Bayar Kencan Rp 10 Juta, Pria Ini Malah Dighosting
Pria ini harus membayar tagihan makan sekitar Rp10 juta rupiah saat kencan pertama. Bukannya lanjut, ia malah di-ghosting setelah minta jadwal ulang.

Seorang pria menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah membagikan kisah pahitnya saat kencan pertama. Bukan hanya gagal mendapatkan hati perempuan yang ia temui, pria ini juga harus merelakan uang puluhan juta rupiah yang ia habiskan untuk membayar makan malam. Kisah tersebut menyebar luas dengan cepat dan memicu diskusi panjang di berbagai platform, terutama karena nominal yang terlibat terbilang sangat besar untuk sebuah pertemuan pertama.
Kisah ini viral setelah diunggah oleh seorang pengguna Reddit. Dalam unggahannya, pria tersebut menceritakan bagaimana ia bertemu dengan seorang perempuan melalui aplikasi kencan. Setelah mengobrol cukup lama, keduanya sepakat untuk bertemu secara langsung. Pertemuan itu direncanakan sebagai kencan pertama, momen yang biasanya masih berada pada tahap saling mengenal dan mencari tahu kecocokan satu sama lain.
Pria itu mengaku ingin memberikan kesan yang baik pada kencan pertamanya. Ia pun memutuskan untuk mengajak perempuan tersebut makan malam di sebuah restoran mewah. Tanpa ragu, ia memesan berbagai hidangan mahal, mulai dari steak hingga minuman beralkohol. Niatnya sederhana, yakni memastikan malam itu berjalan berkesan dan menyenangkan bagi keduanya.
Namun, ketika makanan tiba, sikap perempuan tersebut berubah dingin. Ia terlihat tidak banyak bicara dan hanya menghabiskan makanannya sebentar. Pria itu merasa ada yang salah, tetapi ia berusaha tetap bersikap ramah sepanjang acara. Ia berharap suasana bisa membaik seiring berjalannya malam, meski tanda-tanda ketidaknyamanan sudah mulai terlihat jelas.
Puncaknya, saat tagihan datang, pria itu kaget bukan kepalang. Total tagihan makan malam tersebut mencapai Rp 10 juta. Meski berat hati, ia tetap membayar seluruh tagihan karena tidak ingin terlihat pelit di depan kencannya. Keputusan itu ia ambil dalam kondisi serba salah, di tengah tekanan sosial dan keinginan untuk menjaga citra diri.
Setelah makan malam selesai, keduanya berpisah. Pria itu berharap bisa bertemu lagi, tetapi harapannya pupus. Sesampainya di rumah, ia mencoba menghubungi perempuan tersebut melalui pesan singkat. Tidak ada balasan. Ia menunggu dengan harapan jawaban yang tak kunjung datang.
Keesokan harinya, ia kembali mengirim pesan. Namun, ia sadar bahwa nomornya telah diblokir. Ia juga mendapati bahwa akun media sosial perempuan itu telah menghilang atau memblokirnya. Pria itu pun sadar bahwa ia telah menjadi korban ghosting setelah menghabiskan uang yang tidak sedikit. Ghosting, dalam konteks kencan modern, merujuk pada tindakan mengakhiri komunikasi secara tiba-tiba tanpa penjelasan apa pun, dan pengalaman itulah yang harus ia terima.
Kisah tersebut langsung menuai berbagai reaksi dari warganet. Banyak yang merasa kasihan dengan nasib pria itu, tetapi tidak sedikit pula yang mengkritik keputusannya menghabiskan uang sebesar itu untuk kencan pertama. Perdebatan pun terbelah antara simpati atas pengalaman buruk yang dialami dan kritik terhadap pengelolaan ekspektasi serta keuangan pribadi.
“Ini pelajaran mahal banget. Kencan pertama nggak perlu sampai segitinya,” tulis seorang warganet. Komentar itu mewakili pandangan banyak orang bahwa kencan pertama sebaiknya tidak dijadikan ajang pembuktian finansial.
“Rp 10 juta buat makan malam? Itu udah bisa buat liburan ke luar negeri,” komentar warganet lain. Sejumlah warganet juga menyoroti bahwa nominal tersebut setara dengan pengeluaran besar yang seharusnya dialokasikan untuk kebutuhan lain atau bahkan ditabung.
Sementara itu, beberapa orang menduga bahwa perempuan tersebut memang memiliki niat buruk sejak awal, yaitu memanfaatkan pria tersebut untuk mendapatkan makanan mewah gratis. Namun, tidak ada bukti kuat yang mendukung dugaan tersebut. Sampai saat ini, identitas perempuan tersebut tidak diungkap, dan tidak ada pernyataan resmi dari pihak mana pun yang dapat memverifikasi dugaan itu.
Kasus ini menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa kencan pertama sebaiknya dilakukan dengan sederhana. Tidak perlu memaksakan diri mengeluarkan biaya besar hanya untuk memberikan kesan yang baik. Yang terpenting adalah koneksi dan kenyamanan satu sama lain, bukan seberapa mahal meja makan yang dipilih.
Selain itu, penting untuk mengenal seseorang lebih dalam sebelum memutuskan bertemu. Jangan sampai niat baik untuk menjalin hubungan justru berujung pada kerugian finansial dan kekecewaan. Percakapan awal sebelum pertemuan bisa menjadi kesempatan untuk menyelaraskan ekspektasi, termasuk soal tempat dan anggaran, sehingga kedua pihak merasa nyaman sejak awal.
Dari sisi psikologi, keinginan memberikan kesan baik pada kencan pertama memang lazim. Namun, ketika keinginan itu mendorong seseorang mengeluarkan biaya di luar batas kemampuan, hal tersebut dapat menimbulkan stres dan penyesalan. Para pengamat hubungan sering menyarankan agar kencan pertama diisi dengan aktivitas ringan, seperti minum kopi atau berjalan-jalan, agar fokus tetap pada interaksi dan bukan pada pengeluaran.
Hingga berita ini ditulis, pria tersebut belum memberikan keterangan lebih lanjut. Ia hanya berharap pengalamannya bisa menjadi pelajaran bagi orang lain agar lebih berhati-hati dalam berkencan. Kritik juga diarahkan pada budaya kencan daring yang kerap memunculkan ekspektasi tidak realistis, terutama terkait siapa yang seharusnya membayar dan seberapa besar pengeluaran yang wajar.
Bagi banyak pembaca, kisah ini menegaskan pentingnya batasan pribadi. Menetapkan anggaran sejak awal, memilih tempat yang sesuai dengan kondisi keuangan, dan tidak merasa terbebani untuk selalu tampil sempurna adalah langkah-langkah yang bisa mencegah pengalaman serupa terulang. Pada akhirnya, kejujuran dan komunikasi yang terbuka dinilai jauh lebih bernilai dibandingkan kesan mewah yang dibangun semata-mata untuk memenuhi harapan orang lain.








