Viral! Ayam Panggang Influencer Ditutup, Ternyata Belum Matang!
Festival Khareef Dhofar di Oman disorot usai sebuah wahana kuliner bertema ayam milik influencer Ahmed Al-Saadi ditutup sementara oleh otoritas kesehatan.

Viral! Wahana Kuliner Influencer Ahmed Al-Saadi di Festival Khareef Dhofar Oman Ditutup Karena Ayam Panggang Belum Matang
Sebuah insiden keamanan pangan yang melibatkan seorang influencer ternama menjadi sorotan publik pada hari ini, Jumat, 7 Agustus 2026. Wahana kuliner bertema ayam yang dikelola oleh influencer Ahmed Al-Saadi di Festival Khareef Dhofar, Oman, resmi ditutup sementara oleh otoritas kesehatan setempat. Penutupan ini dilakukan setelah tim inspeksi menemukan fakta bahwa sajian andalan mereka, yaitu ayam panggang, belum matang sempurna. Peristiwa ini dengan cepat memicu reaksi luas di media sosial, mengingat festival tersebut merupakan salah satu ajang kuliner dan budaya terbesar di kawasan Timur Tengah yang dikunjungi oleh ribuan wisatawan.
Festival Khareef Dhofar, yang berlokasi di Salalah, Oman, merupakan event tahunan yang diselenggarakan untuk merayakan musim khareef atau musim hujan dan kabut yang menyelimuti wilayah Dhofar. Festival ini tidak hanya menawarkan pemandangan alam yang unik, tetapi juga menjadi pusat aktivitas ekonomi, budaya, dan kuliner. Ribuan stan kuliner, hiburan, dan kerajinan tangan dibuka untuk memanjakan pengunjung yang datang dari berbagai penjuru dunia. Karena tingginya volume pengunjung dan variasi makanan yang disajikan, standar keamanan pangan menjadi aspek yang sangat krusial. Otoritas kesehatan Oman secara rutin melakukan patroli dan inspeksi mendadak untuk memastikan seluruh vendor mematuhi regulasi kebersihan dan keselamatan makanan. Kehadiran influencer seperti Ahmed Al-Saadi dalam festival ini sejatinya diharapkan dapat menarik lebih banyak pengunjung dan meningkatkan citra positif kuliner yang ditawarkan, namun insiden ini justru menunjukkan celah dalam operasional stan miliknya.
Berdasarkan informasi yang beredar dan terekam dalam dokumentasi visual pada tanggal 6 Agustus 2026 sebelum berita ini menjadi viral pada hari ini, tim inspeksi kesehatan melakukan pemeriksaan rutin di area kuliner festival. Ketika memeriksa stan milik Ahmed Al-Saadi, para petugas menemukan bahwa proses pemanggangan ayam tidak memenuhi standar keamanan pangan yang ditetapkan. Daging ayam yang disajikan kepada konsumen teridentifikasi belum matang secara sempurna, yang ditandai dengan tekstur dan warna daging di bagian dalam yang masih mentah atau setengah matang. Dalam industri pangan, penyajian unggas yang tidak matang sempurna merupakan pelanggaran berat karena berpotensi membahayakan kesehatan konsumen. Otoritas kesehatan tidak ragu untuk langsung mengambil tindakan tegas dengan menutup sementara operasional stan tersebut. Tindakan ini diambil sebagai langkah preventif untuk mencegah terjadinya keracunan makanan massal yang dapat merusak reputasi festival dan membahayakan nyawa pengunjung.
Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, konsumsi daging unggas yang belum matang sempurna memiliki risiko yang sangat tinggi. Ayam mentah atau setengah matang sering kali menjadi media berkembang biak bagi berbagai jenis bakteri patogen berbahaya, seperti Salmonella, Campylobacter, dan Escherichia coli. Bakteri-bakteri ini hanya dapat dimatikan secara efektif melalui proses pemasakan dengan suhu yang tepat dan merata hingga ke bagian dalam daging. Ketika ayam panggang disajikan dalam kondisi belum matang, konsumen yang mengonsumsinya rentan mengalami gangguan pencernaan serius, mulai dari diare, kram perut, mual, muntah, hingga demam. Dalam kasus yang lebih parah, infeksi bakteri dari unggas yang tidak matang dapat menyebabkan dehidrasi berat dan komplikasi kesehatan yang memerlukan perawatan medis intensif. Oleh karena itu, regulasi keamanan pangan di negara-negara Teluk, termasuk Oman, sangat ketat dalam mengawasi suhu dan tingkat kematangan daging unggas yang dijual di area publik.
Fenomena penutupan stan milik seorang influencer juga membuka diskusi penting mengenai tanggung jawab kreator konten dalam bisnis kuliner. Di era digital saat ini, banyak influencer yang melebarkan sayap ke industri makanan dengan membuka stan atau restoran, mengandalkan basis penggemar mereka sebagai pelanggan utama. Pengunjung sering kali memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap produk yang dipromosikan oleh figur publik, dengan asumsi bahwa kualitas dan keamanan makanan tersebut telah terjamin. Namun, insiden yang menimpa Ahmed Al-Saadi ini menjadi peringatan keras bahwa popularitas di media sosial tidak dapat menggantikan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur keamanan pangan. Ketika seorang influencer gagal memenuhi standar kebersihan dan keselamatan makanan, dampaknya tidak hanya merugikan diri mereka sendiri secara finansial dan reputasi, tetapi juga dapat merusak kepercayaan publik terhadap influencer lain yang bergerak di bidang yang sama. Otoritas festival dan kesehatan kini dituntut untuk lebih selektif dan ketat dalam memberikan izin operasional kepada vendor yang berbasis pada popularitas digital.
Respons cepat dari otoritas kesehatan Oman dalam menutup stan tersebut menunjukkan komitmen pemerintah setempat dalam menjaga standar kesehatan masyarakat selama event berskala internasional berlangsung. Penutupan sementara bukanlah akhir dari proses hukum atau administratif, melainkan langkah awal dari serangkaian investigasi lebih lanjut. Pihak pengelola stan diwajibkan untuk memperbaiki sistem memasak, melatih ulang staf mengenai prosedur keamanan pangan, dan membuktikan bahwa peralatan serta teknik pemanggangan telah memenuhi standar sebelum mereka diizinkan untuk membuka kembali operasional. Di sisi lain, panitia Festival Khareef Dhofar juga perlu mengevaluasi sistem pengawasan mereka. Meskipun inspeksi rutin telah dilakukan, insiden ini membuktikan bahwa pengawasan harus ditingkatkan, terutama pada stan-stan yang memiliki volume penjualan tinggi dan dikelola oleh figur publik yang rentan menarik massa dalam waktu singkat. Edukasi berkelanjutan bagi para vendor mengenai pentingnya kematangan sempurna pada produk olahan unggas harus menjadi prioritas utama dalam persiapan festival-festival kuliner di masa mendatang, guna memastikan setiap sajian yang sampai ke tangan konsumen benar-benar aman dan layak dikonsumsi.








