Audi Marissa Asyik Jajan Tahu Gejrot & Susu Pisang di Korsel!
Aktris Audi Marissa ternyata hobi kulineran. Makanan kaki lima seperti tahu gejrot hingga jajanan minimarket di Korea Selatan jadi kudapan pilihannya.

Audi Marissa Jajan Tahu Gejrot dan Susu Pisang di Korea Selatan
Aktris Audi Marissa kembali menunjukkan bahwa kecintaannya terhadap kuliner tidak pernah surut, bahkan ketika berada jauh dari Tanah Air. Di tengah kesibukannya di Korea Selatan, ia menyempatkan diri untuk menikmati tahu gejrot, salah satu makanan kaki lima khas Indonesia, serta susu pisang kemasan yang menjadi jajanan ikonik di minimarket-minimarket Korea Selatan. Pilihan kudapan yang sederhana namun penuh makna ini menarik perhatian penggemar dan warganet yang kerap memantau aktivitas para selebriti di media sosial.
Tahu gejrot sendiri merupakan hidangan tradisional yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Makanan ini terbuat dari tahu goreng yang dipotong kecil-kecil, kemudian disiram dengan kuah gula merah yang dicampur irisan cabai rawit, bawang merah, bawang putih, dan sedikit air asam jawa. Perpaduan rasa manis, pedas, asam, dan gurih menjadikan tahu gejrot digemari oleh berbagai kalangan, baik sebagai camilan sore maupun pendamping santapan utama. Harga jualnya yang terjangkau dan cara penyajiannya yang sederhana membuat kuliner ini mudah ditemukan di warung pinggir jalan, pasar tradisional, hingga gerai-gerai modern di berbagai kota besar Indonesia.
Menariknya, di tengah melimpahnya pilihan makanan khas Korea Selatan seperti tteokbokki, gimbap, hotteok, dan jjajangmyeon, Audi Marissa justru memilih tahu gejrot sebagai kudapan. Hal ini menunjukkan bahwa selera kuliner Nusantara tetap melekat kuat dalam kesehariannya meskipun ia sedang berada di luar negeri. Fenomena ini juga sejalan dengan kebiasaan banyak diaspora Indonesia yang kerap mencari atau membawa bahan-bahan khas Indonesia ketika merantau agar tetap bisa menikmati cita rasa rumah. Kehadiran makanan Indonesia di Korea Selatan sendiri sebenarnya semakin berkembang, dengan sejumlah restoran Indonesia yang dapat ditemukan di kawasan seperti Itaewon dan area sekitar kedutaan besar, meskipun popularitas tahu gejrot di pasar internasional belum sebesar rendang, sate, atau nasi goreng. Dengan demikian, keputusan Audi Marissa untuk menikmati tahu gejrot di negeri ginseng dapat dilihat sebagai bentuk apresiasi sekaligus pengenalan kuliner Nusantara yang lebih beragam kepada khalayak luas.
Di sisi lain, susu pisang yang turut dinikmati oleh Audi Marissa merupakan salah satu minuman paling ikonik di Korea Selatan. Minuman kemasan ini pertama kali diperkenalkan pada era 1970-an dan dengan cepat menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Korea. Berbeda dengan susu pisang yang dibuat dari buah asli, susu pisang kemasan asal Korea umumnya menggunakan perisa sintetis yang meniru aroma dan rasa pisang, tetapi tetap digemari karena konsistensi rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut. Produk susu pisang merek ternama dari Korea Selatan dapat dengan mudah ditemukan di gerai-gerai minimarket seperti CU, GS25, dan 7-Eleven yang tersebar hampir di setiap sudut kota, dari Seoul hingga Busan. Harganya yang relatif terjangkau menjadikannya pilihan minuman favorit bagi pelajar, pekerja kantoran, maupun wisatawan asing.
Bagi wisatawan asal Indonesia, membeli susu pisang di minimarket Korea Selatan telah menjadi semacam ritual wajib ketika berkunjung ke negara tersebut. Banyak konten kreator, selebriti, dan pelancong yang membagikan momen membeli susu pisang di Korea sebagai bagian dari pengalaman budaya setempat. Minuman ini juga kerap dijadikan oleh-oleh karena praktis untuk dibawa dan memiliki rasa yang khas yang tidak mudah ditemukan di negara lain. Dalam beberapa tahun terakhir, popularitas susu pisang Korea bahkan melampaui batas negara dan menjadi ikon budaya pop, terutama setelah sering muncul dalam berbagai drama Korea dan acara varietas yang ditayangkan secara global.
