Unik, Kwetiau di Pulau Ziarah Ini Sepi Pengunjung
Gerai kwetiau ini menempati lokasi unik di sebuah pulau yang ramai dikunjungi peziarah. Namun, penjual kwetiau mengaku kini dagangannya sepi peminat.

Momen libur panjang dan musim ziarah biasanya menjadi berkah tersendiri bagi para pedagang makanan. Keramaian pengunjung yang datang dari berbagai daerah sering kali mendorong naiknya omzet penjualan, terutama bagi mereka yang berjualan di sekitar kawasan wisata religi. Namun, tidak demikian dengan seorang pedagang kwetiau yang viral di media sosial. Ia justru mengaku sepi pembeli meski sedang berada di puncak musim ziarah.
Kisah tersebut dibagikan oleh seorang pedagang kwetiau melalui unggahan di media sosial. Dalam video singkat yang beredar, ia tampak menceritakan kondisi jualannya saat ini. Video itu memperlihatkan suasana dagangannya yang lengang, tanpa antrean pembeli seperti yang biasa dijumpai pada pedagang makanan di kawasan ramai. Unggahan tersebut kemudian menarik perhatian warganet dan menyebar dengan cepat.
Dalam video itu, ia menyebut bahwa dagangannya hanya buka saat musim ziarah tiba. Artinya, ia tidak berjualan setiap hari seperti pedagang pada umumnya, melainkan menyesuaikan diri dengan periode kedatangan peziarah. Namun, meski sudah membuka lapak khusus pada momen yang seharusnya menjadi puncak keramaian, ia mengaku tetap sepi pengunjung.
“Cuma buka saat musim ziarah, tapi tetap saja sepi pengunjung,” ujarnya dalam video tersebut, seperti dikutip dari unggahan di media sosial pada Rabu (21/10/2026).
Pedagang itu pun tampak curhat tentang kondisi yang tengah dialaminya. Ia berharap agar ada pembeli yang datang menghampiri dagangannya. Harapan tersebut disampaikan dengan nada pasrah, mengingat ia sudah menyiapkan dagangan khusus untuk menyambut musim ziarah yang seharusnya ramai.
Kontan, video tersebut pun menarik perhatian warganet. Banyak yang ikut mendoakan agar jualannya ramai kembali. Kolom komentar dipenuhi dukungan moral, mulai dari doa agar rezekinya lancar, hingga saran agar ia mencoba strategi jualan lain. Sebagian warganet juga mengaku prihatin karena momen musim ziarah seharusnya bisa menjadi peluang besar bagi pedagang kecil.
Fenomena ini menarik untuk dicermati. Musim ziarah memang identik dengan lonjakan kunjungan, tetapi tidak semua pedagang otomatis kebanjiran pembeli. Lokasi berjualan, posisi lapak, jenis dagangan, hingga persaingan dengan pedagang lain menjadi faktor yang memengaruhi ramai atau sepinya pembeli. Seorang pedagang yang hanya membuka lapak pada periode tertentu juga menghadapi tantangan tersendiri, karena ia harus memaksimalkan penjualan dalam waktu yang terbatas.
Selain itu, cara berjualan dan promosi turut berperan. Di era媒体 sosial seperti sekarang, pedagang yang aktif membagikan konten menarik cenderung lebih mudah dikenal calon pembeli. Kisah pedagang kwetiau ini justru menjadi contoh bagaimana media sosial bisa menjadi sarana curhat sekaligus ajang mencari dukungan. Meski belum tentu langsung mendatangkan pembeli, unggahan semacam ini setidaknya membuat dagangannya lebih dikenal oleh warganet.
Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa tidak semua pedagang makanan merasakan berkah yang sama saat libur panjang atau musim tertentu. Ada kalanya faktor di luar kendali, seperti perubahan rute kunjungan, cuaca, atau sepinya kawasan tempat berjualan, membuat dagangan tetap lengang. Bagi pedagang kecil, dukungan pembeli dan doa dari sesama menjadi penyemangat agar tetap bertahan.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi mengenai lokasi pasti pedagang tersebut berjualan maupun jumlah pembeli yang datang. Namun, video curhat itu telah menjadi perbincangan hangat di media sosial dan menyita perhatian banyak warganet yang ikut merasakan empati terhadap kondisi pedagang kwetiau tersebut.








