Jatuh Cinta dengan Chef, Eks Pramugari SQ Kini Jualan Teppanyaki
Mantan pramugari Singapore Airlines, Cherry Tan, kini menjalankan bisnis hawker bersama suaminya. Menjajakan teppanyaki, kisahnya berawal dari jatuh cinta.

Jatuh Cinta dengan Chef, Eks Pramugari Singapore Airlines Kini Jualan Teppanyaki
Perubahan karier yang dramatis sering kali lahir dari keputusan hati. Hal itulah yang dialami oleh Cherry Tan, mantan pramugari Singapore Airlines yang kini memilih meninggalkan dunia penerbangan demi mengelola bisnis kuliner bersama sang suami. Dalam laporan yang diterbitkan pada awal September 2026, Cherry Tan diketahui kini menjalankan usaha hawker yang menyajikan teppanyaki, hidangan khas Jepang yang dimasak di atas plat besi panas. Yang menarik, titik balik hidupnya ini justru berawal dari kisah cinta.
Sebagai mantan awak kabin Singapore Airlines, Cherry Tan terbiasa dengan kehidupan yang serba terstruktur, disiplin tinggi, dan penuh standar pelayanan dunia internasional. Profesi pramugari memang dikenal menuntut kemampuan komunikasi lintas budaya, ketenangan dalam situasi tekanan, serta ketelitian dalam menangani kebutuhan penumpang dari berbagai latar belakang. Namun, kecintaannya pada seseorang yang berprofesi sebagai chef telah mengubah arah hidupnya secara fundamental. Dari kabin pesawat yang melintasi berbagai negara, Cherry Tan kini berdiri di balik gerai hawker, melayani pelanggan yang datang untuk menikmati hidangan teppanyaki buatannya.
Teppanyaki sendiri merupakan salah satu gaya memasak Jepang yang populer di Asia Tenggara. Istilah teppanyaki berasal dari kata “teppan” yang berarti plat besi, dan “yaki” yang berarti dipanggang atau digoreng. Dalam penyajiannya, bahan makanan seperti daging sapi, ayam, udang, cumi, dan aneka sayuran dimasak di atas plat besi panas di hadapan para pengunjung. Cara memasak ini tidak hanya menghasilkan cita rasa yang khas, tetapi juga menghadirkan pertunjukan visual yang atraktif. Keahlian sang chef dalam membalik spatula, mengatur suhu, dan menyajikan makanan dengan gerakan lincah menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan.
Keputusan Cherry Tan untuk beralih ke bisnis hawker sejatinya mencerminkan fenomena yang semakin umum terjadi di Singapura. Budaya hawker telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner negara kota tersebut. Gerai-gerai kecil yang tersebar di berbagai hawker centre ini menyajikan beragam hidangan mulai dari nasi ayam Hainan, laksa, chilli crab, hingga hidangan internasional seperti teppanyaki. Pada tahun 2020, UNESCO bahkan secara resmi mengakui budaya hawker Singapura sebagai Warisan Budaya Takbenda kemanusiaan. Pengakuan ini menjadikan hawker centre bukan sekadar tempat makan murah, melainkan institusi sosial yang merekatkan masyarakat Singapura dari berbagai lapisan.
Menjadi seorang penjual hawker bukanlah pekerjaan yang mudah. Di balik kesan sederhana sebuah gerai, terdapat kerja keras yang dimulai dari persiapan bahan baku di pagi buta, pengaturan stok, manajemen kebersihan, hingga pelayanan kepada pelanggan yang sering kali datang berbondong-bondong pada jam makan siang. Keuntungan bisnis hawker memang bisa menjanjikan, tetapi persaingannya pun ketat. Diperlukan resep yang konsisten, harga yang bersaing, serta kemampuan membaca selera pasar agar sebuah gerai mampu bertahan dan berkembang.
Dalam konteks kisah Cherry Tan, pengalamannya sebagai pramugari Singapore Airlines memberikan sejumlah modal berharga yang tidak dimiliki oleh pebisnis kuliner pada umumnya. Disiplin tinggi yang ditanamkan selama bertahun-tahun melayani penumpang kelas dunia membentuk etos kerja yang kuat. Kemampuan berkomunikasi dalam berbagai bahasa memudahkannya berinteraksi dengan pelanggan lokal maupun wisatawan asing yang singgah di gerainya. Standar kebersihan dan kerapian yang melekat pada dunia penerbangan juga menjadi nilai tambah dalam pengelolaan gerai makanan, di mana aspek higienitas menjadi salah satu faktor penentu kepercayaan konsumen.
