Nenek 86 Tahun Jadi Barista Demi Selamatkan Kafe Anak

Nenek 86 tahun di China jadi barista setelah belajar meracik kopi demi menyelamatkan kafe anaknya yang hampir bangkrut. Kisahnya menginspirasi banyak orang.

Nenek 86 Tahun Jadi Barista Demi Selamatkan Kafe Anak

Di usia 86 tahun, sebagian besar orang memilih menikmati masa pensiun dengan beristirahat dan berkumpul bersama keluarga. Namun Karsinah, seorang nenek asal Semarang, mengambil jalan yang jauh berbeda. Ia justru terjun langsung menjadi barista di kafe milik anaknya, Kopi Kolonial, demi menyelamatkan usaha tersebut dari kebangkrutan. Kisahnya menjadi perhatian publik setelah akun Instagram @terangmedia membagikan video yang memperlihatkan Karsinah sedang menyeduh kopi. Dalam video itu, tangan keriputnya terlihat cekatan menggiling biji kopi, menyeduh, hingga menyajikan secangkir kopi kepada pelanggan. Pemandangan itu kontras dengan gambaran umum tentang pekerjaan barista yang biasanya identik dengan kaum muda.

Karsinah mengaku mempelajari cara membuat kopi secara otodidak. Ia mulai tertarik mempelajari proses penyeduhan ketika kafe milik anaknya, Andreas, mengalami penurunan pembeli yang tajam. Kondisi pandemi membuat usaha tersebut hampir gulung tikar. Dalam situasi itulah Karsinah memutuskan untuk turun tangan, awalnya hanya dengan mengamati anaknya bekerja, lalu perlahan mencoba sendiri. “Saya belajar sendiri, awalnya cuma lihat anak saya bikin kopi. Lama-lama saya coba, akhirnya bisa,” ujar Karsinah saat ditemui detikcom pada Selasa (28/1/2025).

Penuturan Karsinah menunjukkan bahwa pembelajaran tidak mengenal batas usia. Ia tidak pernah menyangka akan menjadi barista di usia senjanya. Namun niatnya sederhana dan tulus, yaitu membantu anaknya bertahan menjalani usaha. Ia rela berangkat pagi ke kafe dan pulang menjelang malam, menjalani rutinitas yang tidak biasa bagi orang seusianya. “Kasihan anak saya, kalau kafenya tutup dia nggak ada penghasilan. Saya mau bantu semampu saya,” tambahnya. Alasan itu menjadi penggerak utama di balik keputusannya untuk bekerja, bukan sekadar mengisi waktu luang.

Meski usianya tidak lagi muda, Karsinah mengaku tidak merasa kesulitan berarti. Ia justru menikmati pekerjaan barunya. Baginya, menyeduh kopi bukan hanya soal menyajikan minuman, tetapi juga menjalin interaksi dengan pelanggan. Percakapan ringan dengan para tamu, mendengar cerita mereka, serta melihat reaksi mereka saat mencicipi kopi menjadi bagian yang menyenangkan dari pekerjaannya. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan barista tidak semata soal keterampilan teknis, tetapi juga menyangkut kemampuan membangun hubungan sosial dengan pelanggan.

Pelanggan yang datang pun banyak yang terkejut dan kagum. Beberapa bahkan datang khusus untuk melihat aksi Karsinah membuat kopi. Cerita ini menyebar luas di media sosial dan mengundang simpati banyak orang. Perhatian publik tersebut secara tidak langsung membantu meningkatkan jumlah kunjungan ke Kopi Kolonial. Dari sebuah kafe yang hampir tutup, tempat itu kembali ramai pembeli. Karsinah pun menjadi daya tarik tersendiri yang membuat orang penasaran. “Banyak yang bilang ‘Mbah hebat’, saya senang. Yang penting saya sehat, bisa bantu anak,” ucapnya sambil tersenyum.

Sang anak, Andreas, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran ibunya. Ia tak menyangka ibunya bersedia belajar hal baru di usia senja. Bagi Andreas, keputusan ibunya bukan hanya menyelamatkan usaha secara finansial, tetapi juga memberi semangat moral yang besar. Kini, Kopi Kolonial kembali ramai pembeli, tidak lepas dari peran Karsinah yang menjadi daya tarik tersendiri. “Saya bangga sama ibu. Di usia 86 tahun dia masih mau belajar dan bekerja untuk keluarga,” kata Andreas. Pernyataan itu menegaskan bahwa dukungan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan usaha kecil.

Kisah Karsinah menjadi bukti bahwa usia bukan halangan untuk berkontribusi dan mempelajari hal baru. Semangatnya menyeduh kopi demi anaknya telah menginspirasi banyak orang, baik pelanggan yang datang langsung maupun warganet yang mengikuti ceritanya melalui media sosial. Fenomena ini juga mencerminkan bagaimana usaha kecil keluarga dapat bertahan ketika anggotanya saling mendukung. Dalam konteks yang lebih luas, kisah ini menggambarkan nilai ketekunan, kasih sayang, dan keberanian untuk mencoba hal baru meski berada di usia lanjut. Bagi Karsinah, menjadi barista bukan tentang popularitas, melainkan tentang kasih sayang seorang ibu yang tak pernah pudar, bahkan di usia senja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

A+ A-
Kuliner Jawa

Live Search