Peternakan Sapi Dago Dairy Tutup, Sulit Cari Pekerja Jadi Biang Keroknya
Peternakan sapi Dago Dairy pamit setelah hampir dua tahun kesulitan mencari pekerja. Dua putra pemilik juga tak ingin meneruskan usaha peternakan sapi tersebut.

Peternakan Sapi Perah Dago Dairy Tutup, Kekurangan Pekerja dan Biaya Pakan Jadi Pemicu Utama
Bandung kembali kehilangan salah satu destinasi wisata edukasi ikoniknya. Peternakan sapi perah Dago Dairy yang berlokasi di kawasan Dago, Kota Bandung, resmi menutup operasionalnya. Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh pihak pengelola pada Jumat, 28 Agustus 2026. Penutupan ini mengejutkan banyak pihak, terutama para pengunjung setia yang selama ini menjadikan tempat tersebut sebagai tujuan rekreasi keluarga.
Dago Dairy bukan sekadar peternakan biasa. Sejak berdiri pada tahun 2019, tempat ini telah berkembang menjadi destinasi wisata edukasi yang populer di kalangan warga Bandung dan sekitarnya. Berlokasi di Jalan Dago Giri, tepatnya di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda, peternakan ini menawarkan pengalaman langsung kepada pengunjung untuk mengenal dunia peternakan sapi perah. Mulai dari menyaksikan proses pemerahan susu secara langsung, memberi makan sapi, hingga berinteraksi dengan sapi perah jenis Friesian Holstein yang menjadi daya tarik utama.
Namun, di balik popularitasnya, pengelola menghadapi tantangan berat yang akhirnya memaksa mereka mengambil keputusan pahit. Perwakilan pengelola Dago Dairy saat dihubungi detikcom mengungkapkan bahwa kesulitan utama yang dihadapi adalah mencari tenaga kerja baru yang bersedia mengelola peternakan, khususnya di bagian pemerahan dan perawatan sapi. “Betul, kami tutup. Kesulitan utama adalah mencari pekerja yang mau mengelola peternakan sapi, khususnya di bagian pemerahan dan perawatan sapi. Generasi muda sekarang banyak yang tidak tertarik bekerja di sektor peternakan,” ujarnya.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Sektor peternakan, terutama yang berkaitan dengan perawatan hewan secara langsung, kerap dianggap kurang menarik oleh generasi muda. Padahal, pekerjaan ini membutuhkan keahlian khusus, ketelatenan, dan jam kerja yang tidak menentu. Sapi perah memerlukan perawatan intensif, termasuk jadwal pemerahan yang ketat, pemberian pakan yang terjadwal, serta pemantauan kesehatan secara berkala. Minimnya minat generasi muda terhadap pekerjaan semacam ini menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan usaha peternakan di Indonesia.
Selain masalah tenaga kerja, faktor ekonomi juga menjadi pendorong utama penutupan ini. Pengelola menyebutkan bahwa biaya operasional yang terus meningkat, terutama harga pakan ternak yang melonjak signifikan, telah membuat margin usaha semakin tipis. “Biaya pakan naik signifikan, sementara harga susu segar tidak bisa naik terlalu tinggi karena mengikuti harga pasar. Ditambah lagi susahnya cari karyawan yang betah, akhirnya kami memutuskan untuk menutup operasional,” jelasnya.
Kenaikan harga pakan ternak memang menjadi isu nasional yang berdampak luas pada industri peternakan. Bahan baku pakan seperti jagung, bungkil kedelai, dan konsentrat lainnya sebagian besar masih diimpor, sehingga fluktuasi nilai tukar rupiah dan harga komoditas global sangat memengaruhi biaya produksi. Bagi peternakan skala kecil dan menengah seperti Dago Dairy, tekanan biaya ini menjadi sangat berat, terutama ketika harga jual susu segar tidak dapat dinaikkan secara fleksibel karena harus mengikuti mekanisme pasar.
