5 Kesalahan Bikin Gorengan Tetap Berminyak Walau Sudah Ditiriskan

Jumlah minyak yang tertinggal pada gorengan bisa dipengaruhi beberapa bagian dari proses memasak.

5 Kesalahan Bikin Gorengan Tetap Berminyak Walau Sudah Ditiriskan

Judul: 5 Kesalahan Fatal yang Bikin Gorengan Tetap Berminyak Meski Sudah Ditiriskan, Wajib Dihindari!

Menggoreng merupakan salah satu teknik memasak yang paling digemari di Indonesia. Hampir semua orang menyukai camilan atau lauk yang digoreng karena aromanya yang menggugah selera dan teksturnya yang renyah. Mulai dari pisang goreng, tempe mendoan, ayam goreng, hingga bakwan, semua terasa lebih nikmat saat disajikan dalam keadaan garing dan kering. Namun, ada satu masalah klasik yang seringkali membuat frustrasi para ibu rumah tangga maupun anak kos: gorengan yang sudah ditiriskan ternyata masih tetap berminyak dan cepat lembek.

Anda mungkin sudah melakukan berbagai cara untuk mengurangi minyak, seperti menggunakan tisu dapur, rak pendingin, atau bahkan menggoreng dengan api kecil. Namun, hasilnya tetap saja minyak menempel tebal di permukaan makanan. Jika Anda mengalami hal ini, jangan buru-buru menyalahkan kualitas minyak atau resep yang digunakan. Faktanya, ada beberapa kesalahan teknis yang sering tidak disadari saat proses menggoreng berlangsung, dan kesalahan-kesalahan inilah yang menjadi biang keladi gorengan berminyak.

Berdasarkan rangkuman dari berbagai sumber kuliner, berikut adalah lima kesalahan paling umum yang sering dilakukan dan membuat gorengan tetap berminyak meskipun sudah melalui proses penirisan. Dengan memahami dan menghindari kesalahan-kesalahan ini, Anda dapat menghasilkan gorengan yang kering, renyah, dan jauh lebih sehat untuk dikonsumsi.

1. Minyak Goreng Belum Cukup Panas

Kesalahan pertama dan yang paling sering terjadi adalah terburu-buru memasukkan bahan makanan ke dalam wajan sebelum minyak benar-benar panas. Banyak orang mengira bahwa menggoreng dengan api kecil atau minyak yang baru mulai hangat akan membuat makanan matang lebih merata. Padahal, ini adalah anggapan yang keliru. Ketika minyak belum mencapai suhu optimal, yaitu sekitar 170 hingga 180 derajat Celsius, proses menggoreng akan berlangsung lebih lama. Akibatnya, makanan akan terendam dalam minyak untuk waktu yang lebih lama dan menyerap lebih banyak minyak sebelum bagian luarnya sempat matang dan membentuk kerak pelindung.

Kerak renyah yang terbentuk di permukaan makanan inilah yang berfungsi sebagai penghalang masuknya minyak ke dalam tekstur makanan. Jika minyak tidak cukup panas, kerak ini tidak akan terbentuk dengan sempurna, sehingga minyak justru meresap ke dalam. Untuk menguji apakah minyak sudah siap, Anda tidak perlu menggunakan termometer khusus. Cara sederhananya adalah dengan memasukkan ujung sendok kayu atau sumpit ke dalam minyak. Jika muncul gelembung-gelembung kecil yang aktif di sekitar sendok, itu pertanda suhu minyak sudah mencapai titik yang ideal untuk menggoreng. Hindari juga menggoreng dengan api terlalu besar karena bagian luar bisa langsung gosong sementara bagian dalam masih mentah.

2. Menggoreng Terlalu Banyak Bahan dalam Satu Waktu

Kesalahan kedua yang sering diabaikan adalah menggoreng dalam porsi yang terlalu banyak sekaligus. Saat Anda memasukkan terlalu banyak bahan ke dalam wajan yang sama, suhu minyak akan turun secara drastis. Penurunan suhu ini membuat proses menggoreng menjadi tidak efisien. Bahan-bahan tersebut akan saling menempel satu sama lain, menghalangi sirkulasi panas, dan membuatnya tidak matang secara merata. Lebih parahnya lagi, karena suhu minyak tidak stabil dan cenderung rendah, makanan akan menyerap minyak dalam jumlah yang jauh lebih besar.

Solusinya sangat sederhana: gorenglah dalam porsi kecil atau sedang. Pastikan setiap potongan bahan memiliki ruang yang cukup di dalam wajan. Dengan cara ini, suhu minyak akan tetap terjaga stabil, panas dapat terdistribusi secara merata ke seluruh permukaan makanan, dan hasil akhirnya akan lebih kering, renyah, serta berwarna keemasan yang cantik. Menggoreng sedikit demi sedikit memang membutuhkan waktu lebih lama, tetapi hasilnya jauh lebih memuaskan dibandingkan menggoreng banyak sekaligus dan mendapatkan gorengan yang lembek serta berminyak.

