Viral! Steak Disajikan Lewat Jendela Apartemen
Restoran steak ini mendadak viral karena cara penyajian menunya tak biasa. Tanpa ruang makan, pesanan pelanggan justru diturunkan dari jendela apartemen!

Viral! Restoran Steak di Singapura Jualan dari Jendela Apartemen, Begini Konsep Uniknya
Di tengah persaingan restoran steak yang umumnya menawarkan tempat makan mewah dengan interior elegan dan pelayanan penuh, sebuah restoran di Singapura justru memilih pendekatan yang sama sekali berbeda. Restoran ini tidak memiliki ruang makan, tidak punya meja reservasi, dan tidak menyediakan kursi untuk pelanggan. Sebaliknya, seluruh transaksi dan penyajian makanan dilakukan dari sebuah jendela unit apartemen. Konsep yang tidak lazim inilah yang kemudian membuat nama restoran tersebut melambung di media sosial dan menjadi perbincangan hangat warganet.
Dilansir dari Mothership pada 28 Mei 2025, restoran yang diberi nama Kiss My Steak ini beroperasi dari jendela sebuah unit apartemen HDB di kawasan Jurong West, Singapura. HDB atau Housing and Development Board merupakan skema perumahan publik yang dikelola pemerintah Singapura, tempat tinggal bagi sebagian besar warga negara tersebut. Berjualan dari jendela unit hunian seperti ini tentu bukan pemandangan yang biasa, terutama untuk jenis usaha kuliner yang identik dengan citra premium seperti steak. Justru karena keunikan itulah, Kiss My Steak cepat menarik perhatian publik dan menjadi viral di berbagai platform media sosial.
Pemilik Kiss My Steak, seorang pria bernama Faizal, mengungkapkan bahwa ide berjualan dari jendela apartemen muncul bukan dari perencanaan bisnis yang matang, melainkan dari keterbatasan modal untuk menyewa tempat usaha. Ia memulai usaha ini pada Februari 2025 dengan sumber daya yang sangat terbatas. Dalam wawancaranya, Faizal menjelaskan bahwa ia tidak memiliki dana besar untuk menyewa ruko atau kios, sehingga muncul gagasan untuk memanfaatkan jendela rumahnya sebagai titik penjualan. “Saya tidak punya modal besar untuk menyewa tempat. Jadi saya pikir, kenapa tidak memanfaatkan jendela rumah saja,” kata Faizal, seperti dikutip dari Mothership.
Meski beroperasi dari jendela apartemen yang sederhana, menu yang ditawarkan Kiss My Steak terbilang cukup beragam dan tidak kalah dari restoran steak konvensional. Pelanggan dapat memilih steak daging sapi, steak ayam, hingga salmon. Dari segi harga, menu-menu tersebut dibanderol dengan tarif yang terjangkau, mulai dari SGD 8 atau setara sekitar Rp 95 ribu. Harga ini tergolong kompetitif untuk ukuran Singapura, di mana biaya makan di restoran umumnya jauh lebih tinggi. Kombinasi antara konsep unik dan harga yang ramah di kantong inilah yang tampaknya menjadi daya tarik utama bagi pelanggan.
Sistem pemesanan di Kiss My Steak juga dirancang sederhana dan memanfaatkan teknologi komunikasi sehari-hari. Pelanggan yang ingin membeli harus memesan terlebih dahulu melalui aplikasi WhatsApp. Setelah pesanan selesai dimasak dan siap, pelanggan akan dihubungi kembali untuk mengambil pesanan langsung di jendela apartemen tersebut. Dengan demikian, tidak ada proses makan di tempat, dan seluruh interaksi antara penjual dan pembeli terjadi secara singkat di depan jendela unit hunian.
Sejak usahanya viral di media sosial, Faizal mengaku kewalahan menerima lonjakan pesanan yang datang dari berbagai kalangan. Banyak orang penasaran dan ingin mencoba langsung steak buatannya setelah melihat unggahan yang tersebar luas di internet. Karena ia mengerjakan seluruh proses sendiri, mulai dari belanja bahan, memasak, hingga melayani pengambilan pesanan, Faizal terpaksa membatasi jumlah pesanan harian agar kualitas dan ketepatan waktu tetap terjaga. “Saya hanya bisa menerima sekitar 20 pesanan per hari. Itu sudah maksimal karena saya kerjakan sendiri,” ujarnya.
Meski demikian, Faizal bersyukur atas respons positif yang diberikan warga sekitar terhadap usahanya. Banyak pelanggan yang datang bukan semata-mata untuk membeli steak, tetapi juga untuk melihat langsung bagaimana ia memasak dari balik jendela apartemen. Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam dunia kuliner, keunikan konsep dan cerita di balik sebuah usaha dapat menjadi nilai jual tersendiri yang mampu menarik perhatian publik, bahkan tanpa modal besar untuk promosi. “Banyak yang bilang ini konsep yang unik. Mereka datang bukan hanya untuk makan, tapi juga ingin melihat langsung bagaimana saya memasak dari jendela,” tutup Faizal.
Kisah Kiss My Steak menjadi contoh bagaimana keterbatasan bisa mendorong lahirnya ide kreatif yang justru menjadi pembeda di tengah pasar yang kompetitif. Di saat banyak pelaku usaha kuliner berlomba menyewa lokasi strategis dan menata interior semewah mungkin, Faizal membuktikan bahwa jendela apartemen pun bisa menjadi etalase yang efektif, asalkan konsepnya dikemas dengan cara yang menarik dan autentik. Bagi warga Jurong West dan sekitarnya, jendela unit HDB itu kini bukan sekadar lubang angin, melainkan sebuah tujuan kuliner yang layak dikunjungi.








