8 Kuliner Ekstrem Indonesia, Ada Tikus hingga Darah
Ada banyak makanan Indonesia yang terdengar ekstrem, tetapi justru populer di daerahnya. Ada paniki, ulat sagu, belalang goreng hingga botok tawon.

Daftar isi: [Hide]
- 0.11. Tikus Hutan Panggang (Kawok) dari Minahasa
- 0.22. Saren atau Didih (Darah Hewan Beku)
- 0.33. Paniki (Kelelawar Kuah Santan)
- 0.44. Ulat Sagu (Papua dan Maluku)
- 0.55. Belalang Goreng (Walang Goreng) dari Gunungkidul
- 0.66. Sate dan Tongseng Daging Biawak
- 0.77. Olahan Laron (Botok dan Rempeyek Laron)
- 0.88. Olahan Ular Kobra
Kekayaan kuliner Nusantara tidak hanya terbatas pada hidangan populer seperti rendang, soto, atau nasi goreng. Di balik keragaman bumbu dan rempah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, Indonesia juga memiliki tradisi makanan tradisional yang tergolong tidak lazim bagi sebagian besar masyarakat. Sebagaimana dicatat dalam berbagai dokumentasi budaya pangan per Senin, 14 September 2026, hidangan-hidangan ekstrem ini bukan sekadar sensasi rasa, melainkan representasi dari adaptasi geografis, kearifan lokal, dan sejarah bertahan hidup masyarakat di berbagai wilayah pedalaman dan pesisir.
Bagi masyarakat setempat, bahan-bahan yang mungkin dianggap tabu atau menggelikan oleh orang luar justru menjadi sumber protein hewani yang bernilai tinggi dan sarat dengan nilai adat istiadat. Berikut adalah delapan ragam kuliner ekstrem di Indonesia yang mencerminkan keberagaman tradisi konsumsi di Nusantara.
1. Tikus Hutan Panggang (Kawok) dari Minahasa
Bagi masyarakat suku Minahasa di Sulawesi Utara, tikus hutan—dikenal secara lokal dengan nama kawok—merupakan salah satu hidangan istimewa yang kerap hadir dalam perayaan adat maupun jamuan keluarga. Tikus yang dikonsumsi bukan sembarang tikus rumahan atau tikus got, melainkan tikus hutan berekor putih (Maxomys hellwandii) yang ditangkap langsung dari vegetasi liar pegunungan atau perkebunan kelapa.
Makanan utama hewan ini adalah buah-buahan hutan dan akar-akaran, sehingga dagingnya dianggap bersih dari patogen perkotaan. Proses pengolahannya dimulai dengan membakar bulu tikus hingga bersih menggunakan api sedang, membersihkan isi perutnya, lalu memanggang atau mengolahnya menggunakan bumbu khas Minahasa yang kaya akan cabai, serai, jahe, kemangi, dan santan kental untuk menghasilkan tekstur daging yang gurih dan padat.
2. Saren atau Didih (Darah Hewan Beku)
Di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur, dikenal bahan pangan berbahan dasar darah yang disebut saren, didih, atau marus. Hidangan ini diolah dari darah sapi atau ayam segar yang ditampung saat proses penyembelihan, kemudian dikukus hingga mengental dan memadat menyerupai tekstur tahu atau hati sapi.
Setelah padat, saren dipotong dadu dan biasanya dimasak sebagai baceman, digoreng garing, atau dicampurkan ke dalam kuah gulai, tongseng, dan opor. Meski keberadaannya menimbulkan perdebatan dari sudut pandang hukum agama Islam dan standar kesehatan pangan modern, saren telah lama menjadi bagian dari sejarah kuliner tradisional masyarakat perdesaan Jawa sebagai cara memanfaatkan seluruh bagian hewan ternak tanpa ada yang terbuang (nose-to-tail eating).
3. Paniki (Kelelawar Kuah Santan)
Masih dari tanah Minahasa, hidangan ekstrem lain yang sangat populer adalah paniki, yaitu olahan daging kelelawar pemakan buah (Megachiroptera). Pemilihan kelelawar buah didasarkan pada diet hewannya yang bersih, yakni nektar bunga dan buah-buahan, sehingga aroma dagingnya tidak terlalu menyengat dibandingkan kelelawar insektivora.
Sebelum diolah, sayap dan bulu kelelawar dibakar habis, lalu dagingnya dipotong-potong dan direbus berulang kali dengan rempah aromatik guna menghilangkan bau apak khas hewan liar. Daging paniki kemudian dimasak bersama santan, cabai rawit dalam jumlah melimpah, daun pandan, serai, daun jeruk, dan kunyit. Cita rasa yang dihasilkan didominasi oleh pedas tajam dan gurih dengan tekstur daging yang kenyal serta berserat kuat.