3. Adonan Terlalu Encer atau Bahan yang Masih Basah

Kesalahan ketiga berkaitan erat dengan kondisi bahan makanan sebelum digoreng. Banyak orang yang tidak memperhatikan tingkat kekentalan adonan atau kelembapan bahan yang akan digoreng. Jika adonan terlalu encer, atau jika bahan makanan seperti tahu, tempe, atau ayam masih dalam keadaan basah karena baru saja dicuci, maka air akan keluar dengan cepat saat terkena minyak panas. Air yang keluar ini akan bereaksi keras dengan minyak dan menyebabkan letupan-letupan kecil. Reaksi ini mengganggu pembentukan lapisan pelindung pada permukaan makanan. Alih-alih membentuk kerak yang kering, air justru menciptakan penghalang uap yang membuat minyak dengan mudah masuk ke dalam pori-pori makanan.

Untuk mengatasi masalah ini, pastikan Anda mengeringkan bahan makanan terlebih dahulu menggunakan tisu dapur atau kain bersih sebelum dicelupkan ke dalam adonan. Lapisan air yang tersisa di permukaan bahan harus dihilangkan semaksimal mungkin. Selain itu, perhatikan juga konsistensi adonan tepung. Adonan yang baik untuk menggoreng biasanya memiliki kekentalan yang sedang—tidak terlalu cair seperti air dan tidak terlalu kental seperti pasta. Adonan yang kekentalannya pas akan menempel dengan baik pada bahan dan membentuk lapisan pelindung yang kokoh saat digoreng, sehingga minyak tidak mudah meresap ke dalam.

4. Menggunakan Minyak yang Sudah Dipakai Berulang Kali

Kesalahan keempat yang sering kali dianggap sepele adalah penggunaan minyak goreng yang sudah dipakai berkali-kali. Memang, demi alasan ekonomi, banyak orang yang menyimpan dan menggunakan kembali minyak bekas untuk menggoreng beberapa kali. Namun, perlu diketahui bahwa kualitas minyak akan menurun drastis setelah digunakan. Minyak bekas memiliki titik asap yang lebih rendah, yang berarti minyak akan lebih cepat panas dan berasap pada suhu yang lebih rendah. Selain itu, tekstur minyak bekas menjadi lebih kental dan lengket. Sifat inilah yang membuat minyak lebih mudah menempel dan menyelimuti permukaan makanan, sehingga gorengan terasa sangat berminyak.

Lebih dari itu, minyak bekas juga mengandung sisa-sisa partikel makanan yang gosong. Partikel-partikel ini tidak hanya merusak rasa dan aroma gorengan, tetapi juga membuat warna gorengan menjadi gelap dan tidak menarik. Jika Anda ingin mendapatkan gorengan yang berkualitas, sebaiknya gunakan minyak yang masih baru atau setidaknya minyak yang telah disaring dengan baik. Untuk meminimalkan pemborosan, Anda bisa menyaring minyak bekas setelah dipakai untuk memisahkan sisa-sisa makanan, simpan di wadah tertutup, dan perhatikan warnanya. Jika minyak sudah berubah warna menjadi cokelat tua atau gelap, segera ganti dengan minyak yang baru. Jangan memaksakan diri menggunakan minyak yang sudah keruh karena hasil akhirnya tidak akan pernah maksimal.

5. Proses Penirisan yang Salah dan Kurang Efektif

Kesalahan kelima terjadi setelah proses menggoreng selesai, yaitu pada tahap penirisan. Banyak orang menganggap bahwa meniriskan gorengan di atas tisu dapur adalah cara yang paling efektif. Namun, kenyataannya, tisu dapur memiliki keterbatasan. Tisu akan cepat jenuh jika digunakan untuk menyerap minyak dalam jumlah banyak. Setelah tisu jenuh, minyak tidak akan terserap lagi dan justru membuat tisu menjadi lembap serta menempel pada gorengan, sehingga bagian bawah makanan menjadi basah dan lembek. Kesalahan lain yang sering dilakukan adalah menumpuk gorengan dalam satu wadah saat masih panas. Uap air yang dihasilkan dari makanan panas akan terperangkap di antara lapisan-lapisan gorengan, membuat seluruh permukaan makanan menjadi lembap dan kehilangan kerenyahannya.

Cara penirisan yang paling direkomendasikan adalah menggunakan rak kawat atau rak pendingin yang berlubang. Letakkan gorengan di atas rak tersebut agar udara dapat bersirkulasi dengan bebas dari semua sisi, sehingga uap air dapat keluar dan minyak dapat menetes dengan sempurna. Jika Anda tetap ingin menggunakan tisu dapur, letakkan tisu di atas rak kawat, bukan di atas piring datar. Hal ini akan membantu sirkulasi udara tetap berjalan. Selain itu, gantilah tisu dapur secara berkala jika sudah terlihat basah atau jenuh oleh minyak. Jangan membiarkan gorengan menumpuk dalam satu wadah tertutup sampai benar-benar dingin dan minyaknya menetes sepenuhnya. Dengan teknik penirisan yang benar, Anda bisa memastikan bahwa minyak yang tersisa di permukaan gorengan hanya sedikit, sehingga teksturnya tetap renyah lebih lama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

A+ A-
Kuliner Jawa

Live Search