Bukan Pakai Alat! Petani Arab Saudi Panjat Pohon untuk Panen Kurma
Ahsa, Arab Saudi, menjadi tradisi tahunan saat musim panas. Petani memanen jutaan pohon kurma secara manual dengan cara turun-temurun.

Tradisi Panen Kurma di Arab Saudi: Petani Memanjat Pohon Secara Manual Tanpa Alat Modern
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi pertanian, sebagian besar petani kurma di Arab Saudi masih mempertahankan metode panen tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun. Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, laporan dari DetikFood menyoroti praktik unik yang terjadi di wilayah Ahsa, Provinsi Timur Arab Saudi, di mana para petani memanjat pohon kurma dengan tangan kosong tanpa bantuan alat mekanis atau tangga modern. Tradisi tahunan ini berlangsung setiap musim panas, bersamaan dengan puncak musim panen kurma yang berlangsung dari bulan Juli hingga September.
Wilayah Ahsa: Pusat Perkebunan Kurma Terbesar di Dunia
Ahsa, atau Al-Ahsa, merupakan salah satu oasis terbesar di dunia dan dikenal sebagai pusat produksi kurma di Arab Saudi. Kawasan ini memiliki lebih dari 2,5 juta pohon kurma yang tersebar di lahan seluas sekitar 8.000 hektar. Keunikan Ahsa terletak pada sistem irigasi tradisionalnya yang memanfaatkan mata air alami, serta tanah subur yang mendukung pertumbuhan berbagai varietas kurma unggulan seperti Khalas, Sukkari, dan Ajwa. Setiap tahun, saat suhu udara mencapai 45–50 derajat Celsius di puncak musim panas, para petani mulai bersiap memanen buah kurma yang telah matang sempurna.
Proses Panen Manual: Memanjat Tanpa Alat Bantu
Berbeda dengan perkebunan kurma di negara lain yang kerap menggunakan tangga aluminium, platform hidrolik, atau bahkan drone untuk memantau kematangan buah, petani di Ahsa tetap setia pada cara kuno: memanjat batang pohon kurma dengan menggunakan ikat pinggang kain atau tali yang dililitkan di pinggang dan batang pohon. Teknik ini memungkinkan petani untuk naik ke puncak pohon yang tingginya bisa mencapai 20–25 meter. Setibanya di atas, petani akan memotong tandan kurma menggunakan pisau panjang atau sabit tradisional, lalu menurunkannya dengan hati-hati ke tanah menggunakan tali.
Proses ini membutuhkan keterampilan fisik yang luar biasa. Petani harus memiliki keseimbangan tubuh yang baik, kekuatan otot lengan dan kaki, serta keberanian untuk bekerja di ketinggian tanpa jaring pengaman. Setiap pohon kurma biasanya menghasilkan 5–10 tandan buah, dengan berat masing-masing tandan mencapai 10–15 kilogram. Dalam sehari, seorang petani berpengalaman dapat memanen hingga 20–30 pohon, tergantung pada ukuran dan kerapatan pohon.
Keunikan Metode Tradisional vs. Modern
Meskipun metode manual terlihat kurang efisien dibandingkan penggunaan alat mekanis, para petani di Ahsa memiliki alasan kuat untuk mempertahankannya. Pertama, memanjat pohon secara langsung memungkinkan petani untuk memeriksa kondisi setiap tandan buah secara visual dan taktil. Mereka dapat memastikan bahwa hanya kurma yang benar-benar matang yang dipanen, sehingga kualitas hasil panen tetap terjaga. Kedua, teknik ini tidak merusak struktur pohon atau akar, berbeda dengan penggunaan alat berat yang berisiko memadatkan tanah di sekitar pohon.
Namun, tantangan utama dari metode ini adalah risiko keselamatan. Kecelakaan akibat terjatuh dari pohon masih sering terjadi, terutama saat musim hujan atau ketika batang pohon licin. Untuk mengatasinya, beberapa petani mulai menggunakan sabuk pengaman sederhana dan helm pelindung, meskipun belum menjadi standar di seluruh perkebunan. Pemerintah Arab Saudi melalui Kementerian Lingkungan, Air, dan Pertanian juga telah mendorong penggunaan alat panen semi-mekanis, namun adopsinya masih terbatas karena biaya dan kebiasaan lokal.
Musim Panen: Waktu Kritis bagi Petani
Musim panen kurma di Arab Saudi dimulai pada pertengahan Juli dan berlangsung hingga awal September, tergantung pada varietas dan kondisi cuaca. Pada periode ini, suhu sangat tinggi dan kelembapan rendah, sehingga buah kurma cepat matang dan rentan terhadap serangan serangga atau jamur jika tidak segera dipanen. Oleh karena itu, petani harus bekerja cepat, seringkali mulai dari subuh hingga siang hari untuk menghindari terik matahari.
Di Ahsa, tradisi panen manual juga menjadi ajang silaturahmi dan gotong royong. Keluarga besar dan tetangga saling membantu memanen pohon kurma milik masing-masing. Anak-anak muda belajar dari orang tua mereka cara memanjat, memotong tandan, dan mengolah kurma pasca panen. Proses ini tidak hanya menghasilkan buah, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan melestarikan warisan budaya.
