5 Festival Makanan Paling Ekstrem di Dunia: Ada Kejar Keju dari Bukit!
Festival ekstrem menawarkan pengalaman unik, dari Roadkill Festival hingga Els Enfarinats. Banyak tantangan dan tradisi kuliner yang tak biasa di seluruh dunia.

Festival makanan biasanya identik dengan stan yang dipadati pengunjung, aroma hidangan yang menggugah selera, atau penawaran kuliner khas daerah. Namun di sejumlah belahan dunia, istilah “festival makanan” justru merujuk pada tradisi ekstrem yang menuntut kekuatan fisik, keberanian, bahkan mental baja. Pada Selasa, 1 September 2026, rangkuman laporan dari sumber kuliner terkemuka mengulas lima festival makanan paling ekstrem di dunia, mulai dari ajang mengejar keju dari puncak bukit yang curam hingga perang lempar buah-buahan dalam skala besar. Tradisi-tradisi ini tidak hanya menjadi tontonan unik, tetapi juga merepresentasikan sejarah, kearifan lokal, dan cara masyarakat merayakan kehidupan melalui cara yang paling tidak biasa.
Kejar Keju dari Bukit di Cooper’s Hill, Inggris
Festival pertama yang menjadi sorotan adalah Cooper’s Hill Cheese-Rolling and Wake di Gloucestershire, Inggris. Ajang inilah yang melahirkan julukan “kejar keju dari bukit”. Setiap tahun pada libur musim semi, tepatnya bulan Mei, puluhan peserta berkumpul di puncak Cooper’s Hill untuk berlomba mengejar roda keju Double Gloucester yang berbobot sekitar 3,5 kilogram. Keju tersebut sengaja digelindingkan dari puncak bukit yang curam, dengan kemiringan yang nyaris mencapai 45 derajat, dan meluncur dengan kecepatan hingga lebih dari 100 kilometer per jam. Para peserta tentu tidak akan bisa mengejar kecepatan tersebut; mereka justru sering terjatuh, tergelincir, dan berguling-guling di lereng yang licin hanya demi mencapai garis finis terlebih dahulu. Pemenang yang berhasil menangkap atau menjadi orang pertama yang menyentuh keju tersebut berhak membawa pulang keju itu sebagai hadiah utama.
Tradisi ini diperkirakan telah berlangsung sejak abad ke-19 dan awalnya digelar untuk memperebutkan hak atas tanah komunal. Meskipun terlihat seru dan menghibur, ajang ini terkenal dengan tingkat cedera yang cukup tinggi. Para peserta sering mengalami keseleo, memar, hingga patah tulang. Oleh karena itu, petugas medis dan ambulans selalu disiagakan di sepanjang jalur lintasan. Terlepas dari risikonya, minat masyarakat global untuk mengikuti perlombaan ini tidak pernah surut, menjadikannya salah satu festival paling ditunggu di Inggris Raya.
Roadkill Festival: Memasak Hewan yang Tertabrak
Beranjak dari Inggris, festival ekstrem berikutnya datang dari Amerika Serikat, yaitu Roadkill Festival. Sesuai dengan namanya, festival ini berfokus pada pengolahan daging hewan yang mati tertabrak kendaraan di jalan raya. Ajang ini dikenal luas melalui West Virginia Roadkill Cook-Off yang diadakan di kota Marlinton, Pocahontas County, sebagai bagian dari perayaan Autumn Harvest Festival yang lebih besar. Kontes memasak ini pertama kali digelar pada tahun 1991 dan sejak saat itu menjadi magnet bagi para koki amatir maupun profesional yang gemar bereksperimen dengan bahan-bahan yang tidak lazim.
Para peserta diajak untuk memasak berbagai hidangan dari daging tupai, oposum, rakun, rusa, hingga ular. Meskipun terdengar menjijikkan bagi sebagian orang, panitia menerapkan aturan kebersihan yang sangat ketat. Setiap daging harus diolah hingga matang sempurna untuk memastikan keamanan pangan dan menghindari risiko penyakit. Para juri akan menilai dari segi rasa, kreativitas penyajian, serta orisinalitas resep yang digunakan. Festival ini bukan sekadar ajang pamer keterampilan memasak, tetapi juga bagian dari budaya masyarakat Appalachia yang menghargai sumber daya alam secara maksimal dan tidak menyia-nyiakan makanan, bahkan dari hewan yang ditemukan di jalan sekalipun.
Els Enfarinats: Perang Tepung dan Telur di Spanyol
Masih dari sumber yang sama, festival ekstrem berikutnya adalah Els Enfarinats yang berasal dari kota Ibi, Alicante, Spanyol. Berbeda dengan dua festival sebelumnya yang berfokus pada perlombaan atau memasak, Els Enfarinats merupakan sebuah perang pangan sungguhan. Festival ini diadakan setiap tanggal 28 Desember bertepatan dengan perayaan Hari Orang-Orang Tak Bersalah (Dia dels Innocents). Pada hari itu, sekelompok penduduk laki-laki yang menyebut diri mereka “Els Enfarinats” akan melakukan kudeta pura-pura terhadap dewan kota yang sah. Mereka mengenakan pakaian militer kuno dengan wajah dihiasi cat perang dan menguasai balai kota untuk sementara waktu.
