Perjuangan Penjual Cilor Rp1.000: Diusir & Tidur di Jalan, Viral
Tak punya tempat tinggal, penjual cilor ini tetap semangat mencari nafkah di Jakarta. Kisahnya viral dan membuat netizen ramai ingin melariskan dagangannya.

Perjuangan Penjual Cilor Rp1.000: Kisah Pilu Diusir Kontrakan hingga Tidur di Jalan, Viral di Media Sosial
Di tengah gemerlap Ibu Kota yang identik dengan pusat bisnis dan gaya hidup modern, masih banyak warga yang harus bergelut dengan kerasnya kehidupan untuk sekadar bertahan hidup. Salah satu kisah yang viral dan menuai simpati publik adalah perjuangan Dadang (45), seorang penjual cilor (aci telur) keliling asal Garut, Jawa Barat. Kisah pilu pria yang sempat diusir dari tempat tinggalnya dan terpaksa tidur di emperan toko maupun pinggir jalan ini berhasil menyentuh hati warganet setelah diangkat oleh media pada akhir Agustus 2026.
Dadang, yang sehari-hari berjualan cilor menggunakan gerobak kecil di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, mengisahkan perjalanan hidupnya yang penuh liku. Dalam wawancara dengan detikFood pada akhir Agustus lalu, ia mengaku sudah merantau ke Jakarta sejak belasan tahun silam. Berbagai pekerjaan pernah ia lakoni, mulai dari kuli bangunan hingga buruh pabrik, sebelum akhirnya memutuskan untuk berjualan cilor dengan harga Rp1.000 per tusuk. “Saya jualan cilor pakai gerobak kecil, harga Rp1.000 per biji,” kata Dadang saat ditemui di sela-sela aktivitasnya berjualan.
Keterpurukan: Di usir dari Kontrakan, Tidur di Jalan
Salah satu bagian paling memilukan dari kisah Dadang adalah ketika ia dan keluarganya—istri dan seorang anak—harus kehilangan tempat tinggal. Mereka tinggal di sebuah kontrakan sederhana di wilayah Jakarta Timur. Namun, karena keterbatasan ekonomi dan ketidakmampuan membayar uang sewa selama tiga bulan berturut-turut, pemilik kontrakan akhirnya meminta mereka keluar. “Pernah diusir dari kontrakan karena telat bayar. Sudah tiga bulan belum bayar, akhirnya diminta keluar. Sempat tidur di emperan toko dan pinggir jalan,” tuturnya dengan nada pasrah.
Selama beberapa pekan, Dadang, istri, dan anaknya terpaksa menjadikan trotoar dan emperan toko sebagai tempat berteduh. Kondisi ini tentu sangat berat, terutama bagi anaknya yang masih bersekolah. Namun, semangat untuk terus berusaha tidak pernah padam. Dadang tetap berjualan cilor setiap hari dari pagi hingga malam, meski dalam kondisi tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Ia hanya mengandalkan gerobak kecilnya sebagai sumber penghidupan utama.
Tekad Kuat: Berjualan dengan Modal Rp100 Ribu
Dadang memutuskan beralih profesi menjadi pedagang cilor karena modalnya yang relatif kecil dan fleksibilitas waktu. “Dulu sempat kerja bangunan, tapi kadang dapat proyek kadang enggak. Akhirnya mikir buat jualan cilor saja, modalnya kecil dan bisa sambil jualan pagi sampai malam,” ujarnya. Untuk memulai usaha, ia hanya membutuhkan modal sekitar Rp100 ribu. Uang sebesar itu digunakan untuk membeli bahan baku seperti tepung terigu, telur ayam, minyak goreng, serta tusuk sate.
Proses pembuatan cilor dilakukan secara tradisional dan melibatkan anggota keluarga. Istrinya turut membantu membuat adonan cilor di dapur kecil kontrakan mereka yang sekarang. Setelah adonan matang dan ditusuk, Dadang kemudian mengelilingi pemukiman warga dan area sekolah untuk menjajakan dagangannya. Dalam sehari, ia mampu menghabiskan 300 hingga 400 tusuk cilor. Satu tusuk berisi tiga sampai empat butir cilor, sehingga jika laku semua, omzet kotor yang diraup bisa mencapai Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari. Namun, angka tersebut belum dipotong biaya operasional dan bahan baku.
Kehidupan yang Semakin Membaik: Kontrakan Baru dan Sekolah Anak
Meski perjuangannya masih panjang, kondisi Dadang perlahan mulai membaik. Saat ini, ia dan keluarganya sudah memiliki kontrakan lagi meskipun ukurannya sangat kecil. “Kalau sekarang alhamdulillah sudah punya kontrakan lagi. Walaupun kecil, tapi cukup buat berteduh. Istri saya bantu buatkan adonan,” jelas Dadang. Tempat tinggal yang layak menjadi salah satu kebutuhan dasar yang sangat penting bagi keberlangsungan usaha dan kehidupan keluarga.