Kabar penutupan ini tentu menjadi duka mendalam bagi para pengunjung setia. Salah satunya diungkapkan oleh Rina (34), warga Bandung yang rutin membawa anaknya bermain ke Dago Dairy. “Sedih banget, padahal anak saya suka sekali lihat sapi di sana. Tempatnya asri, sejuk, dan edukatif. Semoga ada investor lain yang mau mengelola dengan konsep serupa,” ucap Rina dengan nada kecewa.
Rina bukanlah satu-satunya yang merasa kehilangan. Selama beroperasi, Dago Dairy telah menjadi saksi ribuan kunjungan keluarga, kunjungan sekolah, dan kegiatan edukasi lainnya. Tempat ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga memberikan nilai pendidikan tentang asal-usul susu, proses peternakan, dan pentingnya industri pertanian bagi kehidupan sehari-hari. Bagi anak-anak perkotaan yang jarang bersentuhan dengan dunia peternakan, kehadiran Dago Dairy memberikan pengalaman berharga yang sulit ditemukan di tempat lain.
Saat ini, area peternakan yang berada di lahan milik Perum Perhutani tersebut sedang dalam proses pengosongan. Sapi-sapi yang sebelumnya dipelihara di sana telah dijual atau dipindahkan ke peternakan lain di wilayah Jawa Barat. Proses ini tentu membutuhkan waktu dan koordinasi yang matang, mengingat perpindahan hewan ternak harus dilakukan dengan hati-hati untuk memastikan kesehatan dan kesejahteraan sapi tetap terjaga.
Pihak pengelola menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pengunjung yang telah mendukung Dago Dairy selama beroperasi. Mereka berharap ke depannya ada pihak lain yang mampu menghidupkan kembali wisata peternakan serupa di Bandung dengan pengelolaan yang lebih baik dan berkelanjutan. Harapan ini bukan tanpa alasan, mengingat potensi wisata edukasi peternakan di Bandung masih sangat besar. Kawasan Dago sendiri dikenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Kota Bandung dengan udara sejuk dan pemandangan alam yang indah.
Penutupan Dago Dairy juga menjadi pengingat akan pentingnya regenerasi tenaga kerja di sektor pertanian dan peternakan. Di tengah derasnya arus urbanisasi dan preferensi generasi muda terhadap pekerjaan di sektor formal atau industri kreatif, sektor peternakan menghadapi krisis sumber daya manusia yang serius. Padahal, sektor ini merupakan salah satu penyokong ketahanan pangan nasional. Dibutuhkan upaya bersama, baik dari pemerintah, akademisi, maupun pelaku industri, untuk menarik minat generasi muda agar mau berkarier di bidang peternakan. Insentif, pelatihan, dan modernisasi teknologi peternakan bisa menjadi langkah awal untuk mengubah persepsi bahwa bekerja di peternakan adalah pekerjaan yang kotor, berat, dan tidak menjanjikan.
Di sisi lain, kasus ini juga menyoroti perlunya dukungan kebijakan bagi peternak kecil dan menengah. Fluktuasi harga pakan yang ekstrem tanpa diimbangi mekanisme perlindungan harga jual membuat usaha peternakan menjadi sangat rentan. Ketersediaan pakan dengan harga terjangkau, akses pembiayaan yang mudah, serta jaminan pasar merupakan elemen penting yang harus diperhatikan agar industri peternakan nasional dapat bertahan dan berkembang.
Meskipun Dago Dairy telah tutup, jejak dan kontribusinya selama tujuh tahun beroperasi tidak akan mudah dilupakan. Tempat ini telah memberikan edukasi kepada ribuan orang tentang pentingnya industri susu dan peternakan. Ke depannya, diharapkan akan lahir inisiatif serupa yang mampu mengombinasikan aspek edukasi, wisata, dan keberlanjutan usaha dengan lebih baik. Bandung, dengan kekayaan alam dan budayanya, tentu masih menyimpan banyak potensi untuk mengembangkan destinasi wisata edukasi yang tidak kalah menarik.