Selama kepemimpinan dadakan tersebut, mereka menerapkan peraturan-peraturan konyol dan memungut “denda” dari warga lokal serta wisatawan yang melanggar. Namun yang membuat festival ini masuk dalam kategori ekstrem adalah aksi adu lempar bahan makanan yang terjadi sepanjang hari. Tepung terigu, telur mentah, dan bahkan petasan menjadi amunisi utama dalam pertarungan kacau ini. Jalanan kota berubah menjadi kawasan berkabut putih akibat kepulan tepung, sementara cangkang telur beterbangan di udara. Tradisi ini diyakini telah ada sejak abad ke-18 dan merepresentasikan semangat perlawanan serta humor masyarakat setempat terhadap kekuasaan. Peserta maupun penonton yang hadir disarankan mengenakan pakaian yang tidak mudah rusak dan kacamata pelindung karena dampak lemparan telur serta serbuk tepung dapat mengganggu penglihatan.
La Tomatina: Perang Tomat Raksasa di Buñol
Tidak lengkap rasanya membahas festival makanan ekstrem tanpa menyebut La Tomatina yang digelar di Buñol, Valencia, Spanyol. Festival ini adalah perang lempar tomat terbesar di dunia dan telah menjadi ikon pariwisata global. La Tomatina diadakan setiap hari Rabu terakhir di bulan Agustus, tepatnya sebagai puncak dari pekan raya lokal. Pada hari tersebut, puluhan ribu orang, diperkirakan mencapai 20.000 peserta, memadati Plaza del Pueblo untuk saling melempar tomat yang telah dimatangkan. Lebih dari 100 ton tomat dikerahkan oleh panitia setiap tahunnya. Truk-truk pengangkut tomat akan melintas di kerumunan massa, dan begitu pintu truk dibuka, pecah perang raksasa yang berlangsung sekitar satu jam penuh.
Meskipun terlihat sangat kacau, penyelenggara menetapkan sejumlah peraturan ketat. Para peserta diwajibkan untuk menghancurkan atau memeras tomat terlebih dahulu sebelum melemparkannya agar tidak melukai peserta lain. Selain itu, melempar benda lain selain tomat serta merobek pakaian orang lain merupakan pelanggaran berat yang dapat berujung pada pengusiran dari area festival. Setelah waktu pertarungan usai, seluruh peserta dan petugas kebersihan bahu-membahu membersihkan sisa tomat yang memerahi jalanan kota dengan menggunakan selang air. Tradisi yang dimulai secara tidak sengaja pada tahun 1945 ini bermula dari aksi sekelompok pemuda yang menjatuhkan seseorang dari panggung perayaan, dan sejak saat itu lemparan sayuran menjadi tradisi tahunan warga setempat.
Pertempuran Jeruk di Ivrea, Italia
Festival ekstrem kelima yang layak menjadi perhatian adalah Battle of the Oranges yang berlangsung di kota Ivrea, Italia utara. Berbeda dengan La Tomatina yang berpusat pada satu lokasi, pertempuran jeruk di Ivrea berlangsung di seluruh area kota dan melibatkan ribuan peserta dalam waktu lebih dari tiga hari, biasanya digelar pada bulan Februari sebagai bagian dari karnaval tahunan. Perang ini memiliki latar belakang sejarah yang kuat, yakni menceritakan pemberontakan rakyat melawan tiran Ranieri di Biandrate pada abad pertengahan. Jeruk yang dilempar melambangkan batu-batu yang digunakan warga untuk merebut kembali kebebasan mereka setelah seorang penguasa zalim berusaha mengambil hak atas pengantin baru di wilayah tersebut.
Dalam penyelenggaraannya, para peserta terbagi menjadi dua kubu utama. Kubu pertama adalah “aranceri” atau pelempar jeruk yang berjalan kaki, sementara kubu lainnya berada di atas kereta kuda yang juga turut menjadi sasaran. Sekitar 500 hingga 600 ton jeruk digunakan sepanjang festival ini berlangsung. Meskipun terkesan seperti perang sungguhan, terdapat aturan keselamatan yang wajib ditaati, seperti mengenakan pelindung kepala berupa helm khusus dan larangan melempar jeruk yang masih terlalu keras dengan sengaja. Aroma jeruk yang segar akan menyelimuti jalanan kota sepanjang festival, berpadu dengan sorak-sorai warga dan dentuman musik karnaval, sehingga menciptakan pengalaman yang unik sekaligus ekstrem bagi siapa saja yang berani ikut bergabung di barisan depan.








