Sarah Menzel Buka Kafe di Kintamani, Langsung Uji Menu
Sarah Menzel merambah bisnis kuliner didukung keluarga dan sang kekasih, Azriel Hermansyah. Ia bakal buka kafe dengan view gunung Batur di Kintamani.

Sarah Menzel Uji Coba Menu Kafe di Kintamani, Siap Hadirkan Konsep Farm-to-Table
Sarah Menzel, figur publik yang namanya telah lama dikenal di kalangan penggemar kuliner dan gaya hidup Indonesia, tengah mempersiapkan langkah terbarunya di dunia bisnis. Ia berencana membuka sebuah kafe di kawasan Kintamani, Bali, sebuah daerah yang terkenal dengan pemandangan pegunungan dan Danau Batur yang memukau. Tidak hanya sekadar menjadi pemilik yang memberikan arahan dari belakang meja, Sarah memilih untuk terjun langsung ke dapur guna memastikan setiap hidangan yang akan disajikan memenuhi standar cita rasa yang ia inginkan. Dalam kunjungannya ke lokasi pada pertengahan Agustus 2026, ia terlihat antusias mencicipi berbagai hidangan, mulai dari makanan ringan hingga minuman khas, bersama tim dapur yang telah disiapkan.
Proses uji coba menu atau food tasting ini menjadi tahapan krusial dalam perjalanan membuka kafe. Sarah mengungkapkan bahwa ia ingin memastikan setiap menu yang keluar dari dapur benar-benar sesuai dengan standar yang ia harapkan. “Saya ingin memastikan setiap menu yang keluar dari dapur benar-benar sesuai dengan standar yang saya inginkan,” ujarnya saat ditemui di lokasi. Pernyataan ini menunjukkan keseriusannya dalam membangun bisnis kuliner yang tidak hanya mengandalkan popularitas, tetapi juga kualitas rasa dan pengalaman pelanggan.
Konsep Kafe: Farm-to-Table dengan Sentuhan Lokal
Kafe yang direncanakan akan diberi nama sesuai dengan konsep yang diusungnya ini mengusung tema farm-to-table atau dari ladang ke meja. Konsep ini menekankan penggunaan bahan-bahan segar yang berasal langsung dari sumbernya, dalam hal ini petani lokal di sekitar Kintamani. Sarah bekerja sama dengan petani sayur, buah, dan kopi di dataran tinggi Bali untuk memasok bahan baku utama. Langkah ini tidak hanya menjamin kesegaran dan kualitas, tetapi juga mendukung perekonomian masyarakat setempat. Dengan mengangkat produk lokal, kafe ini diharapkan menjadi jembatan antara petani dan konsumen, sekaligus memperkenalkan kekayaan hasil bumi Kintamani kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.
Kintamani sendiri dikenal sebagai penghasil kopi arabika berkualitas tinggi, buah-buahan seperti stroberi, jeruk, dan apel, serta sayuran dataran tinggi yang segar. Semua potensi ini akan dimanfaatkan secara maksimal dalam menu-menu yang dirancang. Sarah mengaku proses pembuatan menu ini memakan waktu berbulan-bulan. Ia bekerja sama dengan chef profesional untuk menciptakan perpaduan rasa yang unik, menggabungkan teknik kuliner modern dengan cita rasa tradisional Bali. Hasilnya adalah sajian yang tidak hanya lezat, tetapi juga bercerita tentang identitas tempatnya.
Menu Andalan yang Diuji Coba
Beberapa menu yang menjadi andalan dan telah melalui tahap uji coba antara lain:
- Nasi campur khas Kintamani dengan sambal matah. Hidangan ini merupakan interpretasi lokal dari nasi campur Bali, dengan lauk-pauk yang disesuaikan dengan bahan-bahan yang tersedia di dataran tinggi. Sambal matah yang segar dan pedas menjadi pelengkap utama.
- Pasta dengan saus berbasis kopi lokal. Inovasi ini memanfaatkan kopi Kintamani yang memiliki karakteristik rasa fruity dan acidity rendah. Saus kopi yang creamy dan sedikit pahit berpadu dengan pasta al dente, menciptakan pengalaman rasa yang tidak biasa.
- Minuman segar dari buah-buahan dataran tinggi. Stroberi, jeruk, dan apel lokal akan diolah menjadi jus, smoothie, atau infused water yang menyegarkan, cocok dinikmati sambil menikmati pemandangan danau.
