Duh! Ojol Taruh Makanan Sembarangan Tanpa Box, Netizen Kesal

Seorang netizen menyampaikan keluhan atas sikap seorang sopir ojol. Ia kesal karena sopir membawa banyak pesanan makan tanpa box dan meletakkannya sembarangan.

Duh! Ojol Taruh Makanan Sembarangan Tanpa Box, Netizen Kesal

Judul: Viral! Aksi Ojol Menaruh Makanan Tanpa Box Hanya Digantung di Jok, Netizen: Tidak Profesional dan Tidak Higienis

Jakarta, 20 Agustus 2026 – Sebuah video yang memperlihatkan aksi kurang menyenangkan seorang pengemudi ojek online (ojol) kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Dalam rekaman yang beredar luas, pengemudi tersebut terlihat membawa pesanan makanan pelanggan dengan cara yang sangat tidak lazim, yakni tanpa menggunakan box makanan khusus, melainkan hanya menggantung kantong plastik berisi makanan di sisi jok belakang motornya. Momen ini sontak memicu kemarahan dan kekecewaan dari para netizen yang menilai tindakan tersebut tidak profesional dan mengabaikan aspek kebersihan serta keamanan pangan.

Video tersebut pertama kali diunggah oleh akun Instagram @jakarta.terkini pada Selasa, 18 Februari 2025, dan hingga kini masih menjadi bahan perbincangan di berbagai platform digital. Dalam video berdurasi singkat itu, terlihat seorang pria yang mengenakan jaket khas mitra ojol sedang berhenti di sebuah lokasi. Yang menjadi sorotan utama adalah posisi kantong plastik berisi makanan yang diikat menggunakan tali dan digantung di bagian samping jok, tepat di dekat kaki pengemudi. Kondisi ini diperparah dengan adanya seorang penumpang yang duduk di belakang pengemudi, sehingga ruang gerak makanan tersebut menjadi semakin sempit dan berisiko tinggi untuk terjatuh, tumpah, atau bahkan terinjak.

Dalam keterangan yang ditulis pada unggahan tersebut, pemilik akun menyampaikan kekesalannya dengan nada sindiran. “Duh, ojol ini sembarangan taruh makanan tanpa pakai box. Kasian makanannya, bisa tumpah atau kena debu,” tulis keterangan tersebut, yang dikutip pada Rabu, 19 Februari 2025. Unggahan ini pun langsung membanjiri kolom komentar dengan beragam respons dari warganet. Sebagian besar warganet menyayangkan tindakan pengemudi tersebut dan menganggapnya sebagai bentuk kelalaian yang tidak bisa ditoleransi, terlebih profesi ojol saat ini telah menjadi salah satu tulang punggung layanan pesan-antar makanan di perkotaan.

Banyak warganet yang menggarisbawahi pentingnya standar higienitas dalam proses pengantaran makanan. Seorang warganet menuliskan, “Makanan kan harus higienis, masa ditaruh begitu aja. Apalagi di jalanan banyak debu dan polusi.” Komentar serupa juga datang dari warganet lain yang menyoroti risiko kerusakan rasa dan kualitas makanan akibat perlakuan yang tidak semestinya. “Kalau kececeran atau kemasukan angin, rasanya jadi tidak enak. Kasian yang pesan,” sahut warganet lainnya. Tidak sedikit pula yang menyindir bahwa tindakan seperti ini dapat merusak kepercayaan publik terhadap layanan ojol secara keseluruhan.

Peristiwa ini kembali membuka diskusi yang lebih luas mengenai pentingnya kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) dalam industri layanan transportasi dan pengantaran makanan. Penggunaan box makanan khusus sejatinya bukan sekadar pelengkap atribut, melainkan merupakan elemen penting yang memiliki fungsi ganda. Pertama, box makanan berfungsi sebagai pelindung fisik yang menjaga makanan dari kontaminasi debu, kotoran, dan polusi udara selama perjalanan. Kedua, box tersebut dirancang untuk membantu menjaga suhu makanan, baik agar tetap hangat maupun tidak cepat basi, tergantung pada jenis makanan yang diantar. Dengan demikian, kualitas makanan yang diterima pelanggan tetap terjaga sesuai dengan kondisi saat makanan tersebut disiapkan oleh restoran.

Lebih dari itu, penggunaan box makanan juga merupakan bagian dari penilaian kinerja yang dilakukan oleh perusahaan aplikasi terhadap para mitra pengemudi. Dalam berbagai kesempatan, pihak aplikator telah menegaskan bahwa kepatuhan terhadap SOP, termasuk penggunaan perlengkapan standar, menjadi salah satu indikator utama dalam evaluasi mitra. Pelanggaran terhadap ketentuan ini dapat berujung pada sanksi, mulai dari peringatan hingga pemutusan kemitraan jika dilakukan secara berulang. Sayangnya, meskipun aturan tersebut sudah jelas, masih terdapat oknum-oknum tertentu yang mengabaikannya, baik karena faktor kelalaian, keterburu-buruan, maupun alasan lainnya.

