Lamak Bana! Soto Padang Bukittinggi di Pujasera Blok M
Di Blok M, tak hanya ada makanan viral. Siapa sangka, pada area pujaseranya juga ada soto Padang legendaris yang resepnya otentik khas Bukittinggi.

Kawasan Blok M di Jakarta Selatan telah lama dikenal sebagai salah satu episentrum kuliner paling dinamis di ibu kota. Pada Minggu, 27 September 2026, deretan lorong dan pusat jajanan di kawasan ini tetap dipadati oleh pencinta kuliner yang berburu aneka hidangan legendaris. Di tengah menjamurnya kafe modern dan gerai makanan kekinian di kawasan Melawai dan M Bloc, pesona ruang-ruang kuliner tradisional di dalam sentra pujasera Blok M tetap memancarkan daya tarik tersendiri. Salah satu permata tersembunyi yang menjadi magnet bagi penikmat rasa otentik Ranah Minang adalah gerai Soto Padang Mak Datuak, yang menyajikan soto khas Bukittinggi dengan cita rasa yang pantas dipuji dengan ungkapan lamak bana.
Pujasera Blok M yang menampung warung soto ini menawarkan atmosfer bersantap yang merakyat dan sarat nostalgia. Meskipun letak kedainya tersembunyi di antara jajaran kios makanan lainnya, kepulan asap beraroma rempah pekat menjadi penuntun alami bagi para pengunjung. Kehadiran kuliner khas Minangkabau di kawasan pujasera ini membuktikan bahwa selera terhadap masakan tradisional berbasis rempah nusantara tidak pernah surut, bahkan di tengah kepungan tren kuliner global.
Soto Padang khas Bukittinggi memiliki perbedaan karakteristik yang cukup kontras jika disandingkan dengan varian soto dari pulau Jawa. Jika soto dari berbagai daerah di Jawa lazim menggunakan kuah bening kekuningan berkat dominasi kunyit atau kuah santan gurih, Soto Padang Bukittinggi tampil dengan kuah kaldu sapi bening kecokelatan yang pekat akan sari rempah kering. Karakteristik ini berakar kuat dari kondisi geografis Bukittinggi dan kawasan dataran tinggi Agam yang berhawa sejuk, di mana olahan sup dan kaldu sengaja diramu untuk memberikan kehangatan optimal bagi tubuh.
Kunci utama kelezatan sajian di gerai ini bertumpu pada racikan kaldunya. Rebusan tulang dan daging sapi diolah secara perlahan dalam durasi berjam-jam untuk mengekstraksi sumsum serta lemak gurih alami. Kaldu murni tersebut kemudian diperkaya dengan paduan rempah-rempah utuh seperti kayu manis, cengkeh, bunga lawang atau pekak, kapulaga, biji pala, serai, daun jeruk, serta jahe. Kombinasi rempah tersebut menghasilkan profil rasa kuah yang tajam, hangat, dan memiliki lapisan aroma yang semerbak saat mangkuk disajikan dalam kondisi mengepul panas.
Selain kuah kaldunya yang kaya karakter, komponen daging sapi menjadi elemen pembeda yang sangat krusial dalam semangkuk Soto Padang Bukittinggi. Tidak seperti soto pada umumnya yang menggunakan suwiran daging rebus basah, hidangan ini mengandalkan daging dendeng kering. Daging sapi bagian paha atau gandik terlebih dahulu diiris tipis, dibumbui dengan ulekan bawang putih, ketumbar, dan garam, kemudian dimasak hingga empuk sebelum digoreng dalam minyak panas sampai teksturnya menjadi garing renyah. Keahlian mengolah daging ini memastikan irisan dendeng tetap mempertahankan kerenyahannya (crispy) saat pertama kali tergigit, meski telah terendam dalam guyuran kuah kaldu yang membara.
Di dalam mangkuk saji, dendeng sapi goreng tersebut dipadukan dengan berbagai bahan pengisi lainnya. Soun putih yang bertekstur lembut dan kenyal menjadi bantalan dasar, disusul potongan perkedel kentang khas Minang. Perkedel ini dibuat padat dengan aroma daun seledri dan gurihnya bawang goreng, memberikan tekstur lembut yang lumer di mulut dan mengimbangi tekstur renyah dari dendeng. Taburan seledri cincang segar serta bawang merah goreng renyah di atasnya semakin melengkapi kompleksitas tampilan maupun rasanya.
Sensasi menyantap Soto Padang di Pujasera Blok M terasa belum paripurna tanpa kehadiran kerupuk merah jambon khas Minangkabau. Kerupuk berbahan dasar tepung tapioka ini digoreng mekar hingga ringan dan renyah. Pengunjung biasanya meremukkan kerupuk merah tersebut langsung ke dalam mangkuk hingga tenggelam menyerap kuah, atau mencelupkannya perlahan demi mempertahankan tekstur krispi. Warna merah muda dari kerupuk berpadu kontras dengan kuah kecokelatan dan hijaunya seledri, menciptakan tampilan visual yang langsung membangkitkan selera makan.
Bagi penikmat sensasi pedas, gerai ini menyediakan sambal lado merah olahan sendiri yang khas. Sambal tersebut diolah dari cabai merah keriting yang ditumis dengan sedikit minyak dan rempah, menghasilkan rasa pedas yang bersahabat di lidah tanpa membakar tenggorokan secara berlebihan. Ketika sambal merah diaduk rata ke dalam kuah bersama kucuran perasan jeruk nipis segar, tercipta transformasi rasa yang luar biasa: perpaduan antara gurihnya kaldu sapi, kehangatan rempah, keasaman sitrus yang menyegarkan, serta sengatan pedas yang seimbang.
Pilihan cara menikmati hidangan ini kembali pada preferensi masing-masing pelanggan. Sebagian penikmat lebih menyukai metode campur, di mana nasi putih langsung dimasukkan ke dalam dasar mangkuk soto agar bulir-bulir beras menyerap seluruh sari kaldu rempah secara maksimal. Namun, tidak sedikit pula yang memilih metode pisah, menyuap nasi hangat secara bergantian dengan seruputan kuah dan gigitan daging dendeng untuk menikmati kontras tekstur setiap bahan secara individual.
Eksistensi warung Soto Padang Bukittinggi di Pujasera Blok M juga menjadi alternatif menarik bagi masyarakat yang ingin menikmati masakan Minang di luar format rumah makan nasi kapau atau restoran Padang konvensional. Di tempat ini, perhatian juru masak terfokus sepenuhnya pada kesempurnaan satu menu utama, sehingga kontrol kualitas terhadap kesegaran daging, kematangan rempah kuah, hingga kerenyahan kerupuk dan perkedel selalu terjaga konsistensinya dari waktu ke waktu.
Kemudahan akses transportasi umum menuju kawasan Blok M, seperti integrasi stasiun MRT Jakarta dan halte TransJakarta, menjadikan gerai kuliner tersembunyi ini sangat mudah dijangkau oleh warga dari berbagai penjuru wilayah metropolitan. Mengunjungi pujasera ini pada waktu makan siang sering kali menuntut kesabaran karena keterbatasan tempat duduk, sementara kedatangan pada sore hari menawarkan suasana yang lebih santai untuk menikmati setiap seruputan kuah rempah secara leluasa. Kehadiran menu pendamping seperti telur dadar tebal khas Minang atau tambahan ekstra potongan paru sapi goreng garing turut memberikan keleluasaan bagi pengunjung untuk mempersonalisasi porsi hidangan sesuai selera masing-masing.








