Makanan Pedas Bikin Mood Memperbaiki? Ini Faktanya

Makanan pedas, seperti seblak dan mie pedas, dapat meningkatkan suasana hati dan produktivitas. Coba Nata Pedasss, inovasi pedas dari nata de coco!

Makanan Pedas Bikin Mood Memperbaiki? Ini Faktanya

Makanan pedas kerap diidentikkan dengan berbagai keluhan pencernaan, mulai dari perut kembung, rasa panas di lambung, hingga sensasi terbakar saat buang air besar. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah, terutama bagi mereka yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap cabai. Namun, sebuah studi terbaru mengungkap sisi lain yang jarang dibahas, yakni kemampuan makanan pedas dalam membantu memperbaiki mood atau suasana hati. Temuan ini memberikan perspektif baru bahwa sensasi pedas tidak hanya berdampak pada sistem pencernaan, tetapi juga pada kondisi psikologis seseorang.

Studi yang diterbitkan dalam Journal of Food Science menemukan bahwa konsumsi makanan pedas dapat memicu pelepasan endorfin, yaitu hormon yang berperan dalam menciptakan rasa senang sekaligus mengurangi rasa sakit. Endorfin sering disebut sebagai hormon kebahagiaan karena kemampuannya memunculkan sensasi nyaman dan rileks. Efek inilah yang kemudian membuat suasana hati terasa lebih baik setelah menyantap hidangan pedas. Banyak orang melaporkan perasaan lega, puas, bahkan ceria setelah mengonsumsi makanan dengan level pedas tertentu.

Para peneliti menjelaskan mekanisme di balik fenomena tersebut. Sensasi terbakar yang ditimbulkan oleh capsaicin, senyawa aktif dalam cabai, merangsang reseptor rasa sakit di mulut. Reseptor ini dikenal sebagai TRPV1, yaitu saluran ion yang berfungsi mendeteksi panas dan rasa nyeri. Ketika capsaicin mengaktifkan reseptor tersebut, otak menerima sinyal seolah-olah terjadi luka atau paparan suhu tinggi. Sebagai respons pertahanan, otak kemudian melepaskan endorfin dan dopamin untuk meredakan sensasi tidak nyaman itu. Dopamin sendiri merupakan neurotransmitter yang berkaitan erat dengan sistem reward atau penghargaan di otak.

Akibat dari pelepasan dua senyawa tersebut, muncul perasaan senang atau euforia ringan yang mirip dengan efek runner’s high setelah berolahraga. Runner’s high adalah kondisi ketika seseorang merasa sangat bahagia, tenang, dan energik setelah berlari dalam jarak tertentu. Kesamaan efek ini membuat sebagian orang menganggap mengonsumsi makanan pedas sebagai bentuk olahraga rasa, karena tubuh merespons rasa sakit ringan dengan limpahan hormon yang menyenangkan. Semakin tinggi toleransi seseorang terhadap pedas, semakin besar pula kemungkinan ia menikmati sensasi tersebut sebagai pengalaman yang memuaskan.

Selain memicu endorfin dan dopamin, makanan pedas juga disebut dapat meningkatkan sirkulasi darah. Capsaicin diketahui mampu melebarkan pembuluh darah sehingga aliran darah menjadi lebih lancar. Peningkatan sirkulasi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan kardiovaskular, tetapi juga membuat tubuh terasa lebih hangat dan segar. Efek hangat inilah yang sering dikaitkan dengan perasaan rileks dan nyaman setelah mengonsumsi makanan pedas, terutama saat cuaca dingin atau ketika tubuh sedang lelah.

Lebih jauh, makanan pedas juga merangsang produksi serotonin, yaitu neurotransmitter yang berperan penting dalam mengatur mood, tidur, dan nafsu makan. Serotonin yang cukup dalam tubuh dikaitkan dengan suasana hati yang stabil, kualitas tidur yang lebih baik, serta nafsu makan yang terkendali. Kombinasi antara endorfin, dopamin, dan serotonin inilah yang membuat makanan pedas berpotensi membantu meredakan stres dan memperbaiki suasana hati secara alami. Tidak mengherankan jika banyak orang mengaku merasa lebih tenang atau bahagia setelah menyantap sepiring nasi goreng pedas atau semangkuk mie dengan cabai melimpah.

Meski demikian, manfaat ini tidak berlaku sama bagi semua orang. Toleransi terhadap makanan pedas berbeda-beda, dipengaruhi oleh faktor genetik, kebiasaan makan, dan kondisi sistem pencernaan masing-masing individu. Ada orang yang dapat mengonsumsi cabai dalam jumlah banyak tanpa keluhan, tetapi ada pula yang langsung merasakan perih di lambung hanya setelah satu gigitan. Konsumsi berlebihan dapat menimbulkan ketidaknyamanan pada lambung, seperti gastritis, refluks asam, atau diare. Para ahli menyarankan agar makanan pedas dikonsumsi secara wajar dan disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing. Penderita maag, asam lambung, atau irritable bowel syndrome sebaiknya lebih berhati-hati dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum meningkatkan asupan pedas.

Beberapa penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa makanan pedas dapat meningkatkan metabolisme dan membantu membakar kalori. Capsaicin dipercaya mampu meningkatkan thermogenesis, yaitu proses produksi panas dalam tubuh yang turut membakar energi. Namun, efek ini bersifat sementara dan tidak bisa dijadikan metode utama untuk menurunkan berat badan. Peningkatan metabolisme akibat makanan pedas relatif kecil jika dibandingkan dengan manfaat olahraga dan pola makan seimbang. Jadi, menjadikan cabai sebagai satu-satunya strategi diet tentu tidak tepat.

Dengan demikian, bagi siapa pun yang pernah merasakan mood membaik setelah makan makanan pedas, ternyata ada penjelasan ilmiah di baliknya. Mulai dari pelepasan endorfin, dopamin, dan serotonin, hingga peningkatan sirkulasi darah, semuanya berkontribusi pada perasaan senang dan rileks. Selama dikonsumsi dalam batas wajar dan disesuaikan dengan kondisi tubuh, makanan pedas bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk memperbaiki suasana hati. Penting untuk selalu mendengarkan sinyal tubuh, karena makanan pedas yang dinikmati dengan bijak akan memberikan manfaat tanpa menimbulkan masalah pencernaan di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

A+ A-
Kuliner Jawa

Live Search