Warung Halal Singapura Rp35 Ribuan, 14 Menu Jadi Buruan
Sebuah warung makan di Singapura menjadi sorotan. Pasalnya mereka tawarkan hidangan halal, punya 14 menu, harganya rata-rata 2.50 SGD atau Rp 35 ribuan saja.

Warung halal di Singapura ini menarik perhatian karena menawarkan 14 menu seharga Rp35 ribuan. Pemiliknya mengaku ingin menyediakan makanan terjangkau bagi pekerja migran dan warga setempat.
Warung bernama Mr Biryani itu berlokasi di kawasan Little India, Singapura. Tempat makan ini menyajikan menu masakan India dan Bangladesh dengan harga mulai dari SGD 3 atau sekitar Rp35 ribu. Harga tersebut tergolong sangat rendah untuk standar biaya hidup di Singapura, yang dikenal sebagai salah satu negara dengan biaya hidup tertinggi di dunia. Karena itu, keberadaan warung ini menjadi fenomena tersendiri dan menuai perhatian publik, baik di kalangan pekerja migran maupun warga lokal.
Pemilik warung, Mohammed Rahim, mengatakan bahwa ia sengaja menetapkan harga murah agar para pekerja migran bisa makan dengan layak tanpa harus menguras kantong. Menurutnya, keputusan tersebut dilandasi oleh kepedulian terhadap kondisi para pekerja yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan hidup di perantauan.
“Banyak dari mereka bekerja keras sepanjang hari. Mereka butuh makanan yang mengenyangkan dengan harga terjangkau,” ujar Rahim seperti dikutip dari laporan media setempat.
Pernyataan tersebut mencerminkan realitas yang dihadapi banyak pekerja migran di Singapura. Sebagian besar dari mereka mengirimkan penghasilan ke keluarga di kampung halaman, sehingga pengeluaran untuk makan menjadi salah satu pos yang paling ditekan. Dengan harga SGD 3 per porsi, para pekerja dapat menghemat cukup banyak dibandingkan membeli makanan di tempat lain yang harganya bisa dua hingga tiga kali lipat.
Ada 14 menu yang ditawarkan dengan harga tersebut, mulai dari nasi biryani, kari ayam, kari kambing, hingga aneka roti dan teh tarik. Porsi yang disajikan disebut cukup besar untuk satu orang dewasa. Variasi menu ini memberi pelanggan pilihan yang cukup luas, sehingga mereka tidak cepat bosan meski datang setiap hari. Nasi biryani sebagai menu andalan sekaligus menjadi nama warung, sementara kari ayam dan kari kambing menjadi favorit karena rasanya yang kaya rempah dan mengenyangkan.
Meski murah, Rahim memastikan kualitas bahan dan rasa tetap dijaga. Ia bahkan mengaku tidak mengambil keuntungan besar dari setiap porsi yang dijual. Pendekatan ini menunjukkan bahwa warung tersebut tidak sekadar mengejar laba, tetapi juga memiliki misi sosial untuk membantu sesama. Rahim tampaknya memahami bahwa kepercayaan pelanggan dibangun dari konsistensi rasa dan kualitas, bukan hanya dari harga murah. Dengan menjaga standar bahan baku dan proses memasak, ia memastikan bahwa makanan yang disajikan tetap layak dan aman dikonsumsi.
Warung ini pun ramai dikunjungi pelanggan, terutama pada jam makan siang dan malam. Sebagian besar pelanggan adalah pekerja migran asal India, Bangladesh, dan Pakistan yang bekerja di sekitar Little India. Kawasan Little India sendiri dikenal sebagai salah satu pusat komunitas Asia Selatan di Singapura, dengan banyak toko, restoran, dan tempat ibadah yang melayani kebutuhan warga keturunan India. Keberadaan Mr Biryani di kawasan tersebut membuatnya mudah dijangkau oleh para pekerja yang tinggal atau bekerja di sekitarnya.
Selain itu, warung ini juga menarik perhatian warga lokal yang penasaran dengan harga murahnya. Beberapa dari mereka mengaku sering datang karena makanan di sini enak dan porsinya memuaskan. Fenomena ini menunjukkan bahwa daya tarik warung tidak terbatas pada satu kelompok saja. Warga lokal yang ingin mencoba masakan India dan Bangladesh autentik dengan harga bersahabat menjadikan Mr Biryani sebagai pilihan yang menarik. Ulasan dari mulut ke mulut dan unggahan di media sosial turut membantu popularitas warung ini.
Rahim berharap usahanya bisa terus berjalan dan membantu lebih banyak orang. Ia juga berencana menambah menu lain dengan harga terjangkau jika kondisi memungkinkan. Rencana tersebut menunjukkan ambisi untuk terus berkembang tanpa meninggalkan prinsip awal, yaitu menyediakan makanan layak dengan harga yang tidak memberatkan. Jika rencana ini terwujud, Mr Biryani berpotensi menjadi contoh bagaimana sebuah usaha kuliner dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial.
Kisah Mr Biryani juga menyoroti isu yang lebih luas mengenai akses pangan terjangkau di kota-kota dengan biaya hidup tinggi. Di Singapura, harga makanan di pusat kota dan kawasan bisnis bisa sangat mahal, sementara pekerja migran sering kali harus mengatur pengeluaran dengan ketat. Warung seperti ini mengisi celah yang tidak selalu dipenuhi oleh industri kuliner arus utama. Kehadirannya mengingatkan bahwa makanan bukan sekadar komoditas, tetapi juga kebutuhan dasar yang seharusnya dapat diakses semua orang.
Dari sisi kuliner, menu yang ditawarkan Mr Biryani mencerminkan kekayaan tradisi masakan Asia Selatan. Nasi biryani yang berbumbu kuat, kari yang dimasak perlahan, serta roti dan teh tarik merupakan kombinasi yang akrab bagi masyarakat India dan Bangladesh. Bagi pelanggan baru, menu tersebut menjadi pintu masuk untuk mengenal cita rasa yang mungkin belum pernah mereka coba sebelumnya. Kombinasi harga murah, porsi besar, dan rasa yang terjaga menjadikan warung ini sulit untuk diabaikan.
Dengan lokasinya yang strategis di Little India, harga yang ramah kantong, serta komitmen pemiliknya terhadap kualitas dan kepedulian sosial, Mr Biryani menunjukkan bahwa usaha kecil dapat memberikan dampak yang berarti. Keberhasilannya menarik pelanggan dari berbagai latar belakang membuktikan bahwa nilai yang ditawarkan—bukan hanya harga—menjadi alasan orang kembali. Selama Rahim mampu menjaga konsistensi dan mengelola biaya dengan bijak, warung ini berpeluang terus menjadi tempat makan yang dicari banyak orang, terutama mereka yang ingin menikmati makanan enak tanpa harus mengeluarkan biaya besar.








