10 Dapur Keluarga Dunia, Ada yang Belanja Rp6,8 Juta Seminggu
Lewat proyek Hungry Planet, fotografer Peter Menzel memotret makanan yang dikonsumsi keluarga di berbagai negara selama seminggu. Ia juga menyertakan biayanya.

Dapur bukan sekadar ruang memasak, melainkan cermin paling jujur dari cara sebuah keluarga bertahan hidup, merayakan kebersamaan, dan mengekspresikan identitas budayanya. Fotografer Peter Menzel bersama penulis Faith D’Aluisio pernah menjalani proyek ambisius: menjelajahi berbagai belahan dunia untuk mendokumentasikan isi dapur sepuluh keluarga, lengkap dengan seluruh bahan makanan yang mereka konsumsi selama sepekan. Hasilnya dibukukan dalam karya berjudul “Hungry Planet: What the World Eats”, sebuah proyek yang menampilkan kontras mencolok antara kelimpahan dan keterbatasan pangan di berbagai negara.
Melalui potret-potret tersebut, terlihat jelas bahwa isi dapur setiap keluarga sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti lokasi geografis, budaya setempat, tingkat pendapatan, dan gaya hidup. Jarak antara belanja mingguan keluarga di Chad yang hanya sekitar Rp 16.000 dengan keluarga di Amerika Serikat yang mencapai Rp 5,3 juta menunjukkan betapa besarnya ketimpangan akses pangan di dunia. Berikut gambaran isi dapur sepuluh keluarga dari berbagai negara, sebagaimana dikutip dari CNN.
1. Keluarga Aboubakar di Chad
Keluarga Aboubakar tinggal di sebuah kamp pengungsi di Breidjing, Chad. Mereka merupakan pengungsi yang berasal dari Darfur, Sudan. Isi dapur mereka sangat sederhana, hanya terdiri dari sedikit bahan makanan seperti sorgum, kacang-kacangan, dan minyak. Belanja mingguan mereka hanya sekitar Rp 16.000 (USD 1,23), jumlah yang nyaris tidak mungkin mencukupi kebutuhan gizi layak, namun menjadi kenyataan yang harus dijalani setiap hari.
2. Keluarga Melander di Amerika Serikat
Berbeda jauh dari keluarga Aboubakar, Keluarga Melander yang tinggal di North Carolina, Amerika Serikat, memiliki dapur yang penuh dengan makanan kemasan dan minuman ringan. Belanja mingguan mereka mencapai sekitar Rp 5,3 juta (USD 341,98). Kelimpahan ini mencerminkan pola konsumsi masyarakat maju yang akrab dengan produk olahan dan makanan instan, sekaligus menyoroti isu kualitas gizi di balik kuantitas yang melimpah.
3. Keluarga Casales di Meksiko
Keluarga Casales tinggal di Cuernavaca, Meksiko. Isi dapur mereka dipenuhi buah-buahan, sayuran, dan makanan pokok seperti tortilla. Belanja mingguan mereka sekitar Rp 2,8 juta (USD 189,09). Kombinasi bahan segar dan makanan pokok tradisional ini menunjukkan bagaimana budaya kuliner lokal tetap terjaga di tengah arus modernisasi pangan.
4. Keluarga Manzo di Italia
Keluarga Manzo tinggal di Sicilia, Italia. Dapur mereka dipenuhi bahan-bahan segar yang digunakan untuk membuat pasta dan pizza, dua ikon kuliner yang mendunia. Belanja mingguan mereka sekitar Rp 4 juta (USD 260,11). Pola konsumsi keluarga ini menegaskan betapa kuatnya tradisi masak rumahan dalam budaya Italia, di mana bahan segar menjadi fondasi utama hidangan sehari-hari.
5. Keluarga Sobczynski di Polandia
Keluarga Sobczynski tinggal di Konstancin-Jeziorna, Polandia. Isi dapur mereka dipenuhi sayuran, buah-buahan, dan makanan kaleng. Belanja mingguan mereka sekitar Rp 2,3 juta (USD 151,27). Kombinasi bahan segar dan makanan kaleng memperlihatkan strategi keluarga dalam menjaga ketahanan pangan rumah tangga, terutama menghadapi musim dingin yang panjang.
6. Keluarga Ahmed di Mesir
Keluarga Ahmed tinggal di Kairo, Mesir. Isi dapur mereka dipenuhi sayuran segar, buah-buahan, dan daging. Belanja mingguan mereka sekitar Rp 1 juta (USD 68,53). Dengan anggaran yang relatif kecil, keluarga ini tetap mampu menghadirkan bahan segar di meja makan, menunjukkan efisiensi belanja yang khas di negara berkembang.
7. Keluarga Ukita di Jepang
Keluarga Ukita tinggal di Kodaira, Tokyo, Jepang. Isi dapur mereka dipenuhi makanan segar dan makanan kemasan. Belanja mingguan mereka sekitar Rp 3,7 juta (USD 241,17). Perpaduan antara bahan segar dan produk kemasan mencerminkan gaya hidup masyarakat Jepang yang serba cepat namun tetap memperhatikan kualitas pangan.
8. Keluarga Baintons di Inggris
Keluarga Baintons tinggal di Collingbourne Ducis, Inggris. Isi dapur mereka dipenuhi makanan olahan dan minuman ringan. Belanja mingguan mereka sekitar Rp 2,3 juta (USD 151,37). Pola konsumsi ini sejalan dengan kecenderungan masyarakat urban di Eropa Barat yang mengandalkan produk praktis untuk kebutuhan harian.
9. Keluarga Revis di Australia
Keluarga Revis tinggal di Brisbane, Australia. Isi dapur mereka dipenuhi buah-buahan, sayuran, dan daging. Belanja mingguan mereka sekitar Rp 5,2 juta (USD 337,79). Anggaran belanja yang besar ini menunjukkan akses luas terhadap bahan pangan segar berkualitas, sejalan dengan standar hidup yang tinggi di negara tersebut.
10. Keluarga Dong di China
Keluarga Dong tinggal di Beijing, China. Isi dapur mereka dipenuhi sayuran, buah-buahan, dan makanan pokok seperti nasi. Belanja mingguan mereka sekitar Rp 1,4 juta (USD 91,93). Pola konsumsi keluarga ini memperlihatkan keseimbangan antara tradisi pangan Asia dan tuntutan kehidupan perkotaan modern.
Dari sepuluh potret tersebut, terlihat bahwa dapur bukan hanya tempat menyimpan bahan makanan, tetapi juga ruang yang merekam realitas sosial-ekonomi sebuah keluarga. Ada keluarga yang harus bertahan dengan belanja mingguan sebesar Rp 16.000, sementara keluarga lain mengeluarkan lebih dari Rp 6,8 juta untuk kebutuhan pangan sepekan. Perbedaan ini tidak sekadar soal angka, melainkan menyangkut akses terhadap gizi, kualitas hidup, dan pilihan yang tersedia bagi setiap keluarga di berbagai penjuru dunia.








