Viral! Gultik TikToker Nadshav, Antre 30 Menit, Seporsi Rp15 Ribu
Gultik milik seleb TikTok Nadya Shavira ini bikin pembeli rela antre 30 menit. Seporsinya mulai Rp15.000 dengan kuah lekoh dan aneka sate-satean yang enak.

Gultik Milik TikToker Nadshav Viral, Pembeli Rela Antre 30 Menit demi Seporsi Rp15 Ribu
Fenomena kuliner yang viral di media sosial kembali mencuri perhatian publik. Kali ini, sebuah gerobak gultik atau gulai tikungan milik kreator TikTok Nadya Shavira, yang akrab disapa Nadshav, menjadi buah bibir warganet. Kabar ini ramai diperbincangkan pada akhir pekan ini, tepatnya di Hari Minggu (30/8/2026), seiring beredarnya foto dan video yang memperlihatkan pembeli rela mengantre panjang demi mencicipi seporsi gultik yang disebut-sebut memiliki cita rasa istimewa.
Berdasarkan laporan yang tayang di kanal kuliner Detik.com, gultik milik Nadshav ini berhasil membuat pembeli rela menunggu hingga 30 menit lamanya. Antrean panjang tersebut dinilai sepadan dengan rasa yang ditawarkan. Seporsi gultik dibanderol mulai dari Rp15.000 saja, sebuah harga yang tergolong ramah di kantong untuk ukuran kuliner kekinian di Jakarta. Yang membuat penikmatnya semakin ketagihan adalah kuahnya yang kental dan lekat, atau dalam istilah lokal disebut “lekoh”, serta aneka sate-satean yang disajikan sebagai pelengkap.
Mengenal Gultik, Kuliner Legendaris yang Kembali Naik Daun
Gultik, singkatan dari gulai tikungan, sebenarnya bukanlah makanan asing bagi lidah masyarakat Jakarta. Istilah ini merujuk pada gerobak atau warung gulai yang biasa berjualan di tikungan-tikungan jalan. Berbeda dengan gulai pada umumnya yang disajikan dengan nasi dalam piring, gultik memiliki ciri khas penyajian yang lebih sederhana dan praktis. Biasanya, gulai dituang langsung ke atas nasi yang dibungkus kertas atau piring, lalu dinikmati bersama sate-satean seperti sate kikil, sate telur puyuh, sate usus, dan sate daging sapi yang telah direndam dalam kuah gulai yang kaya rempah.
Keunikan gultik terletak pada kuahnya yang cenderung lebih kental dan pekat dibandingkan gulai biasa. Kuah yang “lekoh” ini dihasilkan dari proses memasak santan dan rempah-rempah dalam waktu yang lama sehingga bumbunya meresap sempurna. Hal inilah yang menjadi daya tarik utama bagi para penikmatnya. Setiap suapan menawarkan sensasi gurih yang mendalam, dengan aroma rempah seperti kunyit, lengkuas, serai, dan daun jeruk yang begitu kuat. Kombinasi antara nasi hangat, kuah gulai yang kaya, serta sate-satean yang empuk menciptakan harmoni rasa yang sulit ditolak.
Fenomena Antrean Panjang dan Harga yang Terjangkau
Antrean selama 30 menit bukanlah hal yang asing dalam dunia kuliner viral. Bahkan, di tengah maraknya tren makanan yang dipromosikan melalui media sosial, waktu tunggu yang lama justru kerap menjadi daya tarik tersendiri. Fenomena ini menunjukkan bahwa konsumen tidak hanya membeli makanan, tetapi juga pengalaman dan sensasi mencicipi hidangan yang sedang menjadi perbincangan hangat di dunia maya. Dalam kasus gultik milik Nadshav ini, antrean panjang menjadi bukti autentik bahwa kuliner tersebut benar-benar diminati, bukan sekadar gimmick belaka.
Dari sisi harga, Rp15.000 untuk seporsi gultik dengan kuah yang melimpah dan aneka sate-satean merupakan tawaran yang sangat kompetitif. Di tengah kenaikan harga bahan pangan yang kerap terjadi, kehadiran kuliner dengan rentang harga seperti ini menjadi oase bagi para pekerja kantoran, mahasiswa, dan masyarakat umum yang ingin menikmati hidangan mengenyangkan tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. Porsi yang dijanjikan juga tidak main-main; perpaduan nasi, kuah, dan sate dalam satu porsi menjadikannya makanan yang cukup untuk menggantikan menu makan siang atau makan malam.
