Makanan Konser The Weeknd di JIS Mahal, Intip Daftar Harganya!

The Weeknd baru menggelar konser hari pertama di JIS pada (26/9). Terlepas dari keseruan, netizen tak puas dengan makanan yang ditawarkan karena harga mahal.

Makanan Konser The Weeknd di JIS Mahal, Intip Daftar Harganya!

Penyelenggaraan hari pertama konser The Weeknd di Jakarta International Stadium (JIS) pada Sabtu (26/9/2026) menyisakan berbagai cerita menarik di kalangan penikmat musik Tanah Air. Euforia ribuan penggemar yang memadati stadion bertaraf internasional tersebut diwarnai oleh tata panggung megah, tata suara menggelegar, dan deretan lagu hit yang dibawakan musisi asal Kanada tersebut. Kendati demikian, di balik kesuksesan pertunjukan panggung yang memukau, gelombang kekecewaan penonton justru mencuat di ranah media sosial akibat mahalnya harga makanan dan minuman yang dijajakan di area dalam stadion.

Hingga Senin (28/9/2026), perbincangan mengenai harga konsumsi di dalam venue konser The Weeknd masih ramai diperbincangkan warganet. Banyak penonton meluapkan rasa terkejut mereka terhadap tarif yang dipatok oleh para penyewa stan makanan (tenant F&B). Makanan ringan sederhana, hidangan cepat saji, hingga air mineral dibanderol dengan harga yang dinilai jauh melampaui harga pasar reguler, sehingga memicu perdebatan mengenai batas kewajaran harga konsumsi di acara-acara hiburan berskala masif.

Keluhan Penonton Membanjiri Media Sosial

Keriuhan di jagat maya bermula ketika sejumlah akun penonton mengunggah foto daftar menu beserta struk pembayaran dari berbagai gerai makanan di selasar JIS. Dalam unggahan yang beredar luas, terlihat bagaimana harga produk-produk konsumsi harian melonjak berlipat ganda. Air mineral botol atau kemasan gelas yang biasanya dapat dibeli seharga beberapa ribu rupiah di minimarket, ditawarkan dengan harga puluhan ribu rupiah di dalam area konser.

Begitu pula dengan aneka makanan pengganjal perut seperti kentang goreng, sosis bakar, burger, hingga nasi kotak sederhana. Penonton mengeluhkan bahwa porsi yang disajikan kerap kali tidak sebanding dengan nominal rupiah yang harus mereka bayarkan. Kekecewaan ini makin terasa bagi penonton yang telah mengantre berjam-jam sejak gerbang dibuka pada siang hari. Kelelahan fisik akibat antrean panjang dan cuaca panas membuat kebutuhan konsumsi menjadi mendesak, namun harga yang terlampau tinggi dirasa memberatkan kantong para penonton yang sebelumnya sudah mengeluarkan biaya jutaan rupiah untuk tiket masuk.

Bagi sebagian besar penonton, kehadiran gerai makanan dan minuman di dalam stadion semestinya menjadi fasilitas penunjang yang mempermudah mobilitas mereka selama menikmati acara. Ketika harga yang ditawarkan dinilai tidak masuk akal, muncul kesan bahwa momen keramaian tersebut dimanfaatkan secara berlebihan untuk meraup keuntungan sepihak.

Faktor di Balik Tingginya Harga Makanan di Konser Skala Stadion

Fenomena melambungnya harga makanan dan minuman di konser berskala stadion bukanlah peristiwa yang sepenuhnya baru, namun selalu menjadi polemik berulang. Secara struktural, tingginya harga F&B di lokasi konser seperti JIS dipengaruhi oleh berbagai rantai pembiayaan yang dihadapi oleh para pelaku usaha kuliner di dalam venue.

Pertama, biaya sewa stan (booth) yang ditetapkan oleh pihak pengelola acara atau promotor umumnya sangat tinggi untuk konser musisi internasional papan atas. Promotor membebankan biaya operasional yang mencakup izin tempat, listrik, kebersihan, hingga fasilitas keamanan kepada para tenant. Selain biaya sewa tetap (fixed cost), tidak jarang berlaku pula skema bagi hasil penjualan (revenue sharing) antara vendor dan promotor dengan persentase yang cukup besar.

Kedua, durasi berjualan yang sangat terbatas menuntut para vendor untuk memaksimalkan perputaran modal dalam waktu singkat. Berbeda dengan restoran permanen yang beroperasi setiap hari, stan makanan di dalam konser hanya memiliki jendela waktu efektif beberapa jam—sejak gerbang dibuka hingga konser dimulai, serta sedikit waktu tambahan saat konser berakhir. Untuk menutup biaya sewa, biaya logistik masuk stadion, gaji staf lembur, dan target keuntungan dalam hitungan jam, para penyewa stan terpaksa menaikkan harga jual produk mereka secara signifikan.

