Panas Ekstrem Korea Bikin Kentang ‘Matang’ di Dalam Tanah!
Gelombang panas ekstrem yang melanda Korea Selatan bikin nasib petani di sana babak belur. Kentang di ladang malah ditemukan sudah lembek dan hancur!

Gelombang Panas Ekstrem Korea Selatan: Kentang “Matang” di Dalam Tanah, Suhu Permukaan Tembus 50 Derajat Celcius
Gelombang panas ekstrem yang melanda Korea Selatan pada pertengahan Agustus 2026 telah memicu fenomena pertanian yang tidak lazim dan mengkhawatirkan. Sejumlah petani kentang di wilayah pedalaman negara tersebut melaporkan temuan mengejutkan: umbi kentang yang baru digali dari dalam tanah sudah dalam kondisi matang, mengeluarkan uap panas, dan teksturnya menyerupai kentang yang telah direbus atau dipanggang. Peristiwa ini menjadi bukti empiris betapa dahsyatnya dampak kenaikan suhu udara terhadap kondisi tanah, sekaligus memicu diskusi luas mengenai konsekuensi perubahan iklim terhadap ketahanan pangan.
Fenomena ini pertama kali terungkap melalui sebuah unggahan di platform media sosial yang memperlihatkan seorang petani kentang di Korea Selatan terkejut ketika mencabut hasil panennya. Dalam video yang beredar, kentang yang baru diangkat dari tanah tampak mengeluarkan kepulan uap panas, seolah-olah baru saja dikeluarkan dari oven. Unggahan tersebut langsung menjadi viral dan memicu berbagai reaksi dari warganet, mulai dari rasa takjub hingga kekhawatiran akan dampak jangka panjang dari kondisi cuaca yang semakin tidak menentu.
Para ahli meteorologi di Korea Selatan mencatat bahwa suhu permukaan tanah di beberapa wilayah, terutama di provinsi-provinsi bagian selatan dan timur, telah mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah pencatatan. Data stasiun pemantau cuaca menunjukkan angka yang mencengangkan: suhu tanah di area pertanian terbuka menembus ambang 50 derajat Celcius pada puncak siang hari. Suhu udara di permukaan pun konsisten berada di atas 38 derajat Celcius selama beberapa hari berturut-turut, dengan kelembapan rendah dan tanpa tutupan awan yang signifikan.
Kombinasi antara radiasi matahari yang intens, kurangnya kelembapan tanah, dan minimnya vegetasi penutup menyebabkan lapisan tanah dangkal—yang menjadi lokasi tumbuh umbi kentang—menyerap panas secara berlebihan. Proses ini secara bertahap “memasak” umbi dari luar ke dalam, mengubah pati menjadi tekstur yang lebih lunak dan berair, mirip dengan efek pengukusan. Para ilmuwan dari Institut Penelitian Pertanian Korea Selatan menjelaskan bahwa tanah dengan tekstur berpasir atau lempung berpori memiliki kapasitas panas yang rendah, sehingga suhunya naik lebih cepat dibandingkan tanah liat yang padat. Ketika suhu tanah bertahan di atas 45 derajat Celcius selama lebih dari enam jam, enzim alami dalam sel tumbuhan mulai terdenaturasi, menyebabkan proses pematangan dini pada umbi.
Dampak dari fenomena ini tidak hanya terbatas pada keanehan visual, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan. Para petani setempat mengaku belum pernah mengalami kejadian serupa sepanjang karier bertani mereka. Banyak dari mereka yang terpaksa membuang hasil panen karena kentang yang “matang” tersebut tidak layak untuk dijual dalam kondisi segar di pasar. Kentang yang seharusnya memiliki tekstur keras dan tahan lama kini menjadi lembek, mudah hancur, dan tidak tahan disimpan lebih dari dua hari. Akibatnya, pasokan kentang segar di pasar lokal diperkirakan akan berkurang drastis dalam beberapa pekan ke depan.
Para pengamat ekonomi pertanian memperkirakan harga kentang di pasar tradisional dan supermarket Korea Selatan akan melonjak hingga 30 hingga 50 persen dalam waktu dekat. Kenaikan harga ini berpotensi memicu inflasi bahan pangan, mengingat kentang merupakan salah satu komoditas pokok yang banyak dikonsumsi masyarakat Korea, baik sebagai lauk pendamping maupun bahan dasar berbagai hidangan olahan seperti jajangmyeon, sup, dan makanan ringan.
Tidak hanya kentang, para petani juga melaporkan kekhawatiran serupa terhadap komoditas lain yang tumbuh di bawah permukaan tanah atau dekat dengan permukaan. Kubis, lobak, wortel, dan bawang bombay yang ditanam di lahan terbuka juga rentan mengalami kerusakan akibat suhu tanah yang ekstrem. Kubis yang seharusnya renyah dan segar dilaporkan menjadi layu dan menguning lebih cepat, sementara lobak kehilangan kadar airnya secara drastis sehingga rasanya menjadi pahit. Kondisi ini semakin memperparah kekhawatiran akan krisis pasokan sayuran musiman di seluruh negeri.
