Es Krim Topping Daun Ketumbar ‘Sekebon’, Ngiler atau Bikin Mual?

Viral kreasi es krim unik dengan taburan daun ketumbar melimpah. Saking banyaknya daun ketumbar yang dipakai, sampai disebut ‘sekebon’!

Es Krim Topping Daun Ketumbar ‘Sekebon’, Ngiler atau Bikin Mual?

Es krim umumnya disajikan dengan aneka topping manis yang akrab di lidah, seperti cokelat leleh, keju parut, meses warna-warni, atau potongan buah segar. Kombinasi tersebut sudah menjadi standar yang hampir selalu dijumpai di berbagai gerai es krim, mulai dari warung kecil hingga kedai modern. Namun, belakangan muncul sebuah kreasi yang cukup mengejutkan dan menyimpang dari kebiasaan tersebut, yakni es krim dengan topping daun ketumbar segar. Penampilannya mungkin terlihat menggugah selera bagi sebagian orang, tetapi rasanya dipertanyakan banyak pihak, apakah benar-benar nikmat atau justru membuat mual.

Daun ketumbar, yang dalam dunia kuliner internasional dikenal dengan nama cilantro, memiliki aroma dan cita rasa yang sangat khas. Bagi sebagian orang, daun ini merupakan penyedap masakan yang lezat dan mampu menghadirkan sensasi segar pada berbagai hidangan, mulai dari sup, sambal, hingga masakan berkuah lainnya. Namun, bagi sebagian orang lain, aroma daun ketumbar justru terasa seperti sabun atau bahkan memicu rasa mual. Perbedaan persepsi ini bukan tanpa alasan, karena sensitivitas terhadap aroma ketumbar memang berkaitan dengan faktor genetik tertentu yang membuat sebagian individu merasakan sensasi berbeda ketika mengonsumsinya.

Kreasi es krim dengan topping daun ketumbar ini dibagikan oleh sebuah akun Instagram, @jajanantiktok. Dalam unggahan tersebut, terlihat es krim berwarna putih yang disajikan di dalam cup kertas, sebagaimana es krim pada umumnya. Di atas permukaan es krim itu, terdapat beberapa helai daun ketumbar segar yang diletakkan begitu saja tanpa diolah lebih lanjut. Tampilannya pun cukup kontras, antara warna putih bersih dari es krim dengan warna hijau segar dari daun ketumbar yang menempel di atasnya.

Unggahan tersebut langsung menuai beragam komentar dari warganet. Sebagian merasa penasaran dan ingin mencoba rasa es krim tersebut, sementara yang lain mengaku langsung merasa mual hanya dengan melihat kombinasi tersebut. Salah seorang warganet menuliskan, “Rasanya gimana ya? Penasaran tapi takut.” Komentar lain yang tak kalah menarik datang dari warganet yang menulis, “Astaghfirullah, langsung mual lihatnya.” Reaksi beragam ini menunjukkan bahwa kombinasi tersebut memang memicu perdebatan selera di kalangan pengguna media sosial.

Kombinasi es krim yang manis dan dingin dengan daun ketumbar yang memiliki rasa dan aroma kuat memang terbilang tidak biasa. Bagi para pencinta ketumbar, kreasi ini mungkin bisa menjadi camilan yang menyegarkan dan menawarkan pengalaman rasa yang berbeda dari biasanya. Namun, bagi mereka yang tidak menyukai ketumbar, kreasi ini kemungkinan besar akan terasa aneh, bahkan mengganggu selera. Perdebatan semacam ini sebenarnya bukan hal baru dalam dunia kuliner, karena eksperimen mencampurkan bahan-bahan yang tidak lazim kerap menjadi bahan perbincangan hangat di media sosial.

Fenomena es krim topping daun ketumbar ini juga mencerminkan bagaimana media sosial, khususnya Instagram dan TikTok, telah menjadi ruang bagi para pelaku usaha kuliner untuk menampilkan kreasi-kreasi unik yang berpotensi menarik perhatian publik. Kreasi semacam ini tidak selalu bertujuan untuk menjadi menu utama yang dijual secara luas, tetapi sering kali berfungsi sebagai konten yang memancing rasa penasaran dan interaksi dari warganet. Dengan demikian, perdebatan mengenai rasa es krim tersebut justru menjadi bagian dari daya tarik tersendiri yang membuat unggahan semakin ramai dibicarakan.

Dari sisi kuliner, penggunaan daun ketumbar sebagai topping es krim memang menantang konvensi yang sudah lama berlaku. Es krim secara tradisional dikategorikan sebagai hidangan penutup yang identik dengan rasa manis, sementara ketumbar lebih sering diasosiasikan dengan masakan gurih dan berbumbu. Memadukan keduanya memerlukan pertimbangan cermat mengenai keseimbangan rasa, karena aroma ketumbar yang kuat berpotensi mendominasi dan menutupi rasa manis dari es krim itu sendiri. Tanpa formulasi yang tepat, kombinasi ini berisiko menghasilkan pengalaman rasa yang tidak harmonis.

Meski demikian, keberanian untuk bereksperimen dengan bahan-bahan tidak lazim patut diapresiasi sebagai bagian dari dinamika dunia kuliner yang terus berkembang. Sejarah kuliner menunjukkan bahwa banyak kombinasi yang awalnya dianggap aneh kemudian diterima luas setelah melalui penyesuaian resep dan penyajian. Oleh karena itu, es krim topping daun ketumbar ini bisa dilihat sebagai salah satu bentuk eksplorasi rasa yang menarik untuk dicermati, terlepas dari apakah kreasi tersebut akan bertahan lama atau hanya menjadi tren sesaat di media sosial.

Pada akhirnya, reaksi terhadap es krim topping daun ketumbar sangat bergantung pada preferensi pribadi masing-masing individu. Bagi pencinta ketumbar, kreasi ini bisa menjadi alternatif camilan yang menyegarkan dan layak dicoba. Sebaliknya, bagi yang tidak menyukai aroma ketumbar, kreasi ini mungkin akan terasa aneh dan kurang menggugah selera. Perbedaan selera inilah yang membuat dunia kuliner tetap dinamis, dengan berbagai kreasi baru yang terus bermunculan dan memancing diskusi hangat di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

A+ A-
Kuliner Jawa

Live Search