Peran Media Sosial dalam Mendorong Popularitas Kuliner
Nadya Shavira, yang memiliki basis penggemar cukup besar di platform TikTok, jelas memahami betul bagaimana cara memanfaatkan algoritma dan tren untuk memperkenalkan produknya. Sebagai seorang kreator, dirinya tidak hanya mengandalkan rasa, tetapi juga kekuatan konten visual. Video-video yang menampilkan proses memasak, penyajian kuah yang menggoda, hingga reaksi para pembeli saat mencicipi gultik menjadi konten yang sangat efektif untuk memicu rasa penasaran warganet.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran besar dalam industri kuliner. Dahulu, sebuah warung atau gerobak makanan harus menunggu bertahun-tahun untuk terkenal melalui rekomendasi dari mulut ke mulut. Kini, dalam hitungan jam, sebuah usaha kuliner dapat meledak popularitasnya hanya karena sebuah video pendek yang diunggah di media sosial. Para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang mampu beradaptasi dengan tren digital memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk berkembang pesat.
Melalui platform TikTok, konten tentang gultik ini tidak hanya menjangkau warga sekitar lokasi penjualan, tetapi juga tersebar ke seluruh penjuru Indonesia. Banyak warganet yang kemudian menyatakan keinginannya untuk datang dan mencoba langsung, bahkan ada pula yang rela menempuh perjalanan jauh dari luar kota sekadar untuk merasakan sensasi gultik yang sedang viral tersebut. Hal ini tentu menjadi berkah tersendiri bagi kelangsungan dan pertumbuhan usaha tersebut.
Kualitas Rasa sebagai Kunci Keberlanjutan
Meskipun promosi melalui media sosial menjadi pemicu awal kemunculan popularitas, faktor utama yang menentukan apakah sebuah usaha kuliner akan bertahan lama adalah kualitas rasa. Berdasarkan laporan yang beredar, kuah gultik milik Nadshav disebut-sebut memiliki tingkat kekentalan dan kekayaan rempah yang luar biasa. Istilah “lekoh” yang digunakan dalam laporan tersebut menggambarkan kuah yang menempel sempurna pada setiap butir nasi, bukan kuah encer yang terpisah. Karakteristik seperti inilah yang dicari-cari oleh para pecinta kuliner sejati.
Selain kuahnya, aneka sate-satean yang disajikan juga menjadi nilai tambah yang signifikan. Sate-satean yang dimasak bersama kuah gulai memberikan dimensi rasa yang berbeda dibandingkan sate dengan bumbu kacang atau kecap. Proses perendaman sate dalam kuah santan yang kaya bumbu membuat teksturnya menjadi lebih lembut dan rasanya lebih meresap. Kombinasi sate kikil yang kenyal, sate telur puyuh yang gurih, serta sate usus yang renyah memberikan variasi tekstur yang menarik dalam satu piring.
Kehadiran kuliner viral seperti ini juga mencerminkan dinamika pasar yang terus berubah. Konsumen masa kini tidak segan untuk mencari informasi, membaca ulasan, dan menempuh perjalanan demi menemukan pengalaman kuliner yang unik. Mereka juga cenderung lebih percaya pada rekomendasi dari kreator konten yang mereka ikuti dibandingkan iklan konvensional. Oleh karena itu, sinergi antara kualitas produk dan strategi pemasaran digital menjadi kunci sukses yang tidak terpisahkan.
Menjawab Rasa Penasaran, Menunggu Waktu yang Tepat
Bagi warganet yang belum sempat mencicipi, antrean 30 menit mungkin terdengar seperti waktu yang cukup lama. Namun, bagi mereka yang sudah pernah merasakan, waktu tersebut dianggap sebagai investasi kecil untuk mendapatkan kenikmatan yang sulit ditemukan di tempat lain. Kisaran harga Rp15.000 yang ditawarkan juga menjadikan gultik ini sebagai salah satu pilihan kuliner yang paling terjangkau di tengah maraknya makanan kekinian dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Ke depannya, akan menarik untuk melihat bagaimana fenomena ini berkembang. Akankah antrean semakin memanjang seiring bertambahnya jumlah pengunjung yang datang setelah menonton video viral di media sosial? Atau justru akan muncul kompetitor-kompetitor baru yang mencoba meniru kesuksesan serupa? Yang jelas, fenomena gultik milik Nadya Shavira ini sekali lagi membuktikan bahwa kekuatan media sosial dan kualitas produk yang baik adalah kombinasi yang sulit dikalahkan dalam industri kuliner tanah air.
Bagi para pencinta kuliner yang sedang berada di sekitar lokasi dan ingin merasakan sendiri sensasi kuah gulai yang lekoh dengan aneka sate-satean yang menggugah selera, bersiap untuk mengantre sejenak tampaknya menjadi harga yang wajar untuk sebuah pengalaman rasa yang tak terlupakan.








