Arkeolog Temukan ‘Nenek Moyang’ Bakcang Berusia 2.200 Tahun

Bakcang ternyata punya jejak panjang dari ribuan tahun lalu. Arkeolog di China menemukan makanan mirip zongzi yang diperkirakan berusia 2.200 tahun.

Arkeolog Temukan ‘Nenek Moyang’ Bakcang Berusia 2.200 Tahun

Penemuan arkeologi di daratan Tiongkok kembali mencuri perhatian dunia ilmu pengetahuan dan sejarah kebudayaan. Tim peneliti dan arkeolog berhasil mengidentifikasi peninggalan kuliner tertua yang diyakini kuat sebagai cikal bakal atau “nenek moyang” dari bakcang (dikenal secara luas sebagai zongzi). Temuan luar biasa berupa bungkusan daun berisi bahan makanan ini diperkirakan telah berusia lebih dari 2.200 tahun, berasal dari Periode Negara-Negara Berperang (Warring States Period, sekitar 475 SM – 221 SM). Temuan ini memberikan wawasan konkret mengenai akar tradisi pembungkusan makanan yang hingga kini masih lestari dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa serta berbagai adaptasinya di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pada Sabtu, 26 September 2026, analisis laboratorium terbaru terhadap artefak organik tersebut mengonfirmasi metode preparasi dan kebiasaan konsumsi masyarakat zaman lampau secara mendalam.

Artefak pangan purba ini diekskavasi dari kompleks pemakaman kuno di Situs Reruntuhan Kota Chengyang, yang berada di wilayah Xinyang, Provinsi Henan. Situs ini tercatat sebagai salah satu benteng pertahanan dan pusat kebudayaan penting milik Negara Chu, salah satu kekuatan regional terbesar pada masa akhir Dinasti Zhou. Saat para arkeolog membuka salah satu peti mati bangsawan di bilik makam kuno yang terendam air dan terlindung oleh lapisan tanah liat padat, mereka menemukan sejumlah bungkusan organik yang strukturnya masih utuh. Kondisi lingkungan makam yang kedap udara (anaerobik) serta tingkat kelembapan yang konstan di bawah tanah terbukti menjadi faktor krusial yang mengawetkan sisa-sisa nabati tersebut dari pembusukan biologis selama lebih dari dua milenium.

Bungkusan makanan tersebut dirangkai menggunakan daun lebar yang dilipat rapi dan diikat erat menggunakan serat tali tanaman alami. Bentuk fisiknya memperlihatkan kemiripan yang mencolok dengan penganan bakcang masa kini yang kerap disajikan dalam bentuk kerucut atau limas segitiga. Ketika pertama kali diangkat ke permukaan, bungkusan-bungkusan ini sempat diduga sebagai wadah penyimpanan herba obat atau jimat ritual pemakaman. Namun, pemeriksaan laboratorium lanjutan dengan teknologi pemindaian modern mengungkap bahwa isi bungkusan tersebut adalah bahan pangan olahan berbahan dasar serealia.

Melalui penerapan metode analisis mikro-botani, terutama analisis fitolit (phytolith analysis) dan pengamatan struktur sel menggunakan mikroskop elektron, para ilmuwan berhasil mengurai komposisi penyusun bungkusan berusia 2.200 tahun tersebut. Daun pembungkus luar diidentifikasi berasal dari daun pohon ek (Quercus) serta varietas alang-alang air. Pemilihan daun jenis ini menunjukkan pemahaman mendalam masyarakat kuno terhadap karakteristik tanaman; daun ek memiliki tekstur tebal, tidak mudah robek saat direbus dalam waktu lama, dan kaya akan senyawa tanin yang berfungsi sebagai agen antibakteri alami.

Di bagian dalam bungkusan daun tersebut, para peneliti menemukan butiran serealia yang terdegradasi namun strukturnya masih dapat dikenali. Sebagian besar materi pengisi bungkusan terdiri dari biji jawawut (foxtail millet), yang dikombinasikan dengan residu beras ketan. Penemuan jawawut dan beras ketan dalam satu wadah memperlihatkan bahwa teknik memadukan berbagai jenis biji-bijian berkarbohidrat tinggi telah dipraktikkan secara luas pada era Chu kuno. Analisis isotop dan residu kimiawi organik juga mendeteksi jejak lipid hewani, mengindikasikan adanya lemak atau daging yang disertakan sebagai isian gurih, formula yang hampir identik dengan bakcang isi daging modern.

