Kisah Pria Aceh Jual Mie di Atas Pohon, Berawal dari Kendala Ini

Penjual mie Aceh ini tengah disorot karena konsep jualan yang unik. Bukannya membuka gerai sendiri, pria ini justru menjualnya dari atas pohon. Begini kisahnya!

Kisah Pria Aceh Jual Mie di Atas Pohon, Berawal dari Kendala Ini

Kisah Muhammad Rizal, Pria Aceh yang Jualan Mie di Atas Pohon: Bermula dari Lahan Sempit, Kini Jadi Ikon Kuliner Unik

Di tengah hiruk-pikuk kuliner Nusantara yang kerap berlomba menawarkan konsep kekinian, seorang pria di Aceh justru memilih jalur yang tidak biasa. Muhammad Rizal (38), warga Gampong Lamreung, Kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, mengambil keputusan yang mungkin tidak terpikirkan oleh banyak orang: berjualan mie aceh di atas pohon. Keputusan ini bukan sekadar mencari sensasi atau viral, melainkan lahir dari sebuah kendala mendasar yang ia hadapi sehari-hari, yaitu keterbatasan lahan untuk membuka usaha.

Awal Mula: Ketika Lahan Sempit Menjadi Pemicu Kreativitas

Rizal mengisahkan bahwa dirinya tidak memiliki tanah atau halaman yang cukup luas untuk membangun warung konvensional. Rumahnya yang sempit juga tidak memungkinkan untuk dijadikan tempat usaha. Alih-alih menyerah atau menyewa tempat dengan biaya tambahan, ia justru memutar otak mencari solusi yang mandiri dan ekonomis.

“Saya tidak punya tanah atau halaman yang cukup luas untuk membuka warung. Di rumah saya juga sempit, jadi saya berpikir bagaimana caranya tetap bisa berjualan tanpa harus menyewa tempat,” ujar Rizal kepada detikcom.

Ide cemerlang itu muncul ketika pandangannya tertuju pada sebuah pohon mangga besar di samping rumahnya. Selama ini, pohon tersebut hanya menjadi peneduh dan tidak dimanfaatkan secara produktif. Dari sanalah, muncul gagasan untuk membangun gubuk kecil di atas dahan pohon yang kokoh tersebut. Keputusan ini sekaligus menjawab dua masalah sekaligus: kebutuhan akan tempat usaha dan pemanfaatan aset yang selama ini terbengkalai.

Proses Pembangunan Gubuk di Atas Pohon: Kreativitas dan Gotong Royong

Membangun tempat usaha di atas pohon tentu bukan pekerjaan yang mudah. Rizal mengaku menghabiskan waktu sekitar dua minggu untuk merampungkan gubuk berukuran 3×3 meter tersebut. Material utama yang digunakan adalah kayu bekas dan bambu yang ia kumpulkan dari sekitar lingkungan rumah. Dengan semangat gotong royong, proses pembangunan dikerjakan sendiri bersama dua orang temannya.

“Alhamdulillah, semua bahan kayu dan bambu saya dapatkan dari sisa pembangunan rumah tetangga dan kebun. Saya hanya perlu membeli paku serta tali. Proses pembuatannya saya kerjakan sendiri dibantu dua teman,” katanya.

Menariknya, biaya yang dikeluarkan untuk membangun tempat unik ini terbilang sangat hemat. Rizal hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp500 ribu untuk membeli paku dan tali tambang. Gubuk tersebut didesain cukup untuk menampung dua meja kecil dan kursi panjang. Untuk mencapai gubuk, pengunjung harus menaiki tangga kayu yang dibuat secara permanen dan kokoh. Meskipun sederhana, konstruksi ini dirancang untuk memberikan rasa aman bagi siapa pun yang berkunjung.

Menu Andalan dan Harga yang Bersahabat

Lokasi yang tidak biasa tidak membuat Rizal setengah-setengah dalam menyajikan menu. Ia menawarkan berbagai varian mie aceh yang menggugah selera, mulai dari mie aceh goreng, mie aceh kuah, hingga mie aceh kepiting yang menjadi menu spesial. Harga yang dipatok pun cukup terjangkau, berkisar antara Rp15 ribu hingga Rp35 ribu per porsi, sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.

“Yang paling laris adalah mie aceh goreng dengan telur. Untuk kepiting, saya ambil langsung dari nelayan di Peukan Bada, jadi masih segar,” ungkap Rizal.

Keunikan lokasi berjualan ini ternyata menjadi daya tarik tersendiri. Alih-alih sepi, Rizal justru kebanjiran pengunjung yang penasaran. Banyak di antara mereka yang datang dari luar kota, tidak hanya untuk menikmati kelezatan mie aceh, tetapi juga untuk berfoto-foto sambil menikmati suasana makan di ketinggian. Fenomena ini membuktikan bahwa inovasi sederhana dengan eksekusi yang tepat mampu menarik minat publik secara luas.

Tantangan di Musim Hujan: Antisipasi dan Ketangguhan

Berjualan di ruang terbuka tentu memiliki tantangan tersendiri, terutama saat cuaca buruk. Rizal mengakui bahwa gubuknya yang beratap rumbia terkadang bocor ketika hujan deras. Angin kencang juga menjadi momok yang membuat gubuk bergoyang. Namun, sebagai pebisnis tangguh, ia telah menyiapkan langkah antisipasi dengan menambatkan bangunan menggunakan tali baja yang kuat ke batang pohon. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kestabilan dan keamanan gubuk saat angin bertiup kencang.

“Kalau hujan deras, saya tutup dulu. Takut pengunjung tidak nyaman. Tapi kalau gerimis kecil, masih bisa jalan. Saya juga sudah pasang terpal di sisi-sisi gubuk untuk menahan angin,” jelasnya.

Kebijakan untuk menutup sementara saat hujan deras menunjukkan bahwa Rizal sangat memperhatikan kenyamanan dan keselamatan pengunjungnya. Meski menghadapi kendala cuaca, usahanya tetap berjalan baik. Di akhir pekan, omzet yang ia peroleh bisa mencapai Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per hari. Angka ini merupakan pencapaian yang signifikan untuk usaha skala kecil dengan konsep yang tidak lazim.

Dampak dan Harapan ke Depan

Kisah Muhammad Rizal bukan hanya tentang bagaimana seseorang bertahan dengan keterbatasan, tetapi juga tentang bagaimana keterbatasan dapat memicu lahirnya ide-ide kreatif yang bernilai jual. Usaha mie aceh di atas pohon ini tidak hanya memberikan penghasilan bagi Rizal, tetapi juga berpotensi menjadi ikon kuliner baru di Aceh yang menarik wisatawan.

Ke depannya, Rizal berharap usahanya ini dapat terus berkembang dan semakin dikenal luas. Ia ingin membuktikan bahwa dengan kegigihan dan kreativitas, siapa pun dapat menciptakan peluang usaha yang unik dan berkelanjutan. Kisah ini menjadi inspirasi bahwa solusi atas sebuah kendala sering kali datang dari pemikiran yang tidak konvensional dan keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Dengan semangat yang dimilikinya, bukan tidak mungkin warung di atas pohon ini akan menjadi destinasi kuliner yang ramai dikunjungi, memberikan dampak positif tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi perekonomian lokal di Gampong Lamreung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

A+ A-
Kuliner Jawa

Live Search