsi coto disajikan panas-panas dalam mangkuk tembikar atau mangkuk porselen khas, ditaburi rajangan daun bawang segar dan bawang merah goreng renyah, lalu dinikmati bersama ketupat daun kelapa atau buras gurih.
2. Coto Makassar Ampera Daeng Memang
Beralih ke kawasan Jakarta Selatan, tepatnya di sepanjang Jalan Ampera Raya, Coto Makassar Daeng Memang berdiri sebagai salah satu destinasi kuliner legendaris yang selalu dipadati pengunjung. Tempat makan ini mempertahankan reputasi rasa yang konsisten berkat pemilihan daging lokal segar serta kepatuhan penuh pada tata cara masak tradisional.
Karakteristik kuah di Coto Makassar Daeng Memang memiliki profil rasa gurih yang dominan dengan sentuhan rempah yang tidak terlalu tajam, menjadikannya sangat ramah bagi lidah masyarakat umum maupun penikmat pemula coto Makassar. Kaldu sapi yang dimasak dalam durasi panjang menghasilkan rasa dasar yang dalam dan menyatu dengan kehalusan gilingan kacang tanah.
Potongan daging yang disajikan berukuran cukup tebal dan memiliki tekstur empuk. Kedai ini juga memperhatikan standar kebersihan dan pengolahan jeroan dengan sangat ketat, memastikan organ seperti babat dan usus dibersihkan secara menyeluruh sehingga bebas dari aroma langu. Di atas meja santap, tersaji piring-piring berisi buras bersantan yang dibungkus daun pisang, siap dipotong dan dimasukkan ke dalam kuah panas. Selain menu coto, kedai ini menyediakan hidangan penutup klasik Makassar seperti es pisang ijo dan es pallu butung yang disajikan dengan sirup pisang ambon serta bubur sumsum manis.
3. Coto Makassar Mamink Daeng Tata
Bagi masyarakat yang kerap melintasi kawasan Tebet dan Jalan KH Abdullah Syafei, nama Coto Makassar Mamink Daeng Tata tentu sudah tidak asing lagi. Rumah makan ini merupakan salah satu pelopor yang mempopulerkan aneka santapan khas Sulawesi Selatan dalam skala restoran keluarga yang luas dan nyaman di Jakarta.
Kuah coto racikan Daeng Tata dikenal memiliki karakteristik kaldu yang pekat, berminyak alami dari lemak kaldu sapi, serta bertabur aroma lada dan pala yang memberikan rasa hangat di tenggorokan. Daging sapi dan jeroan direbus terpisah menggunakan bumbu rempah khusus sebelum disatukan kembali dalam mangkuk penyajian bersama kuah kacang mendidih, menghasilkan tekstur daging yang tetap kenyal namun mudah dipotong menggunakan sendok.
Selain coto dengan isian komplit seperti daging sapi, otak, hati, dan limpa, tempat makan ini juga menyajikan hidangan ikonik lainnya seperti konro bakar bumbu kacang dan sop konro kuah kluwek hitam. Kedekatan cita rasa antara bumbu kacang pada konro bakar dan kuah coto Makassar di kedai ini menciptakan pengalaman kuliner khas Bugis-Makassar yang utuh dan memuaskan.
4. Warung Coto Makassar Paregu
Warung Coto Makassar Paregu yang beroperasi di wilayah Matraman dan Rawamangun, Jakarta Timur, adalah representasi dari kedai kuliner bersahaja yang mengandalkan keunggulan rasa murni. Warung ini mempertahankan penggunaan wadah tradisional dalam menampung kuah coto yang dipanaskan di atas api konstan sepanjang hari.
Salah satu daya tarik utama dari Coto Makassar Paregu adalah kuahnya yang memanfaatkan perpaduan kaldu sumsum sapi pekat dan air cucian beras pertama atau tajin. Teknik tradisional ini menghasilkan konsistensi kuah yang kental secara alami, melengkapi gurihnya kacang tanah tanpa membuat kuah terasa terlalu berat di lambung. Rempah-rempah seperti jintan, serai geprek, dan jahe berpadu menghasilkan aroma harum yang khas sejak suapan pertama.