4. Ulat Sagu (Papua dan Maluku)
Bagi masyarakat adat di Papua dan Maluku, ulat sagu (Rhynchophorus bilineatus) merupakan sumber pangan esensial yang kaya akan protein nabati dan asam amino. Larva dari kumbang merah kelapa ini hidup dan berkembang biak di dalam batang pohon sagu yang telah tumbang dan mulai membusuk.
Ulat sagu kerap dikonsumsi langsung dalam kondisi hidup dan segar saat baru dipanen dari hutan, memberikan sensasi rasa manis, gurih, dan bertekstur lembut mirip mentega. Selain dimakan mentah, masyarakat setempat mengolahnya dengan cara ditusuk menyerupai sate lalu dibakar di atas bara api, atau dimasak bersama sayur tumis dan papeda. Ulat sagu juga dipercaya memiliki khasiat untuk meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh anak-anak di daerah pedalaman.
5. Belalang Goreng (Walang Goreng) dari Gunungkidul
Wilayah Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang didominasi oleh perbukitan karst tandus, melahirkan tradisi mengonsumsi belalang kayu sebagai alternatif lauk-pauk bergizi tinggi. Belalang kayu yang ditangkap dari pohon jati atau semak belukar dibersihkan terlebih dahulu bagian sayap, kotoran perut, dan ujung kakinya yang berduri tajam.
Setelah bersih, belalang dibumbui secara sederhana dengan bawang putih, ketumbar, garam, dan cabai, kemudian digoreng hingga renyah. Rasa belalang goreng sering disamakan dengan rasa udang laut yang gurih dan renyah. Walang goreng kini telah beralih dari sekadar makanan darurat musim paceklik menjadi salah satu komoditas oleh-oleh khas yang diperdagangkan secara luas di sepanjang jalan poros Yogyakarta-Wonosari.
6. Sate dan Tongseng Daging Biawak
Daging biawak air (Varanus salvator) sering dijumpai di beberapa sentra kuliner alternatif di Pulau Jawa dan Sumatera. Reptil berdarah dingin ini biasanya ditangkap di sekitar bantaran sungai atau rawa-rawa oleh pemburu lokal. Bagian daging dan hatinya dipisahkan secara teliti, kemudian dipotong dadu untuk diolah menjadi sate dengan bumbu kacang atau dimasak dengan rempah tongseng yang pekat.
Banyak konsumen menggemari daging biawak bukan hanya karena teksturnya yang berserat mirip daging ayam kampung, melainkan juga karena mitos dan keyakinan medis tradisional. Minyak dan daging biawak diyakini memiliki khasiat untuk meredakan penyakit kulit kronis, mempercepat penyembuhan luka, serta mengatasi gangguan pernapasan seperti asma.
7. Olahan Laron (Botok dan Rempeyek Laron)
Laron, yang merupakan bentuk bersayap dari rayap reproduktif, muncul secara musiman dalam jumlah jutaan ekor pada awal musim penghujan, tertarik oleh sumber cahaya lampu di permukiman. Masyarakat perdesaan di Jawa memanfaatkan momen musiman ini dengan menaruh baskom berisi air di bawah lampu untuk menangkap laron yang rontok sayapnya.
Setelah sayapnya terpisah, tubuh laron yang kaya akan kandungan protein dan lemak nabati dikumpulkan untuk diolah. Cara penyajian yang paling umum adalah dengan membuatnya menjadi rempeyek yang renyah dan gurih, atau dimasak sebagai botok dengan campuran kelapa parut muda, cabai, dan rempah daun yang dibungkus daun pisang lalu dikukus matang. Hidangan musiman ini menghadirkan cita rasa gurih alami tanpa perlu penambahan penyedap buatan berlebih.
8. Olahan Ular Kobra
Kuliner berbahan dasar ular, terutama ular kobra dan ular sendok, dapat ditemukan di sejumlah warung tenda di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Proses pengolahan kobra sering kali dilakukan secara terbuka di hadapan konsumen, mencakup pemotongan kepala, penampungan darah, serta pengambilan empedu dan daging.
Darah segar kobra biasanya dicampur dengan arak beras atau madu untuk diminum secara langsung, disertai empedu ular yang ditelan mentah-mentah atas keyakinan menjaga vitalitas dan kejantanan pria. Sementara itu, daging kobra dibersihkan, dipotong kecil-kecil, lalu diolah menjadi sate berlumur bumbu kecap manis atau digoreng kering dengan bumbu lengkuas dan bawang merah. Daging ular memiliki serat memanjang yang cukup liat dengan kandungan lemak yang sangat rendah.








