Minyak Goreng Berbusa Saat Dipakai? Ini 5 Penyebabnya

Minyak goreng berbusa saat dipakai? Kenali penyebabnya dan cara mengatasinya agar proses menggoreng tetap aman dan nyaman.

Minyak Goreng Berbusa Saat Dipakai? Ini 5 Penyebabnya

Minyak goreng yang berbusa saat dipakai kerap menimbulkan pertanyaan bagi banyak orang. Apakah minyak tersebut masih aman digunakan, atau justru sudah rusak dan berbahaya bagi kesehatan? Gejala berbusa pada minyak goreng sebenarnya bukan fenomena yang muncul tanpa sebab. Ada sejumlah faktor yang memicunya, mulai dari kondisi bahan makanan yang digoreng hingga kualitas minyak itu sendiri. Memahami penyebab-penyebab ini penting agar penggorengan tetap aman dan hasil masakan tidak terpengaruh.

Berikut ini beberapa penyebab minyak goreng berbusa saat dipakai, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber.

1. Kandungan air dalam bahan makanan

Salah satu penyebab utama minyak goreng berbusa adalah adanya kandungan air dalam bahan makanan yang digoreng. Ketika bahan makanan yang masih mengandung banyak air dimasukkan ke dalam minyak panas, air tersebut akan menguap dan menimbulkan buih. Semakin banyak air yang terkandung dalam bahan makanan, semakin banyak pula buih yang dihasilkan.

Proses ini sebenarnya berkaitan dengan sifat air dan minyak yang tidak dapat menyatu. Saat air di dalam bahan makanan terkena suhu tinggi, air berubah menjadi uap dan berusaha keluar dari minyak. Uap inilah yang kemudian terperangkap dan membentuk gelembung-gelembung atau buih di permukaan minyak. Bahan makanan seperti tahu, tempe basah, atau sayuran yang baru dicuci tanpa ditiriskan dengan baik biasanya menghasilkan buih lebih banyak dibandingkan bahan yang lebih kering.

2. Minyak sudah dipakai berulang kali

Minyak goreng yang sudah dipakai berulang kali akan mengalami penurunan kualitas. Minyak yang sudah rusak atau tengik cenderung lebih mudah berbusa saat dipanaskan. Hal ini disebabkan oleh adanya akumulasi kotoran dan sisa-sisa makanan yang tertinggal dalam minyak.

Setiap kali minyak dipakai, terjadi perubahan-perubahan kimia di dalamnya, termasuk terbentuknya senyawa hasil penguraian akibat pemanasan berulang. Sisa-sisa makanan yang tidak tersaring juga turut mempercepat kerusakan minyak. Ketika minyak seperti ini dipanaskan kembali, buih lebih mudah muncul karena struktur minyak sudah tidak stabil lagi. Pemakaian minyak yang terlalu sering juga membuat warna minyak berubah menjadi lebih gelap dan aromanya lebih menyengat.

3. Suhu minyak terlalu tinggi

Suhu minyak yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan minyak goreng berbusa. Ketika minyak dipanaskan melebihi titik asapnya, minyak akan terurai dan menghasilkan buih. Oleh karena itu, penting untuk menjaga suhu minyak agar tidak terlalu panas saat menggoreng.

Titik asap adalah suhu ketika minyak mulai mengeluarkan asap dan mengalami penguraian. Jika pemanasan terus dilanjutkan di atas titik tersebut, senyawa-senyawa di dalam minyak akan terpecah dan membentuk buih yang disertai dengan bau tidak sedap. Menggoreng pada suhu yang tepat, umumnya sekitar 160 sampai 180 derajat Celsius untuk sebagian besar kebutuhan rumah tangga, membantu mencegah masalah ini sekaligus menjaga kualitas hasil gorengan.

4. Adanya sisa karbon

Sisa karbon dari bahan makanan yang hangus atau gosong juga dapat menyebabkan minyak berbusa. Partikel-partikel karbon ini akan terperangkap dalam minyak dan menimbulkan buih saat minyak dipanaskan.

Karbon biasanya berasal dari tepung, remah-remah, atau bagian bahan makanan yang gosong dan terlepas ke dalam minyak. Partikel-partikel kecil ini berperan sebagai inti tempat gelembung-gelembung terbentuk, sehingga buih lebih mudah muncul dan bertahan lebih lama di permukaan minyak. Selain menyebabkan berbusa, keberadaan sisa karbon juga membuat minyak cepat kotor dan memengaruhi cita rasa gorengan berikutnya.

5. Kualitas minyak yang buruk

Minyak goreng dengan kualitas buruk atau telah tercampur dengan bahan lain juga dapat berbusa saat dipakai. Minyak yang tidak murni atau telah mengalami proses pengolahan yang tidak tepat cenderung lebih mudah berbusa.

Minyak yang telah dicampur dengan bahan lain, misalnya minyak jelantah yang dijual kembali secara tidak sesuai standar, sering kali sudah mengandung berbagai zat hasil penguraian. Kandungan tersebut membuat minyak lebih mudah berbuih, bahkan pada suhu yang relatif tidak terlalu tinggi. Memilih minyak goreng yang masih baru, jernih, dan berasal dari sumber terpercaya menjadi langkah sederhana untuk menghindari persoalan ini.

Cara mengatasi minyak goreng berbusa

Untuk mengatasi minyak goreng yang berbusa, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama, pastikan bahan makanan yang akan digoreng tidak mengandung terlalu banyak air. Kedua, gunakan minyak goreng yang masih baru dan berkualitas baik. Ketiga, jaga suhu minyak agar tidak terlalu tinggi. Keempat, saring minyak setelah digunakan untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran.

Meniriskan bahan makanan sebelum digoreng, misalnya dengan menepuknya menggunakan tisu dapur atau membiarkannya di saringan, mampu mengurangi jumlah air yang masuk ke dalam minyak. Menyaring minyak setelah dipakai juga membantu memisahkan partikel sisa makanan dan karbon sehingga minyak tidak cepat rusak. Selain itu, hindari menambahkan bahan-bahan asing ke dalam minyak karena dapat memperburuk kualitasnya.

Jika minyak goreng sudah terlalu sering dipakai dan sering berbusa, sebaiknya jangan digunakan lagi karena dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Minyak yang sudah rusak mengandung senyawa berbahaya yang dapat memicu berbagai penyakit. Mengganti minyak secara berkala, alih-alih memaksakan pemakaian berulang, merupakan pilihan yang lebih bijak demi keamanan dan kesehatan keluarga di rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

A+ A-
Kuliner Jawa

Live Search