Yang lebih membanggakan, di tengah keterbatasan ekonomi, Dadang tetap berhasil menyekolahkan anaknya hingga tingkat SMA. Ia menganggap pendidikan sebagai investasi masa depan yang tidak boleh diabaikan, meski harus berjuang ekstra keras. “Saya bersyukur masih bisa menyekolahkan anak. Biar pendapatan pas-pasan, yang penting anak bisa sekolah,” ungkapnya.
Pesan Moral: Jangan Malu pada Pekerjaan Halal
Kisah Dadang bukan hanya sekadar cerita tentang perjuangan ekonomi, tetapi juga mengandung pesan moral yang mendalam. Ia mengingatkan agar setiap orang tidak pernah malu terhadap pekerjaan halal, sekecil apa pun pekerjaan itu. “Jangan pernah malu sama pekerjaan halal, walaupun cuma jualan cilor seribuan. Daripada mencuri atau minta-minta. Yang penting halal dan berkah,” pesannya.
Dadang juga menekankan pentingnya sikap tidak mudah menyerah dalam menghadapi rintangan hidup. Menurutnya, rezeki sudah ada yang mengatur, namun manusia tetap wajib berusaha dan terus berdoa. “Saya yakin suatu saat rezeki saya akan lebih baik. Sekarang masih berjuang, semoga ke depan bisa lebih sukses,” tutup Dadang.
Fenomena Pedagang Kaki Lima di Tengah Urbanisasi
Kisah Dadang merepresentasikan fenomena besar yang terjadi di kota-kota besar Indonesia, khususnya Jakarta. Urbanisasi yang terus berlangsung mendorong jutaan orang dari daerah untuk mencari penghidupan di ibu kota. Namun, tidak semua mampu bersaing di sektor formal. Banyak yang akhirnya terjun ke sektor informal seperti pedagang kaki lima (PKL) dengan modal terbatas dan risiko tinggi.
Menurut data dari Dinas UKM DKI Jakarta, jumlah PKL di wilayah Jakarta pada tahun 2025 diperkirakan mencapai lebih dari 100.000 orang. Sebagian besar dari mereka bergerak di bidang kuliner, seperti penjual cilor, gorengan, bakso, hingga nasi uduk. Harga yang murah dan lokasi yang strategis menjadi daya tarik utama bagi konsumen, namun di sisi lain, para pedagang harus menghadapi berbagai tantangan seperti ketidakpastian tempat berjualan, penggusuran, serta fluktuasi harga bahan baku.
Dadang adalah salah satu contoh nyata bagaimana ketahanan mental dan semangat pantang menyerah menjadi kunci untuk bertahan di tengah kerasnya kehidupan urban. Meskipun sempat diusir dan tidur di jalan, ia tidak lantas menyerah atau beralih ke jalan pintas yang tidak halal. Ia terus berjualan, memperbaiki kualitas dagangannya, dan perlahan membangun kembali kehidupan keluarganya.
Dampak Viralnya Kisah Dadang
Setelah kisahnya diangkat oleh media dan beredar luas di platform media sosial, banyak warganet yang menyatakan empati dan dukungan moral. Beberapa bahkan menawarkan bantuan, baik berupa uang, barang, maupun tawaran tempat tinggal sementara. Namun, Dadang menegaskan bahwa ia tidak ingin bergantung pada belas kasihan orang lain. Ia lebih memilih untuk terus berusaha sendiri dan bersyukur atas apa yang telah dimiliki.
Fenomena ini juga menjadi pengingat bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk lebih memperhatikan nasib para pedagang kecil. Perlindungan hukum, akses terhadap modal usaha, serta penyediaan lokasi berjualan yang layak dan terjangkau menjadi isu penting yang perlu segera diatasi. Tanpa intervensi yang tepat, pedagang seperti Dadang akan terus berada dalam siklus kemiskinan dan kerentanan.
Peran Media dalam Menyuarakan Kisah Perjuangan
Media massa, khususnya platform digital, memiliki peran strategis dalam menyuarakan kisah-kisah perjuangan seperti ini. Dengan jangkauan yang luas dan kecepatan penyebaran informasi, cerita Dadang mampu menginspirasi banyak orang. Bukan hanya soal simpati, tetapi juga tentang kesadaran kolektif bahwa masih banyak saudara kita yang membutuhkan uluran tangan dan perhatian.
Kisah Dadang juga mengajarkan bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dari besarnya harta atau jabatan. Keberhasilan dapat diukur dari seberapa besar seseorang mampu bertahan, beradaptasi, dan tetap menjalankan prinsip hidup yang benar meski dalam tekanan. Sikap rendah hati, kerja keras, dan keikhlasan menjadi pilar utama yang membuat Dadang tetap tegar.