Potongan daging sapi di Warung Paregu dipotong berbentuk dadu dengan takaran yang melimpah. Tekstur jeroannya matang sempurna tanpa menjadi liat. Setiap meja dilengkapi dengan aneka wadah pelengkap, termasuk sambal cabai rawit merah pedas, garam, serta botol kecap manis produksi lokal Makassar yang memiliki rasa karamel gurih yang khas.
5. Coto Makassar Daeng Kasim
Coto Makassar Daeng Kasim di kawasan Jakarta Pusat menawarkan kesederhanaan warung makan tradisional dengan mutu hidangan kelas satu. Kedai ini telah lama menjadi tempat rujukan makan siang bagi pekerja perkantoran serta para pencari kuliner legendaris yang menghargai cita rasa autentik tanpa kompromi.
Kekhasan dari coto racikan Daeng Kasim bertumpu pada tekstur kacang tanah sangrai yang tidak ditumbuk hingga menjadi bubuk halus, melainkan sengaja disisakan berupa serpihan-serpihan kecil yang memberikan tekstur unik saat dinikmati. Kaldunya terasa ringan namun kaya rasa kaldu alami daging sapi, diperkuat oleh tumisan bawang merah, bawang putih, dan daun salam yang harum.
Pengunjung bebas memesan komposisi mangkuk coto sesuai preferensi masing-masing, baik porsi daging murni, campuran jeroan lunak, maupun kombinasi paru kering yang garing. Keberadaan potongan jeruk nipis lokal berair melimpah di setiap meja memungkinkan pengunjung untuk mengatur sendiri tingkat keasaman kuah guna mengimbangi kekayaan rasa rempah coto.
Anatomi Rempah dan Tradisi Kuliner Coto Makassar
Eksistensi coto Makassar yang mampu bertahan melintasi zaman tidak lepas dari kedalaman tradisi kulinernya yang diperkirakan telah berkembang sejak masa kejayaan Kesultanan Gowa pada abad ke-16. Pada mulanya, sajian berbahan daging has dalam sapi disajikan secara eksklusif bagi kalangan bangsawan istana, sementara potongan jeroan diolah oleh juru masak rakyat jelata dengan bumbu rempah melimpah agar menghasilkan hidangan yang bernilai sama lezatnya. Seiring waktu, penggabungan seluruh elemen sapi tersebut justru melahirkan racikan coto yang kaya tekstur seperti yang dikenal hari ini.
Fondasi kelezatan coto Makassar terletak pada racikan bumbu kompleks yang dalam istilah tradisional dikenal dengan konsep “ampah patangpulu” atau perpaduan puluhan bumbu. Racikan ini mencakup ketumbar, jintan, pala, cengkih, kayu manis, daun serai, jahe, lengkuas, daun salam, bawang merah, bawang putih, kemiri, serta lada putih. Bumbu-bumbu tersebut disangrai dan dihaluskan secara teratur, kemudian ditumis hingga tanak sebelum dimasukkan ke dalam rebusan kaldu daging sapi. Penambahan kacang tanah sangrai halus berfungsi ganda sebagai pengental alami sekaligus penyeimbang aroma rempah tajam, menghasilkan tekstur kuah berlemak nabati yang gurih tanpa menggunakan santan kelapa.
Dimensi kenikmatan menyantap coto Makassar juga sangat ditentukan oleh makanan pokok pendampingnya, yakni buras atau ketupat pandan. Buras dibuat dari beras yang dimasak setengah matang bersama santan kental dan sedikit garam, dibungkus daun pisang berlapis dengan teknik lipatan khusus, lalu diikat kencang menggunakan tali sebelum direbus berjam-jam. Proses pemasakan yang panjang ini menghasilkan tekstur buras yang lembut, beraroma daun pisang layu yang wangi, serta berasa gurih legit yang menyerap kuah coto dengan sempurna.
Tata cara menikmati coto Makassar di meja makan turut melibatkan ritual peracikan rasa secara personal. Pengunjung biasanya menambahkan sambal taoco yang dibuat dari cabai rawit pedas dan fermentasi kedelai beraroma sedap, perasan jeruk nipis segar untuk memotong rasa lemak berlebih, serta sedikit garam kasar atau kecap manis sesuai selera individu. Hidangan yang selalu disajikan dalam kondisi mengepul panas ini memberikan paduan sensasi asam, gurih, asin, dan pedas yang berpadu utuh dalam setiap sendokan kaldu daging.