Kegemaran Audi Marissa terhadap dunia kuliner sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sebagai aktris yang aktif di industri hiburan Tanah Air, ia kerap terlihat menikmati berbagai jenis makanan, baik makanan berat maupun camilan ringan. Melalui unggahan-unggahan di media sosial, ia menunjukkan bahwa menikmati makanan tidak harus selalu dilakukan di restoran mewah atau tempat yang berkelas. Makanan sederhana seperti tahu gejrot dan jajanan minimarket pun dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan dan layak untuk dibagikan. Sikap ini mencerminkan tren yang lebih luas di kalangan selebriti Indonesia, di mana semakin banyak artis yang terbuka membagikan aktivitas kuliner mereka, termasuk ketika sedang bepergian ke luar negeri.
Konten semacam ini tidak hanya menghibur penggemar, tetapi juga memberikan referensi praktis bagi mereka yang ingin mencoba pengalaman serupa. Ketika seorang publik figur menikmati makanan kaki lima atau produk minimarket di negara lain, hal itu secara tidak langsung menjadi jembatan budaya yang menunjukkan bahwa makanan dapat menjadi perekat antarbudaya. Interaksi antara dua jenis makanan yang berbeda, yakni tahu gejrot dari Cirebon dan susu pisang dari Korea Selatan, memperlihatkan bagaimana pengalaman kuliner seseorang dapat bersifat lintas budaya. Audi Marissa tampaknya menikmati keseimbangan antara kerinduan akan rasa rumahan dan keinginan untuk mencoba hal-hal baru di negara yang sedang dikunjunginya. Cara semacam ini juga kerap dianjurkan oleh para pelancong berpengalaman, yaitu menjaga keseimbangan antara mencicipi makanan lokal dan mencari makanan yang akrab bagi lidah agar perjalanan tetap nyaman.
Kehadiran Audi Marissa di Korea Selatan juga mengingatkan pada kuatnya hubungan budaya antara Indonesia dan Korea Selatan dalam beberapa dekade terakhir. Gelombang Korea atau Korean Wave telah memengaruhi banyak aspek kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk musik, drama, fashion, hingga makanan dan gaya hidup. Sebaliknya, kuliner Indonesia juga mulai dikenal di Korea Selatan berkat promosi dari berbagai pihak, termasuk diplomat, pelaku usaha, dan selebriti yang membagikan konten mereka. Ketika Audi Marissa menikmati tahu gejrot di Korea Selatan, ia secara tidak langsung ikut mempromosikan kekayaan kuliner Indonesia kepada khalayak internasional yang lebih luas. Hal ini sejalan dengan upaya promosi wisata dan gastronomi yang gencar dilakukan oleh berbagai pihak dalam memperkenalkan makanan khas Nusantara ke pasar global.
Selain nilai budayanya, kisah kuliner Audi Marissa ini juga dapat menjadi pengingat bahwa makanan jalanan memiliki daya tarik universal. Di berbagai belahan dunia, makanan kaki lima sering dianggap sebagai representasi autentik dari budaya setempat. Di Indonesia, tahu gejrot adalah salah satu contohnya, sementara di Korea Selatan, jajanan seperti hotteok, odeng, dan tteokbokki mendominasi pasar malam dan gerobak pinggir jalan. Apresiasi terhadap kedua jenis makanan ini menunjukkan kesadaran bahwa kenikmatan tidak selalu datang dari hidangan yang rumit atau mahal. Justru kesederhanaan dan keaslian rasa yang sering kali meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang mencicipinya.
Dari sisi kesehatan, baik tahu gejrot maupun susu pisang kemasan memiliki karakteristik yang perlu diperhatikan. Tahu merupakan sumber protein nabati yang baik bagi tubuh, namun kuah gula merah pada tahu gejrot mengandung gula yang cukup tinggi sehingga sebaiknya dikonsumsi secara bijak. Demikian pula dengan susu pisang kemasan yang mengandung gula tambahan, sehingga konsumsinya perlu dibatasi bagi mereka yang sedang menjaga asupan gula harian atau memiliki kondisi kesehatan tertentu. Meskipun demikian, sebagai camilan sesekali, kedua makanan ini tetap dapat dinikmati tanpa masalah berarti bagi kebanyakan orang.
Kisah Audi Marissa yang asyik jajan tahu gejrot dan susu pisang di Korea Selatan ini menegaskan bahwa makanan memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar pengisi perut. Makanan mampu menghubungkan seseorang dengan kenangan, budaya, dan identitas. Bagi para penggemar yang ingin mengikuti jejak Audi Marissa, menikmati tahu gejrot tidaklah sulit karena hidangan ini dapat ditemukan dengan mudah di berbagai kota di Indonesia, terutama di kota asalnya, Cirebon, serta di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Banyak pedagang kaki lima yang menjual tahu gejrot dengan harga terjangkau dalam porsi kecil yang pas untuk camilan. Sementara itu, bagi yang sedang berada di Korea Selatan atau berencana berkunjung ke sana, susu pisang dapat dibeli di hampir semua minimarket dengan harga yang relatif murah, menjadikannya pengalaman kuliner yang mudah diakses oleh siapa saja.








