Antre 1 Jam Demi Chicken Salted Egg Rp155 Ribu, Seenak Apa Sih?

Hadirkan kuliner viral chicken salted egg viral dari Singapura, festival kuliner ini langsung diantre banyak orang. Tapi seperti apa ya rasanya?

Antre 1 Jam Demi Chicken Salted Egg Rp155 Ribu, Seenak Apa Sih?

Fenomena Chicken Salted Egg Rp155 Ribu: Mengapa Ribuan Orang Rela Antre Satu Jam?

Jakarta, 23 Agustus 2026 – Dalam beberapa pekan terakhir, lini masa media sosial diramaikan oleh satu nama kuliner yang memicu rasa penasaran publik: chicken salted egg. Hidangan ayam goreng berbalut saus telur asin ini diklaim berasal dari Singapura dan berhasil menciptakan antrean panjang di sejumlah titik di Jakarta. Dengan banderol harga Rp155 ribu per porsi, pertanyaan yang muncul di benak banyak orang adalah: seenak apa sebenarnya hidangan ini hingga membuat orang rela mengorbankan waktu satu jam hanya untuk mengantre?

Fenomena ini bukan sekadar tren musiman. Para food vlogger, kreator konten TikTok, dan pengguna Instagram berlomba-lomba membagikan pengalaman mereka mencicipi menu tersebut. Video-video yang menampilkan momen ayam goreng renyah disiram saus telur asin yang kental dan meleleh berhasil mengumpulkan jutaan penonton. Tak jarang, dalam unggahan tersebut terlihat jelas antrean panjang yang mengular di depan gerai, lengkap dengan ekspresi penantian yang campur aduk antara lapar dan penasaran.

Asal Usul: Dari Negeri Singa ke Jakarta

Chicken salted egg yang sedang viral ini merupakan menu andalan dari sebuah restoran di Singapura. Restoran tersebut telah lama dikenal di kalangan pecinta kuliner lokal sebagai tempat yang menyajikan ayam goreng dengan tekstur super renyah, dilumuri saus telur asin yang gurih, creamy, dan sedikit pedas. Resep sausnya diracik dengan kuning telur asin yang dihaluskan, dicampur dengan mentega, cabai, dan rempah-rempah rahasia, menghasilkan cita rasa yang kaya dan sulit ditemukan di tempat lain.

Namun, yang menarik adalah antrean panjang yang terjadi justru bukan di Singapura, melainkan di Jakarta. Hal ini dipicu oleh kemunculan beberapa gerai atau tenant di pusat perbelanjaan ibu kota yang menjual menu serupa dengan resep yang diklaim mirip dengan versi aslinya. Sebagian pengusaha lokal melihat peluang ini dan menghadirkan adaptasi dari hidangan tersebut, lengkap dengan presentasi yang sama menggugah selera. Meski demikian, banyak pula pengunjung yang mengaku tetap penasaran dengan rasa orisinal dari Singapura, sehingga mereka rela terbang atau memesan melalui jasa titip (jastip) demi merasakan langsung versi autentiknya.

Perdebatan pun muncul di kolom komentar: apakah versi lokal di Jakarta sudah menyaingi rasa aslinya, atau justru hanya sekadar tiruan yang tidak sepadan dengan harganya? Pertanyaan ini semakin memanaskan popularitas hidangan tersebut di dunia maya.

Rincian Harga dan Isi Porsi

Untuk satu porsi chicken salted egg, konsumen harus merogoh kocek sebesar Rp155 ribu. Angka ini terbilang cukup tinggi jika dibandingkan dengan menu ayam goreng pada umumnya yang bisa ditemukan dengan harga di bawah Rp50 ribu. Namun, para pengunjung yang sudah mencobanya mengaku bahwa harga tersebut sebanding dengan porsi dan kualitas rasa yang ditawarkan.

Dalam satu porsi, pembeli akan mendapatkan beberapa potong ayam goreng berukuran besar yang dilumuri saus telur asin secara merata. Ayam tersebut disajikan di atas nasi putih hangat, dilengkapi dengan lauk pendamping seperti sayuran segar, irisan timun, dan acar bawang merah. Beberapa gerai juga menambahkan telur mata sapi atau sambal sebagai pelengkap. Porsinya terbilang mengenyangkan untuk satu orang dewasa, bahkan sebagian orang mengaku bisa berbagi dengan teman karena rasa sausnya yang pekat dan kaya.