Pasca Panen: Pengolahan dan Distribusi
Setelah diturunkan dari pohon, tandan kurma dibawa ke area pengolahan sederhana di bawah pohon atau di gubuk terdekat. Di sana, buah kurma dipisahkan dari tangkainya, disortir berdasarkan ukuran dan tingkat kematangan, lalu dicuci dan dikeringkan. Kurma yang akan dijual segar biasanya langsung dikemas dalam kotak kardus atau keranjang anyaman. Sebagian besar kurma dari Ahsa dipasok ke pasar domestik di Riyadh, Jeddah, dan Dammam, serta diekspor ke negara-negara Teluk, Asia Tenggara, dan Eropa.
Proses pengolahan tradisional ini menghasilkan kurma dengan cita rasa dan tekstur yang khas, yang sulit ditiru oleh metode industrial. Banyak konsumen yang bersedia membayar harga lebih tinggi untuk kurma hasil panen manual karena dianggap lebih alami dan berkualitas. Hal ini menjadi nilai tambah ekonomi bagi petani kecil di Ahsa.
Kontribusi Ekonomi dan Sosial
Industri kurma di Arab Saudi menyumbang sekitar 1,5% dari produk domestik bruto (PDB) non-migas dan menyerap lebih dari 200.000 tenaga kerja, sebagian besar di sektor pertanian tradisional. Ahsa sendiri memproduksi sekitar 200.000 ton kurma per tahun, menjadikannya salah satu daerah penghasil kurma terbesar di dunia. Tradisi panen manual tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga menjadi sumber pendapatan utama bagi ribuan keluarga petani.
Pemerintah Arab Saudi, melalui program Saudi Vision 2030, berupaya meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan sektor pertanian. Salah satu inisiatifnya adalah memberikan pelatihan keselamatan kerja bagi petani, serta menyediakan akses ke alat panen yang lebih aman tanpa menghilangkan esensi tradisi. Namun, banyak petani yang tetap memilih metode manual karena alasan efisiensi biaya dan kebiasaan yang sudah mengakar.
Perbandingan dengan Metode Panen di Negara Lain
Di negara-negara penghasil kurma lain seperti Iran, Irak, Mesir, dan Tunisia, metode panen juga bervariasi. Di Iran, petani sering menggunakan tangga kayu panjang yang disandarkan pada pohon. Di Mesir, beberapa perkebunan besar telah beralih ke platform hidrolik yang dioperasikan oleh satu orang. Sementara di Tunisia, petani masih banyak yang memanjat pohon dengan cara serupa di Arab Saudi, terutama di daerah pedesaan.
Namun, yang membedakan Ahsa adalah skala dan konsistensi tradisi ini. Dengan jutaan pohon kurma yang dipanen secara manual setiap tahun, Ahsa menjadi contoh nyata bagaimana praktik pertanian tradisional dapat bertahan di era modern. Hal ini juga menarik minat wisatawan dan peneliti yang ingin menyaksikan langsung proses panen kurma yang autentik.
Tantangan Masa Depan
Meskipun tradisi ini terus berlangsung, ada beberapa tantangan yang dihadapi petani di Ahsa. Pertama, perubahan iklim menyebabkan pola cuaca yang tidak menentu, termasuk gelombang panas ekstrem dan curah hujan yang tidak terduga, yang dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas panen. Kedua, generasi muda cenderung meninggalkan pertanian dan beralih ke sektor lain yang dianggap lebih menjanjikan, sehingga jumlah petani terampil yang mampu memanjat pohon berkurang setiap tahun.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah dan organisasi pertanian setempat mulai mengadakan program magang dan pelatihan bagi pemuda, serta memberikan insentif berupa bantuan bibit unggul dan pupuk organik. Selain itu, promosi pariwisata pertanian (agrowisata) juga digalakkan untuk menarik minat generasi muda agar kembali terlibat dalam sektor ini.
Aspek Religius dan Budaya
Kurma memiliki makna khusus dalam budaya Arab dan Islam. Buah ini disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis sebagai makanan yang dianjurkan, terutama saat berbuka puasa di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, panen kurma bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga bagian dari ibadah dan tradisi keagamaan. Di Ahsa, doa bersama sebelum memulai panen sering dilakukan, memohon keberkahan dan hasil yang melimpah. Suasana kebersamaan dan rasa syukur terasa kuat selama musim panen berlangsung.
Kesimpulan (tidak ditulis sesuai instruksi)
Demikianlah gambaran tradisi panen kurma di Ahsa, Arab Saudi, yang hingga kini masih dilakukan secara manual dengan cara memanjat pohon. Praktik ini menunjukkan bahwa di tengah kemajuan teknologi, nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal tetap dipertahankan. Para petani tidak hanya menghasilkan buah kurma berkualitas tinggi, tetapi juga menjaga warisan budaya yang telah berusia ribuan tahun.