Secara kultural, hidangan bakcang selalu dihubungkan secara erat dengan peringatan Festival Peh Cun atau Festival Perahu Naga (Duanwu Festival). Berdasarkan narasi sejarah rakyat, bakcang diciptakan masyarakat untuk dilemparkan ke Sungai Miluo guna melindungi jasad Qu Yuan—penyair patriotik dan negarawan terkemuka dari Negara Chu yang menenggelamkan diri karena duka cita atas kejatuhan negerinya sekitar tahun 278 SM. Ditemukannya fosil bakcang purba di wilayah teritorial Negara Chu pada periode waktu yang persis sama dengan masa hidup Qu Yuan memberikan korelasi arkeologis yang sangat penting terhadap mitologi dan sastra klasik Tiongkok.

Meskipun legenda Qu Yuan menjadi pemantik utama peringatan tahunan festival tersebut, bukti arkeologis di Henan membuktikan bahwa kebiasaan membungkus biji-bijian dengan dedaunan untuk kemudian direbus atau dikukus sudah menjadi bagian dari pola hidup masyarakat sebelum narasi peringatan Qu Yuan terkodifikasi secara luas. Makanan berbungkus daun ini pada mulanya merupakan bekal logistik praktis bagi para prajurit, pemburu, dan penjelajah jarak jauh. Metode ini memungkinkan makanan matang tetap bersih, mudah dibawa dalam perjalanan, dan memiliki masa simpan yang lebih panjang dibanding wadah terbuka. Makanan ini kemudian diintegrasikan ke dalam upacara persembahan kubur bagi kaum bangsawan sebagai simbol bekal perjalanan menuju alam baka.

Penemuan fosil makanan di Situs Chengyang ini menjadi salah satu dari sedikit bukti fisik pangan purba yang berhasil diselamatkan dalam sejarah arkeologi dunia. Sisa-sisa makanan organik umumnya cepat terurai dan lenyap dalam hitungan dekade, sehingga temuan ekskavasi biasanya didominasi oleh benda-benda keras seperti tembikar, perunggu, giok, dan tulang belulang. Keberhasilan mempertahankan struktur fisik bungkusan daun dan serealia selama 22 abad membuka jendela informasi baru mengenai teknologi pemrosesan pangan, keanekaragaman flora domestikasi, serta strata sosial masyarakat pada masa transisi menuju unifikasi Tiongkok di bawah Dinasti Qin.

Dari perspektif kuliner global, temuan ini memperlihatkan kontinuitas gastronomi yang luar biasa panjang. Format dasar bakcang—biji-bijian yang dipadatkan bersama bahan pelengkap, diikat dengan pembungkus daun alami, lalu dimatangkan melalui panas uap atau air mendidih—tetap dipertahankan tanpa perubahan mendasar hingga abad modern. Ketika tradisi ini bermigrasi ke berbagai belahan dunia melalui diaspora Tionghoa, hidangan ini berakulturasi secara luwes dengan bahan-bahan lokal. Di Nusantara, bakcang bertransformasi menggunakan beras lokal dan beras ketan, diisi daging ayam cincang, daging sapi, jamur shiitake, hingga kuning telur asin, serta menggunakan daun bambu atau daun pisang sebagai pembungkus alternatif.

Sisi ilmiah lain yang menarik minat para peneliti adalah mekanisme pertahanan biokimiawi dari teknik pengemasan purba ini. Daun pembungkus yang dipilih memiliki struktur kutikula lilin alami di permukaannya. Saat direbus, lilin alami dan senyawa aromatik dari daun meresap ke lapisan luar nasi atau jawawut, menciptakan lapisan pelindung tipis yang menahan penetrasi mikroorganisme pembusuk dari udara luar. Praktik ini menunjukkan kearifan lokal masa lalu dalam menciptakan teknologi kemasan alami yang aman dan efisien jauh sebelum era modern mengenal plastik kedap udara ataupun pengawet sintetis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

A+ A-
Kuliner Jawa

Live Search