- Dessert berupa panna cotta dengan infused rempah Bali. Panna cotta klasik diberi sentuhan lokal melalui infus rempah seperti kayu manis, cengkeh, atau daun pandan, menciptakan dessert yang ringan namun kaya rasa.
Sarah menekankan bahwa setiap menu telah melalui berbagai iterasi dan penyesuaian. “Saya ingin kafe ini bukan hanya tempat nongkrong, tapi juga menjadi destinasi kuliner yang memperkenalkan kekayaan rasa Bali,” katanya dalam kesempatan yang sama. Filosofi ini sejalan dengan tren kuliner global yang mengutamakan keunikan lokal dan keberlanjutan.
Lokasi Strategis dengan Pemandangan Spektakuler
Kafe ini berlokasi di tepian Danau Batur, Kintamani, tepatnya di area yang menawarkan panorama Gunung Batur dan danau kaldera yang luas. Pemandangan ini menjadi daya tarik utama bagi pengunjung, terutama saat matahari terbit atau senja. Suhu sejuk khas dataran tinggi Bali, berkisar antara 15–20 derajat Celsius, menambah kenyamanan bersantap di area terbuka atau semi-terbuka yang direncanakan. Desain interior kafe juga akan mengusung nuansa alami dengan material lokal seperti bambu, batu alam, dan kayu, selaras dengan konsep farm-to-table yang diusung.
Target pembukaan kafe direncanakan pada akhir tahun 2026, menyesuaikan dengan kesiapan menu, interior, dan perizinan. Sarah juga berencana mengadakan acara soft launching terbatas untuk mendapatkan masukan dari pengunjung sebelum resmi beroperasi. “Kami ingin mendengar langsung respons dari tamu,” tambahnya. Pendekatan ini menunjukkan komitmennya untuk terus menyempurnakan produk berdasarkan umpan balik nyata, bukan sekadar asumsi.
Dampak bagi Komunitas Lokal dan Pariwisata
Kehadiran kafe Sarah Menzel di Kintamani diprediksi akan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Selain menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar, kafe ini juga akan menjadi saluran distribusi bagi produk petani setempat. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mendorong pengembangan agrowisata di kawasan tersebut. Kintamani selama ini dikenal sebagai destinasi wisata alam, namun belum banyak memiliki tempat kuliner berkualitas yang mampu bersaing dengan kafe-kafe di daerah wisata lainnya seperti Ubud atau Seminyak. Dengan konsep yang unik dan figur publik sebagai penggerak, kafe ini berpotensi menjadi ikon baru kuliner Bali tengah.
Selain itu, Sarah juga menyadari pentingnya keberlanjutan. Penggunaan bahan lokal mengurangi jejak karbon dari transportasi, sementara kemasan ramah lingkungan dan pengelolaan limbah organik juga menjadi bagian dari rencana operasional. Kafe ini diharapkan dapat menjadi contoh bisnis kuliner yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.
Tantangan dan Antisipasi
Membuka kafe di daerah pegunungan seperti Kintamani bukan tanpa tantangan. Akses jalan yang berkelok, cuaca yang kadang tidak menentu, serta ketersediaan bahan baku yang harus konsisten menjadi faktor yang perlu diantisipasi. Sarah dan tim telah menyusun rencana logistik yang matang, termasuk menjalin kontrak jangka panjang dengan petani dan pemasok lokal. Selain itu, pelatihan bagi staf dapur dan pelayanan juga terus dilakukan agar kualitas tetap terjaga.
Dari sisi pemasaran, Sarah memanfaatkan basis penggemarnya di media sosial untuk membangun antisipasi. Ia secara berkala membagikan proses persiapan, mulai dari pembangunan interior hingga sesi uji coba menu, sehingga calon pengunjung merasa terlibat sejak awal. Strategi ini efektif untuk menciptakan buzz sebelum pembukaan resmi.
Dengan segala persiapan yang dilakukan, kafe di tepian Danau Batur ini tidak hanya menawarkan tempat nongkrong dengan pemandangan indah, tetapi juga pengalaman kuliner yang autentik dan bermakna. Sarah Menzel membuktikan bahwa dirinya serius dalam menjalankan bisnis ini, tidak hanya sebagai investasi, tetapi juga sebagai wujud kecintaannya terhadap kekayaan kuliner Indonesia.