Aksi yang terekam dalam video tersebut menjadi pengingat bahwa masih ada celah dalam pengawasan dan penegakan disiplin di lapangan. Meskipun teknologi aplikasi telah menyediakan fitur penilaian dari pelanggan, tidak semua pelanggan memberikan ulasan atau melaporkan kejadian serupa secara langsung. Oleh karena itu, kesadaran individu dari para pengemudi menjadi kunci utama dalam menjaga reputasi profesi dan kualitas layanan. Seorang pengemudi yang profesional tentu akan memahami bahwa makanan yang diantarnya adalah produk yang akan dikonsumsi oleh orang lain, sehingga kebersihan dan keamanannya adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar.

Peristiwa ini juga menjadi pelajaran bagi para pelanggan untuk lebih jeli dalam memantau proses pengantaran. Meskipun pelanggan tidak dapat mengontrol langsung cara pengemudi membawa makanan, pelanggan dapat memberikan penilaian yang jujur dan konstruktif melalui aplikasi setelah pesanan diterima. Ulasan yang detail, termasuk mengenai kondisi kemasan dan cara pengantaran, dapat menjadi masukan berharga bagi pihak aplikator untuk melakukan evaluasi dan pembinaan terhadap mitra pengemudi. Dengan demikian, ekosistem layanan pesan-antar makanan dapat terus ditingkatkan menuju standar yang lebih baik.

Di sisi lain, kejadian ini juga menyoroti pentingnya edukasi dan sosialisasi yang berkelanjutan kepada para mitra pengemudi. Perusahaan aplikasi diharapkan tidak hanya berhenti pada aturan tertulis, tetapi juga aktif memberikan pelatihan, pengingat berkala, dan insentif bagi pengemudi yang disiplin dalam menjalankan SOP. Pendekatan yang humanis dan suportif akan lebih efektif dalam membangun budaya kerja yang bertanggung jawab dibandingkan hanya mengandalkan sanksi semata. Para pengemudi juga perlu diberikan pemahaman bahwa perlengkapan yang baik, seperti box makanan yang terawat, bukanlah beban, melainkan investasi untuk keberlangsungan usaha mereka.

Fenomena viral seperti ini sebenarnya bukanlah yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, beberapa kali muncul video serupa yang memperlihatkan pengemudi ojol membawa makanan dengan cara yang tidak aman, seperti menaruh makanan di pangkuan penumpang, menggantungnya di spion, atau bahkan meletakkannya di bagasi yang tidak tertutup rapat. Setiap kali kejadian tersebut muncul, publik selalu merespons dengan kecaman yang keras. Namun, respons tersebut sering kali hanya bersifat reaktif dan tidak diikuti dengan perubahan perilaku yang signifikan dari sebagian kecil oknum pengemudi. Hal ini menunjukkan bahwa perlu adanya mekanisme pengawasan yang lebih ketat dan transparan dari pihak aplikator, termasuk pemanfaatan teknologi GPS dan kamera untuk memantau kondisi pengantaran secara real-time.

Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, cara pengantaran makanan yang tidak higienis dapat menimbulkan risiko kontaminasi silang. Makanan yang terpapar debu jalanan, asap kendaraan, atau bahkan percikan air hujan dapat menjadi media pertumbuhan bakteri yang berbahaya bagi kesehatan konsumen. Padahal, konsumen yang memesan makanan melalui layanan ojol biasanya memiliki harapan tinggi terhadap kebersihan dan keamanan produk yang mereka terima. Kegagalan dalam menjaga aspek ini tidak hanya merugikan konsumen secara langsung, tetapi juga dapat menimbulkan dampak negatif yang lebih luas terhadap reputasi industri kuliner dan layanan pengantaran secara keseluruhan.

Pada akhirnya, setiap pihak memiliki peran masing-masing dalam menjaga kualitas layanan. Pengemudi ojol berkewajiban untuk mematuhi SOP dan menggunakan perlengkapan yang telah disediakan. Perusahaan aplikasi berkewajiban untuk memberikan pembinaan dan pengawasan yang memadai. Sementara itu, pelanggan memiliki hak untuk menuntut pelayanan terbaik dan memberikan masukan yang membangun. Dengan sinergi yang baik antara ketiga pihak tersebut, diharapkan kejadian-kejadian yang merugikan seperti yang terekam dalam video viral ini dapat diminimalisir, bahkan dihilangkan. Kepercayaan publik adalah aset paling berharga dalam bisnis layanan berbasis aplikasi, dan kepercayaan tersebut harus dijaga melalui tindakan nyata, bukan sekadar janji atau slogan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

A+ A-
Kuliner Jawa

Live Search