Ketiga, faktor logistik khusus di stadion sebesar JIS juga menjadi tantangan tersendiri. Proses membawa pasokan bahan baku, peralatan pendingin, dan perlengkapan memasak ke dalam perimeter stadion berkapasitas puluhan ribu orang memerlukan biaya tambahan serta prosedur keamanan yang ketat. Regulasi keselamatan stadion, seperti larangan penggunaan tabung gas elpiji tertentu demi pencegahan kebakaran, memaksa pedagang menggunakan peralatan listrik berdaya tinggi yang biaya operasionalnya lebih mahal.

Kebijakan Pasar Tertutup dan Keterbatasan Opsi Pengunjung

Isu mahalnya makanan konser makin diperparah oleh adanya regulasi ketat yang melarang pengunjung membawa makanan dan minuman dari luar area stadion. Berdasarkan standar operasional keamanan konser internasional, barang-barang seperti botol air plastik keras, tumbler logam, kaleng minuman, hingga bungkus makanan dilarang melewati pintu pemeriksaan keamanan demi mencegah potensi pelemparan benda keras ke arah panggung serta menjaga kebersihan venue.

Aturan keselamatan ini pada praktiknya menciptakan sebuah sistem pasar tertutup (captive market). Ribuan penonton yang berada di dalam stadion selama lima hingga delapan jam tidak memiliki alternatif lain selain membeli makanan dan minuman yang disediakan di dalam area. Keadaan tanpa pilihan ini membuat penonton tidak memiliki daya tawar terhadap harga yang ditetapkan oleh para tenant.

Ketiadaan alternatif ini dirasa sangat memberatkan, terutama bagi penonton di kategori festival atau yang berdiri (standing). Untuk mempertahankan posisi terbaik di dekat panggung, mereka rela menahan lapar dan dahaga, namun saat fisik mereka membutuhkan asupan, mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk sekadar mendapatkan sebotol air minum dingin.

Sorotan terhadap Akses Kebutuhan Pokok dan Hidrasi Penonton

Polemik mengenai harga F&B di konser The Weeknd ini juga menggeser fokus diskusi publik ke arah yang lebih mendasar, yakni keselamatan dan kesehatan penonton. Di banyak festival musik internasional di berbagai belahan dunia, regulasi mewajibkan promotor untuk menyediakan stasiun pengisian air minum gratis (free water refill station) di beberapa titik strategis, meskipun makanan komersial tetap dijual dengan harga premium.

Air minum dipandang sebagai kebutuhan vital untuk mencegah terjadinya dehidrasi, sengatan panas (heatstroke), atau pingsan massal di tengah kerumunan yang padat. Ketika harga air mineral kemasan dinaikkan terlampau tinggi di dalam arena, risiko penonton menunda minum demi menghemat pengeluaran menjadi meningkat, yang pada akhirnya dapat membahayakan kondisi fisik mereka selama pertunjukan berlangsung.

Kritik yang dilayangkan penonton di media sosial pun tidak hanya menuntut transparansi daftar harga sebelum acara dimulai, melainkan juga mendesak pihak penyelenggara agar lebih bijak dalam menentukan batas harga dasar (price ceiling) untuk komoditas esensial seperti air putih. Akses terhadap hidrasi yang terjangkau dinilai sebagai bagian dari tanggung jawab manajemen kerumunan (crowd control) yang tidak boleh diabaikan demi kepentingan komersial semata.

Dinamika Persiapan Penonton Menghadapi Konser Berikunya

Bercermin dari pengalaman hari pertama konser The Weeknd di JIS, komunitas penikmat konser di media sosial mulai membagikan berbagai kiat persiapan bagi mereka yang berencana menghadiri konser-konser musisi internasional berikutnya di Jakarta. Sejumlah langkah antisipasi yang disarankan antara lain mengonsumsi makanan berat sebelum memasuki area pemeriksaan stadion, memastikan tubuh terhidrasi secara maksimal beberapa jam sebelum open gate, serta mengalokasikan anggaran khusus yang realistis untuk kebutuhan darurat di dalam arena pertunjukan.

Ekspektasi penonton konser musik di Indonesia kini semakin matang seiring dengan makin seringnya artis-artis global menyambangi Tanah Air. Penonton tidak lagi hanya menilai keberhasilan sebuah acara dari megahnya penampilan artis di atas panggung, melainkan juga menyoroti kenyamanan logistik, keramahan fasilitas, serta keadilan harga layanan penunjang yang disediakan di sepanjang gelaran acara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

A+ A-
Kuliner Jawa

Live Search