Review Cookie Rp15 Ribu ala Dubai: Vlogger Dihujat karena Dinilai Jatuhkan UMKM
an terlalu lembek, food vlogger ini dikritik netizen. Ia dianggap menjatuhkan produk UMKM. Begini kronologinya!

Kontroversi Food Vlogger Vs UMKM: Review Dubai Chewy Cookie Rp15 Ribu Tuai Hujatan Warganet
Media sosial kembali diramaikan oleh perdebatan sengit yang bermula dari sebuah video review kuliner. Seorang food vlogger dengan basis pengikut yang cukup besar menjadi sorotan publik setelah mengunggah ulasan negatif terhadap produk Dubai Chewy Cookie, sebuah camilan buatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Dalam penilaiannya, ia menganggap harga jual produk tersebut, yakni Rp15 ribu per kemasan, tidak sebanding dengan kualitas rasa dan tekstur yang ditawarkan. Pernyataan ini memicu gelombang kritik dari warganet yang menilai sang kreator konten dinilai terlalu keras dan berpotensi menjatuhkan bisnis kecil yang sedang merintis.
Video yang diunggah pada Selasa, 25 Agustus 2026, di akun TikTok pribadi sang vlogger tersebut dengan cepat menjadi viral. Dalam tayangan berdurasi pendek, ia memperlihatkan secara detail kemasan Dubai Chewy Cookie yang dibeli dari sebuah stan di pusat perbelanjaan. Setelah melakukan uji coba mencicipi, ia menyampaikan kekecewaannya secara blak-blakan. Kekurangan yang ia soroti terutama pada tekstur yang menurutnya tidak memenuhi ekspektasi sebagai cookie yang legit dan kenyal, serta rasa yang dinilai biasa saja. Ia bahkan menyebutkan bahwa dengan nominal yang sama, konsumen memiliki banyak alternatif pilihan produk sejenis yang lebih lezat di pasaran.
“Rasanya biasa saja, teksturnya tidak chewy seperti namanya. Untuk harga Rp15 ribu, saya rasa masih banyak pilihan cookie lain yang lebih enak,” ucapnya dalam video yang hingga saat ini telah ditonton lebih dari jutaan kali. Pernyataan tersebut sontak memicu perdebatan tidak hanya di kolom komentar TikTok, tetapi juga meluas ke berbagai platform media sosial lainnya seperti X (sebelumnya Twitter), Instagram, dan Facebook.
Kronologi dan Dampak Langsung terhadap Penjualan
Reaksi keras dari warganet tidak muncul tanpa sebab. Banyak pihak menilai bahwa kritik yang disampaikan oleh food vlogger tersebut terkesan subjektif dan tidak berimbang. Kekhawatiran utama adalah dampak psikologis dan ekonomi yang ditimbulkan terhadap pemilik UMKM yang tengah berjuang membangun brand-nya. Tak lama setelah video tersebut viral, kabar beredar bahwa penjualan Dubai Chewy Cookie mengalami penurunan drastis. Hal ini tentu menjadi pukulan telak bagi pelaku usaha yang sebelumnya menerima banyak ulasan positif dari pelanggan langsung di lokasi.
Pemilik UMKM yang produknya menjadi sasaran review akhirnya angkat bicara melalui unggahan di akun media sosialnya. Ia mengaku sangat terpukul dengan kejadian ini. Dalam pernyataannya, ia menjelaskan secara transparan bahwa penetapan harga Rp15 ribu bukanlah tanpa perhitungan matang. Harga tersebut sudah memperhitungkan penggunaan bahan baku premium yang menjadi andalan produknya, seperti cokelat Belgia berkualitas tinggi dan mentega impor dari Eropa yang memberikan cita rasa khas.
“Kami memulai usaha ini dengan modal nekat dan penuh perjuangan. Review seperti ini tentu sangat memengaruhi penjualan kami. Padahal banyak pelanggan yang justru memberikan feedback positif,” tulis pemilik UMKM tersebut dalam unggahan yang menyentuh hati banyak warganet. Pernyataan ini semakin memperkuat simpati publik terhadap nasib pelaku usaha kecil yang kerap kali menjadi pihak yang paling rentan dalam ekosistem bisnis digital.