Singapura sendiri dikenal sebagai salah satu destinasi kuliner terbaik di Asia. Setiap tahunnya, jutaan wisatawan datang untuk merasakan pengalaman bersantap di hawker centre yang telah melahirkan banyak kisah sukses. Beberapa penjual hawker bahkan berhasil meraih bintang Michelin, seperti yang terjadi pada gerai nasi ayam yang dikelola oleh sepasang kakak beradik di Chinatown. Keberhasilan tersebut membuktikan bahwa bisnis hawker bukanlah usaha kelas dua, melainkan lahan yang mampu menghasilkan prestasi dan penghasilan yang tidak bisa diremehkan.
Dalam kasus Cherry Tan, kolaborasi dengan suaminya yang berprofesi sebagai chef menjadi kunci utama keberhasilan usaha mereka. Pembagian peran yang jelas antara pengelolaan dapur dan pelayanan pelanggan memungkinkan keduanya untuk fokus pada bidang masing-masing. Sang suami, dengan keahliannya dalam mengolah hidangan teppanyaki, bertanggung jawab atas kualitas dan cita rasa makanan. Sementara itu, Cherry Tan membawa pengalaman pelayanannya yang prima untuk memastikan setiap pelanggan merasa diperlakukan dengan baik, sebagaimana ia dulu melayani penumpang di kabin pesawat.
Menariknya, kisah Cherry Tan juga menjadi bukti bahwa cinta dapat menjadi pemicu transformasi hidup yang signifikan. Banyak orang yang enggan meninggalkan pekerjaan yang stabil dan mapan dengan gaji yang tinggi demi mengejar sesuatu yang lebih bermakna. Namun, Cherry Tan menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari besaran pendapatan atau gengsi profesi. Berdagang teppanyaki di hawker centre mungkin jauh dari bayangan seorang mantan pramugari, tetapi keputusan ini dijalaninya dengan keyakinan dan dukungan penuh dari pasangan hidupnya.
Bisnis kuliner memang memiliki daya tarik tersendiri bagi para pensiunan atau mantan pekerja profesional. Di Singapura, banyak mantan pegawai kantoran yang kemudian membuka gerai makanan setelah memasuki usia pensiun. Sebagian melakukannya untuk mengisi waktu, sebagian lagi untuk menambah penghasilan dan tetap produktif. Namun, keputusan Cherry Tan untuk terjun ke dunia kuliner tampaknya bukan sekadar pengisi waktu luang, melainkan sebuah langkah serius untuk membangun masa depan bersama keluarganya.
Teppanyaki sebagai pilihan menu juga tergolong cerdas dari sisi bisnis. Hidangan ini menawarkan nilai jual yang berbeda dibandingkan menu hawker tradisional Singapura seperti chicken rice atau laksa. Dengan menyajikan teppanyaki, gerai Cherry Tan mampu menarik pelanggan yang mencari pengalaman kuliner Jepang dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan restoran Jepang formal. Selain itu, proses memasak yang dilakukan di depan pelanggan menciptakan pengalaman bersantap yang interaktif dan menghibur, sesuatu yang jarang ditemukan di hawker centre biasa.
Seiring waktu, kisah Cherry Tan dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang, khususnya mereka yang sedang berada di persimpangan jalan dalam menentukan arah karier. Tidak ada kata terlambat untuk memulai hal baru, dan tidak ada profesi yang terlalu rendah untuk dijalani selama dilakukan dengan sepenuh hati. Cherry Tan telah membuktikan bahwa keterampilan yang diperoleh dari satu profesi dapat dialihkan dan dimanfaatkan di bidang yang sama sekali berbeda. Standar pelayanan yang ia bawa dari Singapore Airlines kini menjadi identitas layanan gerai teppanyaki miliknya.
Bagi para penggemar kuliner yang kebetulan berkunjung ke Singapura dan ingin merasakan hidangan teppanyaki yang dikelola oleh mantan pramugari ini, gerai Cherry Tan menawarkan pengalaman yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyimpan kisah inspiratif di balik setiap sajiannya. Dari dapur kecil di hawker centre, Cherry Tan membuktikan bahwa perubahan besar dalam hidup sering kali dimulai dari langkah kecil yang dimotivasi oleh hal-hal sederhana seperti cinta dan keberanian untuk mencoba hal baru.








