5 Kebiasaan Makan yang Bisa Jadi Tanda Awal Demensia

Perubahan kebiasaan makan bisa menjadi salah satu tanda demensia. Mulai dari lupa makan hingga mendadak gemar makan manis, ini lima tanda yang perlu dicermati.

5 Kebiasaan Makan yang Bisa Jadi Tanda Awal Demensia

Demensia merupakan kondisi penurunan fungsi kognitif yang memengaruhi daya ingat, cara berpikir, dan kemampuan mengambil keputusan. Kondisi ini umumnya dialami oleh lansia, tetapi dalam sejumlah kasus dapat muncul lebih awal, bahkan pada usia yang relatif muda. Prevalensi demensia terus meningkat seiring bertambahnya usia populasi dunia, sehingga pemahaman mengenai tanda-tanda awalnya menjadi semakin penting bagi masyarakat luas.

Tanpa disadari, tanda awal demensia dapat tercermin dari kebiasaan makan sehari-hari. Perubahan pola makan tertentu ternyata dapat menjadi sinyal peringatan dini yang perlu diwaspadai oleh individu maupun keluarga. Perubahan tersebut tidak selalu berupa keluhan yang jelas, melainkan bisa muncul secara bertahap dan sering dianggap sebagai hal biasa. Padahal, mengenali tanda-tanda ini sejak dini dapat membantu proses diagnosis dan penanganan yang lebih tepat.

Melansir berbagai sumber, berikut beberapa kebiasaan makan yang bisa menjadi tanda awal demensia.

1. Makan dalam Porsi Berlebihan

Kebiasaan makan dalam porsi besar atau terus-menerus merasa lapar bisa menjadi tanda awal demensia. Kondisi ini berkaitan dengan kerusakan pada area otak yang mengatur rasa kenyang dan nafsu makan. Ketika area tersebut mengalami gangguan, penderita kehilangan sinyal internal yang seharusnya memberi tahu bahwa tubuh sudah cukup menerima makanan.

Penelitian menunjukkan bahwa penderita demensia frontotemporal, jenis demensia yang menyerang lobus frontal dan temporal otak, sering mengalami hiperfagia atau makan berlebihan. Mereka cenderung tidak bisa berhenti makan meski sudah kenyang. Hiperfagia tidak hanya berdampak pada asupan kalori yang berlebihan, tetapi juga dapat memicu masalah kesehatan lain seperti obesitas, diabetes, dan gangguan metabolisme. Perilaku makan yang sulit dikendalikan ini juga dapat menimbulkan kekhawatiran bagi anggota keluarga yang merawat penderita.

2. Lebih Suka Makanan Manis

Perubahan preferensi makanan, terutama menjadi lebih menyukai makanan manis, bisa menjadi tanda awal demensia. Kondisi ini juga sering dikaitkan dengan demensia frontotemporal. Penderita yang sebelumnya tidak terlalu menyukai makanan manis dapat tiba-tiba mengonsumsi gula dalam jumlah besar, termasuk pada makanan dan minuman yang seharusnya tidak terlalu manis.

Penderita demensia frontotemporal diketahui mengalami perubahan pada area otak yang mengatur preferensi makanan. Akibatnya, mereka lebih memilih makanan tinggi gula dan karbohidrat dibandingkan makanan sehat. Perubahan ini tidak sekadar soal selera, melainkan berkaitan dengan gangguan fungsi otak yang memengaruhi pengambilan keputusan dan kontrol diri. Dalam jangka panjang, pola makan seperti ini dapat memperburuk kondisi kesehatan secara keseluruhan dan mempercepat penurunan fungsi kognitif.

3. Menelan Makanan Tanpa Dikunyah dengan Baik

Kesulitan mengunyah atau menelan makanan dengan baik bisa menjadi tanda awal demensia. Kondisi ini dikenal sebagai disfagia, yaitu gangguan menelan yang sering dialami penderita demensia. Disfagia dapat muncul dalam berbagai tingkat keparahan, mulai dari rasa tidak nyaman saat menelan hingga risiko tersedak yang mengancam nyawa.

Disfagia pada demensia terjadi karena kerusakan saraf yang mengontrol otot-otot tenggorokan dan mulut. Akibatnya, penderita bisa tersedak atau mengalami kesulitan menelan makanan. Gangguan ini juga dapat menyebabkan makanan masuk ke saluran pernapasan, yang berpotensi menimbulkan infeksi paru-paru atau pneumonia aspirasi. Oleh karena itu, keluarga atau pengasuh perlu memperhatikan cara penderita makan dan segera mencari bantuan medis jika muncul tanda-tanda kesulitan menelan.

4. Tidak Bisa Mengenali Makanan

Ketidakmampuan mengenali makanan yang disajikan, meski makanan tersebut familiar, bisa menjadi tanda awal demensia. Kondisi ini disebut agnosia, yaitu gangguan dalam mengenali objek atau orang. Penderita mungkin melihat sepiring nasi, lauk, atau buah di hadapannya, tetapi tidak dapat memahami apa yang sedang dilihatnya.

Agnosia pada demensia terjadi karena kerusakan pada area otak yang bertanggung jawab memproses informasi visual dan sensorik. Penderita bisa melihat makanan tetapi tidak bisa mengidentifikasinya. Akibatnya, mereka mungkin menolak makan, bingung, atau bahkan mencoba mengonsumsi benda yang bukan makanan. Gangguan ini tidak hanya memengaruhi asupan gizi, tetapi juga menimbulkan risiko keselamatan, terutama jika penderita salah mengenali objek berbahaya sebagai makanan.

5. Lupa Cara Makan

Lupa bagaimana cara menggunakan alat makan atau lupa cara makan bisa menjadi tanda demensia yang lebih lanjut. Kondisi ini disebut apraksia, yaitu gangguan dalam melakukan gerakan yang sudah dipelajari. Penderita yang sebelumnya terbiasa menggunakan sendok, garpu, atau sumpit dapat kehilangan kemampuan tersebut secara bertahap.

Apraksia pada demensia terjadi karena kerusakan pada area otak yang mengontrol gerakan motorik terampil. Penderita bisa lupa cara menggunakan sendok, garpu, atau bahkan lupa cara mengunyah dan menelan. Kondisi ini menandakan bahwa demensia telah memengaruhi fungsi otak yang lebih kompleks dan biasanya memerlukan pendampingan intensif dalam aktivitas sehari-hari, termasuk saat makan.

Jika Anda atau orang terdekat mengalami beberapa kebiasaan makan di atas, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Deteksi dini demensia sangat penting untuk memperlambat progresivitas kondisi ini. Selain itu, penerapan pola makan sehat, aktivitas fisik rutin, dan stimulasi kognitif dapat membantu menjaga kesehatan otak serta menurunkan risiko demensia di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

A+ A-
Kuliner Jawa

Live Search