Farida Nurhan Racik Asinan Buah Unik, Nanas-Kedondong Segar
Farida Nurhan membagikan video saat dirinya berkreasi dengan asinan buah. Ia menggunakan beragam jenis buah dengan tambahan jus yang asam segar.

Farida Nurhan Kembali Berinovasi: Racik Asinan Buah Unik, Perpaduan Nanas dan Kedondong yang Segar
Jakarta, 22 Agustus 2026 – Nama Farida Nurhan memang sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta kuliner Tanah Air. Dikenal sebagai sosok yang kerap menghadirkan kreasi masakan sederhana namun penuh cita rasa, kali ini ia kembali mencuri perhatian publik dengan sebuah gebrakan baru di ranah kuliner tradisional. Melalui sebuah unggahan yang langsung menjadi perbincangan hangat, Farida berhasil meracik asinan buah dengan sentuhan yang tidak biasa: menggabungkan nanas dan kedondong dalam satu sajian yang menggugah selera.
Inovasi ini lahir dari keinginan untuk keluar dari pakem asinan buah pada umumnya. Selama ini, asinan buah identik dengan sajian yang menyajikan beragam potongan buah dalam satu wadah, dengan kuah bumbu yang didominasi rasa asam, manis, dan pedas yang menyegarkan. Namun, Farida mencoba mengambil langkah lebih berani dengan fokus pada dua buah yang memiliki karakteristik sangat berbeda, yakni nanas dan kedondong. Keputusan ini bukan tanpa alasan; ia meyakini bahwa perpaduan dua buah dengan profil rasa yang kontras justru akan menghasilkan harmoni rasa yang lebih kompleks dan menarik.
Mengenal Karakter Nanas dan Kedondong
Untuk memahami daya tarik dari kreasi ini, penting untuk melihat lebih dekat karakteristik kedua buah yang digunakan. Nanas, atau yang dikenal dengan nama ilmiah Ananas comosus, merupakan buah tropis yang memiliki tingkat keasaman dan kemanisan yang tinggi. Daging buahnya yang berwarna kuning cerah mengandung enzim bromelain yang memberikan sensasi sedikit tajam di lidah, namun diimbangi dengan rasa manis alami yang kuat. Teksturnya yang berserat namun berair membuat nanas menjadi favorit dalam berbagai hidangan, mulai dari rujak, manisan, hingga olahan modern.
Di sisi lain, kedondong menawarkan pengalaman yang berbeda. Buah yang memiliki nama latin Spondias dulcis ini terkenal dengan teksturnya yang sangat renyah dan keras saat digigit. Rasa kedondong cenderung lebih asam dan segar, dengan sedikit sentuhan sepat yang khas. Kombinasi antara kerenyahan kedondong dan kelembutan nanas inilah yang menjadi kunci utama keunikan asinan buatan Farida. Setiap gigitan akan memberikan sensasi tekstur ganda: kriuk dari kedondong dan juicy dari nanas, sekaligus ledakan rasa asam manis yang seimbang.
Proses Peracikan yang Penuh Detail
Dalam proses pembuatannya, Farida tidak hanya mengandalkan kualitas buah semata. Ia menjelaskan bahwa bumbu adalah jiwa dari sebuah asinan. Untuk kreasi ini, ia menggunakan racikan bumbu khas yang terdiri dari cabai rawit untuk memberikan sensasi pedas yang menantang, gula merah yang dicairkan untuk memberikan rasa manis legit yang alami, serta terasi yang sudah dibakar untuk menambah kedalaman rasa gurih dan umami. Ketiga bahan utama ini dihaluskan dan dicampurkan dengan sedikit air asam jawa untuk memberikan kesegaran ekstra.
Tidak berhenti di situ, Farida juga menambahkan irisan tipis bawang merah dan kacang tanah goreng sebagai pelengkap. Bawang merah memberikan aroma harum dan rasa sedikit tajam yang menyatu dengan bumbu, sementara kacang tanah menambah dimensi gurih dan tekstur renyah yang membuat asinan ini semakin kaya. Proses pencampuran dilakukan dengan sangat teliti. Farida menegaskan bahwa semua bahan harus tercampur merata agar setiap potongan buah yang diambil memiliki cita rasa yang konsisten. Ia bahkan menyarankan untuk membiarkan asinan beberapa saat sebelum disajikan agar bumbu dapat meresap sempurna ke dalam pori-pori buah.
Reaksi Publik dan Keberanian Bereksperimen
Kreasi asinan buah yang tidak lazim ini tentu saja menuai beragam reaksi dari warganet dan para pengikut setianya. Sebagian besar merasa penasaran dan mengapresiasi keberanian Farida dalam mencoba hal baru. Pasalnya, mencampurkan nanas dan kedondong dalam satu wadah memang bukan praktik yang umum ditemui di pasaran. Banyak penjual asinan yang cenderung memisahkan jenis buah atau memilih buah-buahan dengan rasa yang lebih netral seperti bengkuang, mangga muda, atau pepaya.
Namun, Farida meyakinkan bahwa rasa yang dihasilkan dari perpaduan ini justru saling melengkapi dan tidak saling menutupi. Asamnya kedondong akan diperkuat oleh asam nanas, namun kemudian ditampar oleh manisnya gula merah yang meresap, dan diakhiri dengan pedasnya cabai yang membangkitkan selera. Hasilnya adalah pengalaman mencicipi yang dinamis dan tidak membosankan. Ia mengibaratkan kreasi ini seperti sebuah orkestra rasa, di mana setiap elemen memiliki peran penting dan bersatu menjadi satu kesatuan yang harmonis.
Lebih dari sekadar membuat makanan, langkah Farida ini adalah sebuah pesan inspiratif bagi masyarakat luas. Baginya, mencoba hal baru dalam memasak adalah cara untuk terus berinovasi dan memberikan kejutan bagi para pecinta kuliner. Ia percaya bahwa dapur adalah tempat bereksperimen tanpa batas, dan bahan-bahan lokal Indonesia memiliki potensi tak terhingga yang belum sepenuhnya dieksplorasi. Ia berharap kreasi asinan buah unik ini dapat menginspirasi banyak orang untuk lebih berani keluar dari zona nyaman dan mencoba kombinasi bahan yang tidak terpikirkan sebelumnya.
Dengan semangat berbagi, Farida juga tidak menutup kemungkinan untuk membagikan resep lengkapnya kepada publik. Ia ingin membuktikan bahwa inovasi tidak harus selalu rumit dan mahal. Dengan memanfaatkan buah-buahan lokal yang mudah didapat, siapa pun bisa menciptakan hidangan istimewa di rumah masing-masing. Kreasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kekayaan kuliner Nusantara selalu terbuka untuk interpretasi baru, selama kita berani untuk mencoba.