Pemerintah Korea Selatan telah merespons situasi ini dengan mengeluarkan peringatan dini terkait gelombang panas tingkat tertinggi untuk wilayah-wilayah yang terdampak. Kementerian Pertanian, Pangan, dan Urusan Pedesaan telah menginstruksikan dinas pertanian setempat untuk melakukan survei menyeluruh terhadap luas lahan yang mengalami gagal panen atau penurunan kualitas hasil. Selain itu, pemerintah berjanji akan memberikan kompensasi finansial kepada para petani yang terdampak melalui skema asuransi pertanian yang telah diperluas cakupannya untuk mencakup kerusakan akibat suhu ekstrem.
Langkah adaptasi jangka pendek yang disarankan oleh para ahli pertanian meliputi penggunaan mulsa organik atau plastik reflektif untuk mengurangi penyerapan panas oleh tanah, sistem irigasi tetes yang ditingkatkan frekuensinya pada pagi dan sore hari untuk menjaga kelembapan tanah, serta penanaman varietas tanaman yang lebih tahan terhadap panas. Beberapa petani juga mulai bereksperimen dengan teknik naungan jaring untuk mengurangi intensitas sinar matahari langsung yang mengenai permukaan tanah.
Sementara itu, para ilmuwan iklim memperingatkan bahwa fenomena kentang matang di dalam tanah ini bukanlah kejadian yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari pola yang lebih besar akibat perubahan iklim global. Data dari Administrasi Meteorologi Korea (KMA) menunjukkan bahwa suhu rata-rata musim panas di Korea Selatan telah meningkat sekitar 1,5 derajat Celcius dibandingkan dengan rata-rata tiga dekade terakhir. Frekuensi gelombang panas yang berlangsung lebih dari lima hari berturut-turut juga meningkat tiga kali lipat sejak tahun 2000.
Para peneliti menjelaskan bahwa lapisan tanah dangkal, yang biasanya menjadi tempat tumbuh umbi-umbian, sangat rentan terhadap fluktuasi suhu udara. Ketika suhu udara mencapai 38 derajat Celcius atau lebih, dan tidak ada angin atau awan untuk mengurangi radiasi matahari langsung, permukaan tanah dapat memanas hingga 10 hingga 15 derajat lebih tinggi daripada suhu udara. Proses ini diperparah oleh kondisi tanah yang kering karena kurangnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir. Air dalam tanah sebenarnya berperan sebagai penyangga panas, tetapi ketika kelembapan tanah turun di bawah 20 persen, kemampuan tanah untuk menyerap dan mendistribusikan panas menjadi sangat berkurang.
Fenomena ini juga memicu diskusi di kalangan akademisi mengenai perlunya pengembangan varietas kentang yang lebih tahan terhadap stres panas. Beberapa universitas pertanian di Korea Selatan telah memulai program pemuliaan tanaman untuk menghasilkan kultivar kentang yang mampu bertahan pada suhu tanah hingga 40 derajat Celcius tanpa mengalami penurunan kualitas umbi. Namun, proses pemuliaan ini membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum hasilnya dapat didistribusikan secara komersial kepada para petani.
Di sisi lain, dampak sosial dari gelombang panas ini juga tidak bisa diabaikan. Pemerintah Korea Selatan telah mengimbau warganya untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan terutama pada pukul 12.00 hingga 17.00, ketika suhu mencapai puncaknya. Rumah sakit di wilayah Seoul dan sekitarnya melaporkan peningkatan jumlah pasien yang menderita heatstroke, dehidrasi, dan gangguan kulit akibat paparan panas berlebih. Otoritas kesehatan juga membuka pusat pendingin darurat di berbagai distrik untuk membantu kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan pekerja luar ruangan.
Peristiwa kentang matang di dalam tanah ini menjadi pengingat nyata bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada mencairnya es di kutub atau naiknya permukaan laut, tetapi juga secara langsung memengaruhi kehidupan sehari-hari manusia, termasuk cara kita memproduksi dan mengonsumsi makanan. Para ahli menekankan bahwa tanpa upaya mitigasi emisi gas rumah kaca yang serius dan terkoordinasi secara global, fenomena serupa—atau bahkan yang lebih ekstrem—diprediksi akan semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia, tidak hanya di Korea Selatan tetapi juga di kawasan Asia Timur lainnya dan wilayah beriklim subtropis.
Pemerintah Korea Selatan saat ini sedang menyiapkan peta jalan adaptasi perubahan iklim jangka menengah yang mencakup investasi dalam infrastruktur pertanian berteknologi tinggi, seperti pertanian dalam ruangan dengan kontrol iklim penuh dan rumah kaca berpendingin. Namun, para ahli mengingatkan bahwa teknologi tersebut membutuhkan biaya investasi yang sangat besar dan tidak semua petani skala kecil mampu mengaksesnya. Oleh karena itu, diperlukan pula kebijakan subsidi dan transfer teknologi yang merata agar ketahanan pangan nasional tidak terkonsentrasi hanya pada segelintir korporasi besar.