Perdebatan Dua Kubu di Kalangan Warganet
Peristiwa ini memecah opini publik menjadi dua kubu yang saling berseberangan. Kubu pertama mengecam keras tindakan food vlogger tersebut. Mereka menilai bahwa sebagai publik figur dengan jutaan pengikut, sang vlogger seharusnya lebih sensitif dan bijak dalam menyampaikan pendapat. Kritik yang disampaikan secara terbuka tanpa mempertimbangkan konteks usaha kecil dianggap sebagai bentuk pelecehan terhadap perjuangan para pelaku UMKM yang seringkali memiliki modal terbatas dan belum memiliki daya tahan yang kuat terhadap badai opini negatif.
Di sisi lain, kubu kedua membela sang vlogger dengan argumen bahwa memberikan penilaian yang jujur dan apa adanya merupakan bagian integral dari profesi seorang pereviu kuliner. Mereka berpendapat bahwa konsumen berhak mengetahui kualitas produk secara objektif sebelum memutuskan untuk membeli. Dalam industri kuliner yang semakin kompetitif, ulasan yang transparan dianggap sebagai bentuk perlindungan terhadap hak-hak konsumen. Namun, kubu ini juga menekankan bahwa kritik seharusnya disampaikan dengan bahasa yang lebih santun dan konstruktif, bukan sekadar menjatuhkan.
Perdebatan ini menyoroti dilema yang sering dihadapi oleh para kreator konten di era digital: bagaimana menyeimbangkan antara kejujuran dalam memberikan ulasan dengan tanggung jawab sosial terhadap dampak yang mungkin ditimbulkan. Sebuah ulasan negatif memang merupakan kebebasan berekspresi, tetapi konsekuensinya bisa sangat nyata dan merugikan bagi pihak lain.
Etika Review dan Tanggung Jawab Kreator Konten
Kasus ini kembali membuka diskusi yang lebih luas mengenai pentingnya etika dalam pembuatan konten review, khususnya di ranah kuliner. Para pengamat media sosial menyoroti bahwa seorang food vlogger atau kreator konten seharusnya tidak hanya berfokus pada kekurangan sebuah produk, tetapi juga memberikan apresiasi terhadap usaha dan kerja keras yang telah dicurahkan oleh pelaku UMKM. Kritik yang membangun, yang disertai dengan saran perbaikan yang spesifik, akan jauh lebih bermanfaat bagi perkembangan bisnis dibandingkan dengan sekadar menyampaikan kekecewaan tanpa solusi.
Beberapa pakar komunikasi digital juga menyarankan agar para kreator konten lebih berhati-hati dalam memilih diksi dan mempertimbangkan secara matang dampak dari setiap kata yang mereka ucapkan di depan kamera. Pasalnya, satu video negatif yang viral dapat memiliki efek domino yang signifikan terhadap kelangsungan hidup sebuah bisnis kecil, termasuk nasib para karyawan yang menggantungkan hidupnya pada usaha tersebut. Diperlukan kesadaran kolektif bahwa di balik setiap produk yang direview, terdapat manusia dengan mimpi dan perjuangan yang layak dihormati.
Hingga berita ini diturunkan pada Rabu, 26 Agustus 2026, food vlogger yang bersangkutan belum memberikan tanggapan resmi terkait kontroversi yang melibatkan namanya. Sementara itu, dukungan terus mengalir untuk pemilik UMKM Dubai Chewy Cookie. Banyak warganet yang justru ramai-ramai membeli produk tersebut sebagai bentuk solidaritas dan pembuktian bahwa kualitas sebuah produk tidak bisa dinilai hanya dari satu sudut pandang. Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah derasnya arus informasi, publik tetap memiliki kekuatan untuk menentukan arah narasi dan memberikan dukungan nyata kepada pihak yang mereka anggap benar.