Dari sisi bahan baku, penggunaan telur asin asli memberikan perbedaan signifikan dibandingkan saus instan. Tekstur sausnya cenderung kasar butiran karena mengandung kuning telur asli, dan rasanya lebih kompleks—asin, gurih, dengan sedikit rasa manis dari karamelisasi mentega. Hal inilah yang menjadi pembeda utama dan alasan mengapa banyak orang merasa uang yang dikeluarkan tidak sia-sia.

Psikologi di Balik Antrean Panjang

Fenomena mengantre satu jam demi sebuah menu bukanlah hal baru di dunia kuliner, namun chicken salted egg ini berhasil memicu respons yang lebih masif. Ada beberapa faktor yang menjelaskan mengapa orang rela melakukan hal tersebut.

Pertama, faktor rasa penasaran. Ketika sebuah hidangan menjadi viral dan dibicarakan di mana-mana, muncul dorongan psikologis untuk membuktikan sendiri kebenarannya. Apakah benar sausnya se-creamy itu? Apakah benar ayamnya serenyah itu? Rasa penasaran ini sering kali mengalahkan pertimbangan rasional tentang waktu dan biaya.

Kedua, faktor fear of missing out (FOMO). Di era media sosial, pengalaman kuliner sering kali menjadi simbol status. Mengunggah foto atau video saat menikmati chicken salted egg yang sedang hype memberikan kepuasan tersendiri dan mengundang interaksi dari pengikut. Semakin banyak orang yang mengunggah momen tersebut, semakin tinggi pula tekanan sosial bagi yang lain untuk ikut merasakannya.

Ketiga, faktor kualitas rasa yang memang terbukti. Berbeda dengan tren kuliner yang hanya mengandalkan kemasan visual, sebagian besar pengunjung yang sudah mencoba mengaku puas dengan hasilnya. Tekstur ayam yang garing di luar dan lembut di dalam, dipadukan dengan saus telur asin yang meresap sempurna ke dalam serat daging, menciptakan harmoni rasa yang sulit ditolak. Perpaduan antara rasa asin yang gurih, creamy, dan sedikit pedas memberikan pengalaman bersantap yang memuaskan.

Bagi sebagian orang, mengantre satu jam bukanlah sebuah pengorbanan, melainkan bagian dari ritual menikmati kuliner. Mereka menganggap waktu tersebut sebagai investasi untuk mendapatkan pengalaman yang tidak bisa didapatkan di tempat lain, apalagi untuk mencicipi cita rasa yang berasal dari negeri tetangga.

Fenomena yang Diprediksi Akan Terus Berlanjut

Meskipun tren kuliner biasanya bersifat musiman, chicken salted egg ini diprediksi akan bertahan lebih lama karena beberapa alasan. Pertama, rasa telur asin merupakan profil rasa yang sudah akrab di lidah masyarakat Indonesia, terutama dalam hidangan seperti nasi goreng telur asin atau udang saus telur asin. Kedua, variasi menu yang terus berkembang—beberapa gerai mulai menawarkan versi dengan tambahan keju mozzarella, saus sambal matah, atau bahkan daging sapi—membuat konsumen tidak mudah bosan.

Para pelaku industri kuliner pun mulai melirik peluang ini. Beberapa restoran lokal di luar Jakarta, seperti Bandung, Surabaya, dan Medan, mulai mengadaptasi menu serupa dengan harga yang lebih bervariasi. Hal ini semakin memperluas jangkauan penggemar chicken salted egg dan memastikan bahwa fenomena ini tidak hanya berhenti di ibu kota.

Bagi mereka yang belum sempat mencicipi, pertanyaan tentang sepadan atau tidaknya harga Rp155 ribu dengan satu jam waktu mengantre mungkin akan terus menggantung. Namun, satu hal yang pasti: fenomena ini telah berhasil membuktikan bahwa kuliner memiliki kekuatan untuk menyatukan orang, memicu percakapan, dan menciptakan pengalaman yang tak terlupakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

A+ A-
Kuliner Jawa

Live Search