Cicip Sate Jando dan Rujak Buni Viral di Kampoeng Tempo Doloe!

JF3 Food Festival kembali berlangsung pada 2026 ini. Sekitar 100 lebih tenant kuliner hadir dalam festival tersebut. Mulai dari sate jando hingga rujak buni.

Cicip Sate Jando dan Rujak Buni Viral di Kampoeng Tempo Doloe!

Kuliner Viral di Kampoeng Tempo Doloe: Sate Jando dan Rujak Buni yang Wajib Dicoba

Jakarta, 25 Agustus 2026 – Kawasan wisata budaya Betawi, Kampoeng Tempo Doloe, yang terletak di Setu Babakan, Jakarta Selatan, tengah menjadi pusat perhatian para pecinta kuliner. Dua menu tradisional yang sebelumnya jarang terdengar, yaitu sate jando dan rujak buni, kini berhasil mencuri perhatian publik setelah ramai dibahas di berbagai platform media sosial. Fenomena ini tidak hanya menghidupkan kembali cita rasa kuliner Betawi yang hampir terlupakan, tetapi juga mendorong kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara ke kawasan yang dikenal sebagai kampung budaya tersebut.

Sate Jando: Keunikan Tekstur dan Cita Rasa yang Menggoda

Sate jando merupakan hidangan yang terbuat dari bagian jeroan sapi, tepatnya pankreas atau lemak yang menempel pada usus. Bagian ini memiliki tekstur yang kenyal namun lembut, dengan rasa gurih yang kuat dan sedikit manis alami. Di Kampoeng Tempo Doloe, para pedagang mengolah sate jando dengan cara dibakar menggunakan bumbu kecap manis yang dicampur irisan cabai, menghasilkan aroma smoky yang menggugah selera. Sate ini biasanya disajikan dengan lontong yang padat dan sambal kecap pedas sebagai pelengkap, menciptakan kombinasi rasa yang seimbang antara gurih, manis, dan pedas.

Menurut salah seorang pedagang yang telah berjualan di lokasi tersebut selama bertahun-tahun, sate jando sebenarnya sudah menjadi bagian dari kuliner khas Betawi sejak lama. Namun, popularitasnya baru melonjak drastis dalam beberapa bulan terakhir setelah banyak konten kreator dan food vlogger mengulasnya secara mendetail. “Dulu jarang yang berani jual karena banyak yang belum tahu cara mengolahnya. Sekarang justru banyak yang mencari karena penasaran dengan rasanya yang unik,” ujarnya saat ditemui di lapak dagangannya, Selasa (25/8/2026).

Proses pembuatan sate jando membutuhkan keahlian khusus, terutama dalam hal pembersihan dan perebusan awal untuk menghilangkan bau amis yang mungkin masih tersisa. Setelah melalui tahap tersebut, potongan jando direndam dalam bumbu rempah selama beberapa jam sebelum akhirnya dibakar di atas bara api. Hasilnya adalah sate yang tidak berbau menyengat, melainkan justru mengeluarkan aroma gurih yang khas. Hal inilah yang membuat banyak pengunjung awalnya ragu, tetapi akhirnya terkesan setelah mencicipinya.

Rujak Buni: Kesegaran yang Menggoda di Tengah Terik Jakarta

Selain sate jando, rujak buni juga menjadi primadona baru di Kampoeng Tempo Doloe. Buni adalah buah kecil berwarna cokelat kehitaman yang tumbuh subur di wilayah tropis, termasuk Indonesia. Buah ini memiliki rasa asam manis yang menyegarkan dengan tekstur lembut ketika digigit. Dalam sajian rujak buni, buah buni dicampur dengan potongan nanas, kedondong, dan bengkuang, lalu disiram dengan sambal gula merah yang pedas dan sedikit asin.

Perpaduan antara rasa asam dari buah-buahan, manis dari gula merah, dan pedas dari cabai menciptakan sensasi rasa yang kompleks namun tetap ringan di lidah. Keunikan utama rujak buni terletak pada tekstur buni yang sedikit kenyal dan berair, memberikan pengalaman makan yang berbeda dibandingkan rujak buah pada umumnya. Sambal gula merah yang digunakan juga dibuat secara tradisional dengan campuran terasi dan garam, sehingga menghasilkan aroma yang kuat dan menggoda.

Para pengunjung yang datang ke Kampoeng Tempo Doloe tampak antusias mencoba kedua menu tersebut. Salah seorang pengunjung, Rina (32), warga Depok, mengaku sengaja datang jauh-jauh setelah melihat ulasan sate jando di media sosial. “Penasaran sekali karena di tempat lain tidak ada. Setelah mencoba, ternyata enak banget. Tidak bau sama sekali, justru gurih dan kenyal. Rujak buninya juga segar dan pas untuk cuaca panas seperti ini,” ungkapnya sambil menikmati pesanannya.

Antusiasme serupa juga ditunjukkan oleh pengunjung lain yang datang bersama keluarga. Mereka mengaku senang karena bisa menikmati kuliner langka sambil belajar tentang budaya Betawi melalui arsitektur rumah tradisional dan pertunjukan seni yang sering diadakan di kawasan tersebut.

Harga Terjangkau dan Suasana Tempo Dulu yang Autentik

Salah satu daya tarik utama dari kuliner viral ini adalah harganya yang relatif terjangkau. Sate jando dijual mulai dari Rp 20 ribu per porsi, sudah termasuk lontong dan sambal kecap. Sementara itu, rujak buni dibanderol dengan harga Rp 15 ribu per porsi. Dengan kisaran harga tersebut, pengunjung dapat menikmati pengalaman kuliner yang unik tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.

Selain menikmati makanan, pengunjung juga diajak untuk merasakan suasana tempo dulu yang kental di Kampoeng Tempo Doloe. Kawasan ini dihiasi oleh rumah-rumah tradisional Betawi dengan arsitektur khas, seperti rumah panggung dengan ukiran kayu yang detail. Di beberapa sudut, terdapat juga gerobak-gerobak tua dan perlengkapan rumah tangga antik yang menjadi latar belakang menarik untuk berfoto. Suasana ini semakin hidup dengan adanya penampilan musik gambang kromong dan tari topeng Betawi pada waktu-waktu tertentu.

Bagi Anda yang tertarik untuk mencoba sate jando dan rujak buni, Kampoeng Tempo Doloe buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Lokasinya berada di Jalan Betawi Raya, Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Akses menuju lokasi cukup mudah, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Namun, perlu diingat bahwa pada akhir pekan jumlah pengunjung biasanya meningkat tajam, sehingga disarankan untuk datang lebih awal agar tidak kehabisan stok makanan dan mendapatkan tempat duduk yang nyaman.

Fenomena viralnya sate jando dan rujak buni ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional Indonesia masih memiliki tempat yang kuat di hati masyarakat, terutama ketika disajikan dengan cara yang menarik dan dipromosikan melalui media sosial. Kehadiran kedua menu ini juga memberikan dampak positif bagi perekonomian warga setempat, yang sebagian besar menggantungkan hidup dari sektor pariwisata dan kuliner di kawasan Setu Babakan. Dengan terus berkembangnya minat terhadap makanan tradisional, diharapkan semakin banyak kuliner khas Betawi lainnya yang dapat diangkat dan dilestarikan untuk generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

A+ A-
Kuliner Jawa

Live Search